‘Physical Distancing’ dan Sejarah ‘Black Death’

MEMBURUKNYA wabah virus Corona mengharuskan pemerintah mengambil sikap. Presiden Joko Widodo, menyarankan setiap individu untuk menerapkan social distancing guna menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia.

‘Social distancing’ merupakan upaya membatasi gerak gerik setiap orang. Terutama berkunjung ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain.

Kendati demikian, dalam laman resminya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memakai istilah physical distancing. Physical distancing artinya menjaga jarak fisik antar manusia, sehingga yang dihindari bukan kerumunan saja.

WHO menganjurkan penggantian penggunaan frasa social distancing menjadi physical distanding. WHO berdalih penggunaan frasa ini untuk mengklarifikasi perintah untuk berdiam diri di rumah demi mencegah virus Corona, bukan berarti kita memutus kontak dengan teman atau keluarga secara sosial.

Dengan penggunaan frasa physical distancing, diharapkan imbauan yang dikeluarkan WHO lebih jelas. Yakni menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis untuk respons Covid-19 sekaligus kepala unit penyakit dan zoonosis di WHO seperti dikutip kompas.com, mangatakan, saat ini hal yang bisa dilakukan untuk menghindari diri dari virus Corona adalah tidak berada di kerumunan atau tempat ramai.

Himbauan dan larangan terkait penyebaran virus Corona, sepertinya mengingatkan kita akan sejarah masa lalu yang kelam terkait peristiwa serupa yang pernah terjadi.

Jika kita pernah membaca tentang sejarah wabah virus pes bubo atau sampar yang disebabkan bakteri Pestis Yersinia, kondisi serupa juga terjadi. Disana kita akan menemukan peran dari sebuah tampat tinggal atau rumah.

Bakteri Pestis Yersinia, pernah membunuh ratusan ribu jiwa di dunia, karena kelalaian dan minimnya pengetahuan manusia. Catatan sejarah menyebutkan tahun 1911-1926, rakyat Indonesia juga terjangkit wabah mematikan ini.

Wabah yang bersumber dari virus yang dibawa oleh kutu  yang menempel pada tikus itu menelan koran 120.000 jiwa. Sebuah angka yang cukup menakutkan. Sebagian besar korban berasal dari Jawa Tengah. Namun, wabah pertama kali terjadi di Malang, Jawa Timur dan kemudian merembet ke seluruh Pulau Jawa kala itu.

Tidak banyak masyarakat yang memahami wabah tersebut. Rakyat banyak yang berpasrah diri bahkan alternatif yang dilakukan adalah mengandalkan orang pintar (dukun). Tentu hasilnya nihil, dukun tak mampu mencegah virus.

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda, kemudian menjalankan program pembongkaran hampir sejuta rumah. Rumah dibongkar di bagian atap, dinding anyaman, dan menutup lubang bambu tempat tikus bersembunyi.

Gerak cepat pemerintah kolonial dalam menangani Pes,  tidak terlepas dari pengalaman tragis orang-orang Eropa yang terjangkit wabah serupa pada abad ke-14.

Situs berita Historia mencatat, wabah Pes telah membunuh sekitar 60 persen populasi di Eropa pada waktu itu. Eropa juga tak berdaya. Pengobatan berdasarkan mantra spiritual untuk menghadapi Pes  tidak hanya dilakukan di Indonesia.

Orang-orang Eropa di London bahkan menggunakan jimat. Saat itu, mereka berupaya menelusuri sumber dari penyakit mematikan ini. Sebelumnya, para penduduk menggunakan lintah untuk menyedot keluar darah kotor dari tubuh. Sebagian lagi memakai spons yang dibasahi dengan cuka.

Apa jadinya? Hasilnya tetap nihil. Peristiwa itu dikenal dengan Maut Hitam (Black Death) yang terjadi antara tahun 1347-1351. Wabah pes menjadi salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah umat manusia dengan korban 75 juta hingga 200 juta jiwa.

Setelah ditelusuri secara ilmiah, terungkaplah masalahnya. Ternyata semua sumber itu ada di sekeliling mereka. Di rumah,  fasilitas sanitasi yang jadi sarang tikus got untuk berkembang biak dan berkeliaran.

Tikus menjadi vektor membawa kutu yang ditunggangi bakteri Pestis Yersinia.  Akibat gigitan kutu pada manusia inilah penyakit pes bubo atau sampar menjadi wabah mematikan.

Saat ini kita dihadapkan dengan wabah virus corona (COVID-19), setidaknya banyak cara dan petunjuk yang sudah kita peroleh dengan mudah. Tidak ada tindakan semacam membongkar rumah, apalagi menggunakan dukun, karena mereka yang berjasa seperti dokter dan tenaga medis pun diberitakan kini terpapar bahkan ada yang meninggal dunia.

Kita hanya diminta tetap di rumah, menerapkan pola hidup sehat,  menjaga jarak dengan tidak melakukan kontak fisik dengan sesama. Semua upaya ini harus dilakukan untuk kemenangan dalam pereng melawan virus Corona (COVID-19) yang kini terus menghantui.

Saat ini dan nanti,  mungkin makna dari penggalan lirik lagu band legendaris God Bless “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada di sini. Rumah kita,” patut dijadikan sebagai spirit melawan wabah menakutkan ini. (***)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire