Mengenal Hidrosefalus, Penyakit yang Diidap Bayi Adzra Ni’mat Assagaff

Perbedaan antara bayi normal dengan bayi yang mengidap hidrosefalus
Perbedaan antara bayi normal dengan bayi yang mengidap hidrosefalus

BERITABETA.COM – Bayi Adzra Ni’mat Assagaff asal Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sepekan ini menjadi perhatian publik di Maluku lantaran penyakit Hidrosefalus yang diidapnya.

Kondisi bayi Adzra membuat prihatin dari istri Gubernur Maluku yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail. Widya pun mengunjungi Adzra Ni’mat Assagaff, Senin (3/8/2020).

Lalu apa itu penyakit hidrosefalus?

Hidrosefalus adalah kondisi yang ditandai oleh ukuran kepala bayi yang membesar secara tidak normal. Mengutip dari American Association of Neurological Surgeons, kondisi ini bisa terjadi akibat adanya penumpukan cairan di dalam rongga ventrikel otak.

Jadi, bisa dikatakan bahwa hidrosefalus adalah penumpukan cairan serebrospinal pada rongga otak (ventrikel) sehingga menyebabkan otak membengkak.

Normalnya, cairan serebrospinal ini akan mengalir melalui otak dan sumsum tulang belakang lalu diserap oleh pembuluh darah. Sayangnya, tekanan pada cairan serebrospinal yang terlalu banyak ini dapat merusak jaringan otak sehingga menyebabkan berbagai masalah terkait fungsi otak.

Hampir semua bagian tubuh anak akan terkena dampak dari hidrosefalus, mulai dari gangguan tumbuh kembang hingga penurunan kecerdasan anak.

Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan kesehatan lainnya pada penderita, khususnya anak-anak.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Hidrosefalus umumnya dialami oleh bayi yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor pendukung. Adanya infeksi pada rahim selama masa kehamilan dapat menjadi penyebab peradangan pada jaringan otak janin.

Selain itu, infeksi sistem saraf pusat serta lesi atau tumor pada otak dan sumsum tulang belakang pada bayi juga bisa membuatnya mengalami meningitis. Meski kebanyakan dialami oleh bayi, hidrosefalus adalah kondisi yang bisa dialami pada usia berapa pun.

BACA JUGA:  Mengenal Gangguan Prostat, Penyakit Kaum Pria dan Gejalanya

Selain bayi, kondisi ini juga banyak dialami oleh orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun. Namun, jangan khawatir kondisi ini dapat dikurangi risiko bayi yang terserang penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang dimilikinya. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.

Tanda dan Gejala

Hidrosefalus dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada otak dan rongga kepala anak. Itu sebabnya, penting untuk mengenali tanda dan gejala apa saja yang mungkin terjadi bila anak Anda mengalami kondisi ini agar bisa sesegera mungkin mencari pertolongan medis.

Gejala hidrosefalus pada anak yang paling umum adalah pembesaran ukuran kepala dari ukuran normal. Akan tetapi, gejala kondisi ini pada anak cenderung berbeda-beda, tergantung dari usianya.

Berbagai gejala hidrosefalus pada bayi baru lahir atau anak usia kurang dari satu tahun, yakni:

  • Muncul benjolan lunak tidak normal di bagian atas kepala (fontanel)
  • Perubahan cepat lingkar kepala
  • Ukuran besar kepala tidak normal
  • Pandangan mata ke bawah
  • Mudah rewel
  • Menolak makan
  • Mudah mengantuk
  • Otot melemah
  • Pertumbuhan terhambat

Gejala hidrosefalus pada anak-anak

Hidrosefalus juga dapat dialami oleh anak-anak usia 1 sampai 5 tahun alias usia pra sekolah. Selain ditandai dengan pembesaran ukuran kepala, gejala hidrosefalus pada anak usia 1 sampai 5 tahun yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Sakit kepala
  • Menangis sebentar tapi suaranya meninggi
  • Mata juling
  • Penglihatan kabur atau mata juling
  • Perubahan struktur wajah
  • Pertumbuhan terhambat
  • Mudah mengantuk
  • Susah makan
  • Keseimbangan tubuh tidak stabil
  • Kehilangan koordinasi otot
  • Mudah marah
  • Kemampuan kognitif terganggu
  • Kejang otot
  • Mual dan muntah
  • Sulit berkonsentrasi

Jika melihat si kecil memiliki tanda-tanda di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan bayi.

BACA JUGA:  Suka Ngopi? Ini Efek Positif – Negatif dan Dosis yang Dianjurkan

Berdasarkan Mayo Clinic, berikut tanda dan gejala yang menganjurkan Anda untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter:

  • Sering berteriak dengan nada tinggi
  • Mengalami masalah dengan mengisap dan menyusu ASI
  • Muntah berulang kali
  • Sulit untuk berbaring dan menggerakkan kepala
  • Sulit bernapas dengan lancar
  • Tubuh kejang-kejang

Munculnya satu atau lebih tanda tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele karena berisiko mengarah pada hidrosefalus. Maka itu, penting untuk mendapatkan diagnosis beserta perawatan yang tepat dan cepat.

Penyebab

Otak normalnya mengandung cairan bening yang diproduksi dalam rongga ventrikel. Cairan ini disebut dengan cairan serebrospinal. Cairan serebrospinal seharusnya mengalir dari sumsum tulang belakang ke seluruh otak untuk menunjang berbagai fungsi otak. Fungsi cairan serebrospinal dalam jumlah yang normal adalah sebagai berikut:

  • Menjaga otak tetap segar.
  • Melindungi sekaligus mencegah cedera pada otak.
  • Menghilangkan sisa produk metabolisme pada otak.
  • Mengalir di sepanjang rongga otak dan tulang belakang guna menjaga tekanan di dalam otak.

Namun ketika jumlah cairan serebrospinal ini berlebihan justru akan mengakibatkan kerusakan permanen jaringan otak yang menyebabkan terganggunya perkembangan fisik dan intelektual anak.

Pembesaran ukuran kepala terjadi karena jumlah produksi cairan serebrospinal berlebih sehingga menekan tengkorak. Kondisi ini juga terjadi karena cairan serebrospinalnya tidak dapat mengalir dengan baik di dalam otak.

Sebagian besar kasus hidrosefalus pada anak terjadi sejak lahir (cacat lahir bawaan/kelainan kongenital).

Dalam kondisi tertentu, cairan cerebrospinal dalam otak dapat meningkat karena berbagai hal, di antaranya:

  1. Sumbatan di otak atau sumsum tulang belakang.
  2. Pembuluh darah tidak mampu menyerap cairan serebrospinal.
  3. Otak menghasilkan cairan serebrospinal yang terlalu banyak sehingga tidak mampu diserap sepenuhnya oleh pembuluh darah (BB-DIP)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire