Mengenal Bekam, Terapi Zaman Kuno dan Khasiatnya

Terapi Bekam

BERITABETA.COM – Bekam, terapi ini merupakan salah satu pengobatan alternatif tertua yang pernah ada dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Dikutip dari wikipedia.org dijelaskan, bekam sudah dikenal sejak zaman dulu. Pada masa kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, Mesir kuno, Saba, dan Persia.

Di zaman China kuno mereka menyebut hijamah sebagai “perawatan tanduk” karena tanduk menggantikan kaca. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah sebagai alat untuk hijamah.

Seorang herbalis Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A Handbook of Prescriptions for Emergencies menggunakan tanduk hewan untuk membekam/mengeluarkan bisul yang disebut tehnik “jiaofa”. Sedangkan pada masa Dinasti Tang, bekam dipakai untuk mengobati TBC paru-paru.

Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah (al ‘alaq) sebagai alat untuk bekam dan dikenal dengan istilah leech therapy, praktik seperti ini masih dilakukan sampai dengan sekarang.

Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan efektif.

Curtis N, J (2005), dalam artikel Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Journal of Urology 2005, bahwa catatan kedokteran tertua Ebers Papyrus yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di Mesir kuno menyebutkan masalah bekam. Cara ini juga sering digunakan oleh orang Romawi, Yunani, Byzantium dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan khasiatnya.

Ternyata, sejumlah nama terkenal seperti artis Jennifer Anniston, Gwyneth Paltrow, Busy Phillips, Victoria Beckham, sampai petenis Andy Murray juga melakukan terapi bekam.

Bekam sendiri merupakan praktik yang digunakan dalam pengobatan tradisional. Pengobatan ini sudah ada selama ribuan tahun lalu dan katanya efektif untuk meringankan rasa sakit serta nyeri otot.

Menariknya, seribu tahun yang lalu cawan yang digunakan untuk bekam terbuat dari tanduk binatang, bambu, atau tanah liat.

Pengobatan alternatif ini dilakukan pada bagian tubuh mana pun yang terasa sakit. Namun, bagian punggung, leher, dan bahu merupakan tempat-tempat yang paling sering dilakukan terapi bekam. Berdasarkan prosesnya, pengobatan alternatif ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Bakam Kering

Menurut Ann Michele Casco, L.AC., seorang praktisi pengobatan tradisional Cina sekaligus ahli akupuntur, teknik bekam klasik disebut ba guan zi, yaitu bekam api atau bekam kering.

Secara umum, baik bekam kering maupun basah dilakukan menggunakan cawan kecil yang ditempatkan di atas titik ashi (daerah yang bermasalah) atau titik akupunktur. Sebelumnya diletakkan di permukaan kulit, cawan akan dipanaskan terlebih dahulu.

Proses pemanasan ini dilakukan dengan memasukan zat yang mudah terbakar, seperti alkohol, ramuan herbal, atau kertas tertentu ke dalam cawan dan kemudian membakarnya dengan api.

Ketika api mulai mengecil dan akhirnya mati, terapis akan langsung menempel cawan secara terbalik di atas permukaan kulit. Cawan akan dibiarkan menempel di permukaan kulit selama dua hingga menit.

Nantinya, udara di dalam cawan yang berangsur-angsur mendingin akan menciptakan ruang hampa yang menarik kulit dan otot ke atas, ke dalam cawan. Kulit yang tersedot ini akan memerah karena pembuluh darah Anda merespon perubahan tekanan.

Supaya cawan bisa dengan mudah terlepas, terapis biasanya akan mengoleskan minyak pijat atau krim. Setelah itu, terapis akan menempelkan cawan silikon dan menggesernya ke seluruh tubuh secara berrirama untuk menciptakan efek seperti pijatan.

Selama pengobatan berlangsung, terapis mungkin akan meletakkan tiga sampai tujuh cawan di atas permukaan kulit Anda.

Bekam Basah

Variasi bekam yang lebih modern menggunakan pompa karet. Beberapa penelitian klinis dari Cina menunjukkan bahwa inovasi dalam teknologi bekam satu ini dinilai lebih nyaman untuk pasien.

Bekam basah dilakukan dengan menusuk atau membuat sayatan kecil pada kulit bekas bekam. Setelah itu, cawan kembali ditempatkan di atas permukaan kulit yang ditusuk atau disayat tersebut untuk mengeluarkan sejumlah darah.

Darah yang keluar nantinya akan ditampung dalam cangkir cawan. Konon katanya, darah yang keluar dari tusukan selama prosedur ini, dianggap sebagai darah kotor.

Setelah cawan dilepas, terapis biasanya akan memberikan salep antibiotik dan menutupi daerah bekas bekam dengan perban. Hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi.

Entah itu bekam kering maupun basah, keduanya sama-sama akan menimbulkan memar berwarna kemerahan atau keunguan di kulit. Memar ini bersifat sementara dan umumnya akan hilang dalam kurun waktu 10 hari setelah terapi.

Khasiat Terapi Bekam

Mengutip pernyataan Kenneth Johnson, PT, direktur layanan terapi rawat jalan di Johns Hopkins Medicines dalam laman Prevention, dua alasan utama pengobatan alternatif ini dilakukan adalah untuk mengurangi rasa sakit dan membantu meningkatkan jangkauan gerak pasien.

Beberapa ahli lain yang mendukung terapi ini percaya bahwa  bekam dapat membantu meningkatkan aliran darah, mengendurkan fasia atau jaringan ikat, dan juga menghilangkan zat serta racun berbahaya dari tubuh untuk mempercepat proses penyembuhan.

Dari segi pengobatan Cina, aliran chi, alias kekuatan hidup dan darah yang stagnan dapat menyebabkan rasa sakit dan penyakit. Nah, pengobatan alternatif inilah yang membantu memperlancar sirkulasi chi dan darah di daerah yang bermasalah.

Dengan menarik darah kotor ke permukaan kulit, maka bekam membantu menghilangkan zat serta racun berbahaya dari tubuh. Alhasil, segala rasa sakit dan nyeri yang dialami oleh penderita bisa segera membaik.

Sementara dari prespektif fisikologi Barat, bekam dapat membantu melonggarkan jaringan ikat atau fasia serta merangsang aliran darah ke permukaan. Pengobatan alternatif ini juga membantu merelaksasi jaringan dan sel-sel di dalam tubuh.

Mengutip dari laman Medicine Net, seorang fisiologist dan akupunkturist asal Amerika Serikat Helene Langevin berhasil mendokumentasikan perubahan tingkat sel menggunakan kamera ultrasonik.

Berdasarkan hasil pengamatannya diketahui bahwa pengobatan alternatif seperti bekam, akupunktur, dan pijat dapat membantu mengendurkan jaringan yang menegang dan mengurangi tanda-tanda peradangan.

Hal ini terjadi karena senyawa sitokin (pembawa pesan kimiawi) radang dalam tubuh berkurang. Namun, sitokin yang meningkatkan penyembuhan dan relaksasi justru meningkat. Selain itu, pengobatan alternatif ini juga bisa membantu meningkatkan kesehatan mental dan relaksasi fisik.

Satu laporan yang diterbitkan dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine mencatat bahwa terapi ini dapat membantu mengatasi jerawat, herpes zoster, dan pereda nyeri. Hal senada juga temukan dari sebuah laporan pada tahun 2012 yang diterbitkan dalam jurnal PloS One.

Peneliti asal Australia dan Cina mengkaji 135 studi yang membahasa tentang pengobatan alternatif ini antara tahun 1992 sampai 2010. Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa bekam mungkin efektif ketika digabungkan dengan pengobatan lain, seperti akunpunktur atau obat-obatan medis untuk mengatasi berbagai penyakit dan kondisi, seperti: Herpes zoster, jerawat, batuk, dispenia,  hernial lumbal,  spondylosis serviks,  kekakuan wajah.

Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan, British Cupping Society juga mengklaim bahwa terapi bekam dapat membantu mengobati:

  1. Gangguan darah, seperti anemia dan hemofilia
  2. Penyakit rematik, seperti arthritis dan fibromyalgia
  3. Kesuburan dan gangguan yang berhubungan dengan ginekologi (kandungan)
  4. Masalah kulit, seperti eksim dan jerawat
  5. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  6. Migrain
  7. Kecemasan dan depresi
  8. Penyumbatan bronkial yang disebabkan alergi dan asma
  9. Pelebaran pembuluh darah (varises) (BB-DIO-HD)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire