Profesor Italia Sebut Virus Corona Mulai Jinak, Bagaimana di Indonesia?

Ilustrasi Penyebaran Virus Corona
Ilustrasi Penyebaran Virus Corona

BERITABETA.COM – Kepala Klinik Penyakit Menular Rumah Sakit Policlinico San Martino, Italia, Profesor Matteo Bassetti menyebut virus corona (Covid-19) saat ini mulai kehilangan kekuatannya atau keganasannya.

Hal itu terjadi sejak Mei dan pasien yang sebelumnya sempat sekarat kini telah sembuh. Turunnya kasus Covid-19 bisa berarti vaksin tak lagi diperlukan karena virus mungkin tak pernah kembali lagi, kata dia seperti dilansir dari The Telegraph.

Pendapat  Bassetti ini muncul setelah Menteri Kesehatan mengumumkan kesepakatan yang telah dicapai antara perusahaan farmasi AstraZeneca dan Universitas Oxford untuk mulai memproduksi vaksin potensial untuk mengobati pasien Covid-19.

“Kesan klinis yang saya temui, tingkat keganasan virus ini berubah,” kata Bassetti.

Menurut Bassetti, pada Maret dan awal April, pasien dibawa ke unit gawat darurat karena mengalami penyakit yang cukup parah di mana mereka membutuhkan oksigen dan ventilator (alat bantu pernapasan), dan beberapa pasien mengalami pneumonia.

“Sekarang, dalam empat pekan terakhir, gambarannya benar-benar berubah dalam hal pola. Mungkin ada kandungan virus yang lebih rendah di saluran pernapasan, mungkin karena mutasi genetik pada virus yang belum ditunjukkan secara ilmiah. Juga kami sekarang lebih sadar akan penyakit ini dan mampu mengatasinya,” ujarnya.

“Itu seperti harimau yang agresif pada Maret dan April tetapi sekarang seperti kucing liar. Bahkan pasien lanjut usia, berusia 80 atau 90 tahun, sekarang duduk di tempat tidur dan mereka bernapas tanpa bantuan. Pasien yang sama akan mati dalam dua atau tiga hari sebelumnya.”

Ia menyebut, virus telah bermutasi karena sistem kekebalan tubuh manusia bereaksi terhadap virus dan kandungan virus (viral load) yang lebih rendah karena penerapan lockdown, memakai masker, dan penerapan jarak sosial.

BACA JUGA:  Di Masa Pandemi, Bupati Malra Bagi 100 Ribu Masker ke Warga

“Ya, mungkin itu bisa hilang sama sekali tanpa vaksin. Kami memiliki lebih sedikit dan lebih sedikit orang yang terinfeksi dan akhirnya virus corona mati,” tandasnya.

20 Laboratorium di Indonesia Tutup

Fakta serupa juga terjadi di Indonesia, Juru bicara penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto, melaporkan ada sebanyak 10.926 spesimen yang diperiksa pada Minggu, 21 Juni 2020 di pukul 12.00 WIB sampai dengan Senin, 22 Juni 2020, di waktu yang sama.

Yuri mengakui bahwa angka ini menunjukkan penurunan yang drastis. Menurut dia, ini disebabkan ada 20 laboratorium tidak melakukan pemeriksaan karena libur.

“Sebagian besar adalah laboratorium rumah sakit yang kemudian libur dari aktivitas dan baru memulainya lagi pada Senin pagi ini,” kata Yuri. Sehingga total spesimen yang sudah diperiksa sampai hari ini berjumlah 650.311 .

Dari jumlah spesimen tersebut, didapatkan penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia pada hari ini sebanyak 954, sehingga totalnya menjadi 46.845 jiwa.

Yuri juga melaporkan lima provinsi dengan penambahan kasus positif terbanyak harian yang masih didominasi oleh provinsi yang sama seperti hari kemarin, di antaranya : Jawa Timur (315), DKI Jakarta (127), Sulawesi Selatan (111), Kalimantan Selatan (89), dan Sumatera Utara (60).

“Sebanyak 19 provinsi dilaporkan di bawah 10 kasus,” ujarnya.

Sementara untuk kasus sembuh dari Corona, bertambah 331 sehingga sudah ada 18.735 orang dinyatakan terbebas dari Virus Corona. Akan tetapi, 35 orang dilaporkan meninggal dunia, sehingga totalnya sudah ada 2.500 orang (BB-DIP)

 

Disadur dari : Liputan6.com

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire