Gula Merah Saparua, produk unggulan Maluku
Gula Merah Saparua, produk unggulan Maluku

BERITABETA.COM, Ambon – Perkembangan teknologi internet telah merambah hampir semua segmen kehidupan, tanpa mengenal ruang dan waktu. Terlebih lagi dengan munculnya startup (perusahaan bisnis online) saat ini telah berdampak terhadap model pemasaran produk yang begitu mudah.

Tak ketinggalan produk unggulan lokal seperti gula merah Saparua yang diproduksi warga asal Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah  dari sedapan pohon aren pun kini telah mengambil posisi di segmen pasar online ini.

Seperti yang terpantau beritabeta.com, produk unggulan yang banyak diminati ini telah dijual di dua startup ternama di Indonesia masing-masing bukalapak.com dan tokopedia.com.

Berapa harganya? Dua startup papan atas ini menampilkan harga yang berbeda, sesuai dengan patokan yang ditetapkan pelapaknya. Di dua platform bisnis ‘marketplace’ terdepan di Indonesia ini, harga gula merah Saparua dipatok bervariasi.  

Di startup tokopedia.com harganya dipatok Rp.100 ribu per buah oleh pelapak bernama Nona Manis. Sedangkan di startup bukalapak.com pelapak bernama Lina Lin O mematok harga jauh lebih terjangkau sebesar Rp. 36 ribu per buah.

Gula merah Saparua bentuknya menyerupai buah kelapa, karena dicetak dengan menggunakan wadah batok kelapa. Berbeda dengan gula merah jenis lainnya yang dicetak bulat kecil memanjang, seperti gula dari sedapan pohon kelapa dari Pulau Jawa.

Di pasaran Kota Ambon, gula merah Saparua sudah tidak asing lagi. Banyak peminat yang mencari gula jenis ini, karena rasa dan kekentalan serta warnanya yang coklat kehitaman dan lebih manis.

Selama ini, pasar yang dituju oleh pembuat gula merah lebih banyak di Kota Ambon. Ciri khas gula merah lokal Maluku ini betuknya bulat dan dibungkus menggunakan daun pisang kering. Biasanya dijual dengan harga per buah berkisar dari Rp.25.000 hingga Rp.30.000. Namun harganya akan melonjak hingga Rp.50.000 per buah, di saat-saat jelang hari besar keagamaan, seperti Natal dan Tahun Baru serta Lebaran Idul Fitri.

Di Pulau Saparua, khususnya Negeri Ullath dan Tuhaha, Kecamatan Saparua Timur terdapat sejumlah petani yang biasa memproduksi gula merah. Aktivitas ini merupakan warisan yang diturunkan para pendahulu sejak zaman dulu yang kerap disebut “Tipar Mayang” (menyadap air nira).

Dari hasil sadapan inilah kemudian diualah menjadi gula merah, ada juga yang dijadikan Sageru dan Sopi (jenis minuman keras tradisional).

Salah satu pengrajin gula merah di Negeri Tuhaha  Yoke Pattipeiluhu mengaku hasil produksinya biasa dijual per buah di kisaran Rp.18.000. Tapi harga itu kemudian dinaikkan oleh penadah ketika menjualnya di pasar Kota Ambon.

“Kami menjualnya dengan harga Rp.18.000 per buah, kalau di Ambon biasa sudah Rp.23.000 sampai Rp.25.000. Kalau pas lagi banyak permintaan biasa bisa sampai Rp.50.000,” ungkap Yoke.

Gula merah yang diproduksi Yoke dan warga lainnya di Saparua memang  sangat populer di Kota Ambon atau daerah lainnya di Maluku. Gula merah Saparua ini, biasanya menjadi salah satu bahan wajib untuk membuat kuliner seperti sagu gula, talam sagu, bubur ne, asida, wajik atau sebagai bumbu rujak. Tidak heran, produk gula merah lokal Maluku ini, punya daya saing di pasaran Kota Ambon.

Warga Belanda keturunan Maluku pun kerap membeli gula merah Saparua sebagai oleh-oleh ketika berada di Maluku.

“Saya suka gula merah Saparua, karena sering dikirim oleh keluarga dan memang manfaatnya untuk membuat segala jenis kue terutama saat bulan Ramadhan disini banyak dibuat takjil yang lezat dan nikmat. Kalau pakai gula merah Saparua nikmatnya terasa ada di Maluku,” ungkap Hamza Patty warga Belanda asal Maluku yang menetap di Kota Amsterdam (BB-DIO)