SBT, Sepenggal Surga “Berbalut Kosmopolitanisme”

SBT, Sepenggal Surga “Berbalut Kosmopolitanisme”

MEDIO Desember 2016 silam, kami sempat berada di atas langit Pulau Seram. Cuaca cerah dengan pemandangan rimba pulau berjuluk “Nusa Ina” itu seakan menjadi magnet bagi setiap mata yang berada di ketinggian.

Berada di atas lagit menikmati lebatnya hutan Nusa Ina, bukanlah sebuah kebetulan. Kami dan beberapa teman sedang melakukan perjalanan menuju ke Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Menumpangi pesawat jenis ATR -72 milik maskapai penerbagan Trigana Air, sungguh sebuah kemajuan yang cukup mencolok bagi SBT. Trigana Air pun mengintari hutan bagian selatan Nusa Ina, hingga mendarat dengan mulus di Bandara Kufar, sebuah kawasan lebat pepohonan di Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten SBT yang kemudian disulap menjadi bandara, pintu masuk daerah itu.

Empu dari kemajuan itu tentunya tak lain anak daerah sendiri. Dia yang meletakkan pondasi pembangunan di SBT. Cerita heroiknya cukup nyata terlihat. Mungkin menjadi sebuah keharusan bila sosok bernama Abdullah Vanath (AV) diberi reward (penghargaan).

Banyak yang tidak mengetahui seperti apa mega proyek Bandara Kufar itu dibangun. Tapi beritabeta.com sempat menangkap sebuah kisah nekat, sang mantan Bupati SBT melakukan manuver yang akhirnya membuahkan hasil dan dinikmati masyarakat SBT saat ini. “Bagian ini tidak perlu diekspose, biarkan ini menjadi amal bagi kami sebagai pemimpin daerah ini,” itulah yang diingatkan AV saat menceritakan perjuangan mewujudkan pembangunan Bandara Kufar.

Orang mungkin tidak terlalu familiar dengan kemajuan yang terjadi di daerah berjuluk Ita Wotu Nusa, itu. Ya,,, SBT hanyalah sepenggal wilayah di ujung Nusa Ina yang kemudian mekar menjadi daerah otonom baru pada November 2003 silam. Namun sesungguhnya, Nusantara yang digambarkan dalam lirik lagu Koes Plus sebagai surga, sepenggalnya adalah negeri ini. Benar nian, disini hamparan tanahnya bisa mengubah “tongkat dan batu jadi tanaman”.

SBT sesungguhnya telah bermetamorfosis cukup jauh. Berawal dari rimba yang lebat, kini menjadi kawasan sentra dari segala potensi yang terkandung di dalamnya. Sebuah kondisi yang berbeda telah terjadi di sana. Delapan tahun silam, kami sempat tertahan di tangah hutan, ketika harus melintasi akses jalan berliku dari Kota Ambon menuju ke Ibukota Bula.

Kendaraan roda empat yang kami tumpangi harus tertahan akibat, tak mampu menyebrangi arus air sungai yang mengganas. Waktu tempuh pun cukup lama. Jika lagi apes belasan hingga puluhan jam baru bisa berada di kota penghasil minyak itu.

Kendala akses transportasi ini, ternyata telah menjadi perhatian serius di masa pemerintahan Bupati Abdullah Vanath. Kini masa-masa sulit itu telah berlalu. Setidaknya, SBT kekinian sudah tersedia tiga akses transportasi yang cukup menyenangkan. Laut, udara dan darat menjadi pilihan bagi warga SBT. Sungguh tak bisa disangkal, kemajuan itu bukan datang begitu saja. Jika harus mengakui, maka keberhasilan merubah image keterisolasian dan ketertinggalan ini, adalah murni hasil karya anak negeri Ita Wotu Nusa.

Kemajuan ini, juga harus diakui karena adanya sebuah ideologi Kosmopolitanisme telah terbentuk dan mengakar di sana. Paling tidak itulah yang kami rasakan. Kosmopolitanisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa semua suku bangsa manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas yang sama.

Moralitas membangun, mengasah dan mengasuh. Itulah kekuatan yang telah ditanamkan di awal pemerintahan kabupaten hasil pemekaran dari induknya Maluku Tengah. Maka tak heran di SBT ada ragam suku yang berdiam dan menjadi motor penggerak pembangunan daerah penuh pesona itu. SBT, kini dan nanti adalah sebuah harapan. Meski rezim pemerintahan telah berganti, namun semangat membangun telah menjadi sebuah kultur yang telah tertanam.

Siapa sangka, sepenggal “tanah surga” itu makin berkilau? Ini semua karena mimpi besar para pencetusnya. Meski budaya “keras” selalu mewarnai karakter setiap pengghuninya pada momentum-memontum tertentu, namun kokohnya budaya sosial, adat dan historis warisan leluhur, masih tetap terjaga dengan apik.

SBT makin tumbuh menjadi daerah dengan sejuta harapan. Ada 15 kecamatan dengan ratusan desa yang berderet, membentang dan berkembang disana. Inilah metamorfosis yang paripurna, setelah SBT dimekarkan dengan UU nomor 40 tahun 2003.

Kali ini ada kabar baik dari teman dan saudara kami disana, hari ini Bupati SBT Mukti Keliobas (MK) telah melakukan sebuah perjalanan dinas menyusuri hutan dan melewati ruas jalan Bula-Werinama. Sebuah akses jalan yang dibuka pada masa kepemimpinan mantan Bupati SBT Abdullah Vanath. Kunjungan Bupati MK menjadi sebuah harapan bagi warga di Kecamatan Werinama dan Siwalalat, agar sebagian besar ruas jalan yang belum teraspal itu dapat menjadi perhatian Bupati MK.

Paling tidak sang bupati sudah melewati jalan ini, merasakan bekas derap langkah warga di dua kecamatan itu. Merasakan sulitnya kendaraan melintasi ruas jalan karena terhalang lumpur dan tanah rimba Seram yang tak mau bersahaja. “Jika pemimpin sudah merasakan denyut nadi warganya, pastinya akan datang sebuah panggilan hati untuk menutupi kerisauan itu,”

Bagi kami, penghuni sejati tanah Ita Wotu Nusa, terasa tak mungkin untuk mendustakan semua rahmat yang Allah limpahkan kepada daerah ini. Mereka beruntung kerana memiliki seorang pemimpin sekaligus pembuka jalan pembangunan seperti Abdullah Vanath, dan juga memiliki seorang pemimpin berhati tulus dan peduli dengan rakyatnya seperti Mukti Keliobas.

Maka layaknya penghuni SBT patut mengajak kedua sosok pemimpin ini untuk bersatu ketimbang berseteru, agar kedepan kemajuan SBT akan lebih baik lagi. Moga di usia 15 tahun ini, Kabupaten SBT makin menjadi terdepan dengan sejuta potensi yang terkandung. Dirgahayu Negeri Ita Wotu Nusa (***)

 

Close Menu