Pedagang di Pasar Kota Masohi Keluhkan Lumpuhnya Jalan Trans Seram

Pedagang di Pasar Kota Masohi Keluhkan Lumpuhnya Jalan Trans Seram
Aktifitas pedagang di pasar Tradisional Binaya, Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (9/5/2019) (FOTO: BERITABETA.COM)

BERITABETA.COM, Masohi – Sejumlah pedagang kebutuhan pangan yang menjalankan aktifitasnya di Pasar Tradisional Binaya, Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) Provinsi  Maluku, mengeluhkan lumpuhnya akses jalan Trans Seram yang hingga kini masih diblokir warga.

Mereka menilai lumpuhnya akses jalan trans Seram ini, juga menjadi pemicu tingginya harga sejumlah komoditas pangan dan hortikultura  yang dijual.

Kepada beritabeta.com di Masohi, Kamis (9/5/2019), Mina salah satu pedagang yang ditemuai mengaku, kenaikan sejumlah komoditas yang dijual, juga dipicu oleh macetnya arus transportasi darat dari Kota Ambon ke Kabupaten Malteng.

“Saat ini tidak ada kendaraan langsung yang melintas dari Ambon ke Masohi. Kita minta Bupati Malteng agar bisa melihat persoalan ini dengan kembali mengoperasikan fery yang melintasi jalur Salahutu ke Kota Masohi, sebab pasca jalan trans Seram diblokir, pedagang sangat kesulitan memenuhi stok barangnya,”kata Mina.

Menurutnya, akibat dari macetnya jalur transportasi darat saat ini, banyak komoditas pangan dan hortikultura antaranya,  berupa bawang putih, bawang merah dan telur mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

“Saat ini di Kota Masohi, telur sudah sukar di peroleh. Padahal di Bulan Ramadhan ini, banyak warga yang membutuhkan telur. Selain itu, bawang putih juga harganya naik 100 persen, dari harga semula Rp. 40 ribu kini menjadi Rp. 80 ribu,” bebernya.

Hal senada juga disampaikan, Nurhayati. Kepada media ini, dia mengaku tidak mengerti kenapa barang dagangan yang dijual naik harga cukup besar. Sebab, para pedagang sukar mendapati stok barang yang sebelumnya di peroleh dari Ambon.

“Mungkin juga lagi susah stoknya di Ambon, tapi memang kondisinya lebih parah, karena tidak ada transportasi langsung dari kota Ambon,”tuturnya.

Menyikapi hal ini, Nurhayati juga menyepakati apa yang disampaikan Mina, bahwa dalam kondisi kemacetan jalur transportasi seperti ini, harusnya pemerintah bisa memikirkan jalur alternatif, seperti kembali mengoperasikan fery yang langsung menyinggahi pelabuhan Ina Marina, Kota Masohi.

“Sebagai pedagang kecil, kita tentunya mengikuti apa yang terjadi saat ini. Bila harga naik, sudah pasti kita tetap mengikuti, karena pedagang tentunya tidak bisa menjual seenaknya,” papar Ima, salah satu pedagang lainnya di Pasar Binaya.

Sementara itu, pantauan beritabeta.com hingga saat ini jalan lintas Seram yang menghubungkan Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah serta Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) ke Pelabuhan Penyeberangan Waipirit, di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), untuk menuju Pulau Ambon, Provinsi Maluku, masih diblokir warga.

Pemblokiran yang terjadi di Desa Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten SBB sejak Minggu, 5 Mei 2019, itu juga menyebabkan  jarak tempuh yang biasanya ditempuh warga di Kabupaten SBT dalam waktu 2 hingga 3 jam saja, kini mencapai 9 sampai10 jam, karena memutar lewat jalur Taniwel, SBB.

Dengan kondisi tersebut, sejumlah warga pengguna jalan menjadi resah dan mengeluh. Sebab, perjalanan menjadi lebih lama dan mereka juga harus rela mengeluarkan biaya tambahan.

Pemblokiran jalan trans Seram belum berakhir, beberapa pengendara roda dua sempat diberikan izin untuk melewati jalur jalan. Namun untuk pengguna roda empat belum bisa melewati jalan tersebut. (BB-OVANS)

Close Menu