Kenali Perbedaan Gejala Serangan Virus Corona dan Flu Biasa

Ilustrasi

BERITABETA.COM – Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) disebut bertambah menjadi 686 orang pada Selasa (24/03/2020).  Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 55 orang, dengan jumlah yang sembuh 30 orang.

Kasus penyebaran virus mematikan ini terus terus meningkat tiap hari, begitu pula dengan angka kematian. Meski pemerintah meminta rakyat untuk tetap tenang dan tidak panik, namun diperlukan tindakan mawas diri.

Terutama dengan memenuhi anjuran dan himbauan yang telah disebarkan oleh pemerintah. Namun, yang lebih penting adalah dengan mengenali gejala virus corona yang hampir mirip dengan flu biasa.

Sebagian besar kasus COVID-19 ini ditemukan gejala yang mirip dengan flu biasa. Baik flu maupun corona, keduanya sama-sama disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan.

Tak heran bila banyak orang bingung membedakan gejala virus corona dan flu biasa. Gejala uatama serangan virus corona berupa batuk, nyeri otot, demam dan suhu tubuh mencapai 38 derajat celcius.

Namun yang membedakan keduanya adalah, flu biasa tidak akan menyebabkan sesak napas sebagaimana halnya virus corona.  COVID-19 bukanlah flu, meski gejalanya mirip. Flu memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19. Namun, COVID-19 lebih cenderung menyebabkan sesak napas dan gejala pernapasan lainnya.

Jika gejala virus Corona bisa muncul mulai 2 sampai 14 hari, gejala flu biasa cenderung lebih cepat muncul yaitu antara 1 sampai 3 hari. Flu disebabkan oleh virus influenza. Ada virus influenza tipe A, B, dan C yang menyebabkan flu.

Virus tipe A dan B menyebabkan wabah musiman yang besar. Tipe C biasanya menyebabkan gejala pernapasan yang lebih ringan. Walaupun vaksin flu dapat membantu melindungi seseorang dari tipe A dan B, tidak ada imunisasi untuk virus tipe C.

BACA JUGA:  Ilmuwan Sebut Kucing Paling Rentan Terinfeksi Covid-19

Dalam situsnya, organisasi kesehatan dunia WHO menyebut gangguan saluran pernapasan sebagai salah satu simtom virus corona. Pada kasus yang lebih parah, infeksi virus corona dapat menyebabkan pneumonia atau lebih dikenal sebagai paru-paru basah.

Tidak menutup kemungkinan pula terjadi gangguan pada organ lain, seperti gagal ginjal yang bisa berujung kematian. Ringan atau berat gejalanya bisa bergantung pada riwayat penyakit yang sudah dimiliki pasien. Mereka yang memiliki sejarah penyakit hipertensi, diabetes atau jantung, berpotensi mengalami gejala yang lebih buruk.

Virus yang bermula dari China ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui cairan tubuh dari batuk atau bersin, sentuhan, atau berjabat tangan. Tanda terinfeksi corona diperkirakan baru akan muncul antara dua hingga sebelas hari.

Penelitian terbaru dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health memperkirakan periode rata-rata masa inkubasi virus corona yang menyebabkan COVID-19 pada manusia terjadi selama lima hari setelah terpapar.

Analisis menunjukkan bahwa sekitar 97,5 persen orang yang mengalami gejala virus corona bisa dinyatakan positif dalam 11,5 hari setelah terpapar. Selain itu, para peneliti memperkirakan setiap 10 ribu orang yang dikarantina selama 14 hari, hanya sekitar 101 orang yang akan mengalami gejala setelah dilepaskan dari karantina.

Terpapar atau tidaknya dapat diketahui lewat tes kesehatan. Walau awalnya tidak semua orang bisa melakukan tes tersebut. Sebagai langkah utama untuk mencegah penularan, sering-seringlah mencuci tangan.

Durasi cuci yang disarankan oleh WHO adalah sama seperti menyanyikan “Happy Birthday” dua kali. Pemakaian hand sanitizer bisa menjadi opsi bila tak memungkinkan untuk cuci tangan.

Tak kalah penting, lakukan social distancing atau pembatasan sosial secara disiplin untuk meminimalisir risiko penularan baik terhadap diri sendiri maupun orang sekitar (BB-IS)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire