Porang, Tanaman Umbi yang Kini Menjadi Trend hingga ke Maluku

Petani porang di Pulau Jawa saat memanen porang

BERITABETA.COM, Ambon –  Porang, tanaman umbi-umbian tengah populer dibicarakan masyarakat, lantaran kisah sukses petaninya. Berawal dari kisah sukses petani porang di desa Kepel, Kecamatan Kare Madiun, Jawa Timur yang menjadi miliader karena menjalani bisnis ekspor porang.

Porang segar saat ini dihargai Rp. 8.000/Kg dan lebih mahal lagi jika sudah dalam bentuk chips (red irisan tipis) kering sebesar Rp. 55.000/Kg. Hal ini yang membuat Suyanto dan anggota kelompok tani Sarwo Asih Desa Kepel, Kecamatan Kare Madiun tertarik menanam porang di areal seluas 200 Hektar.

Kini kisah sukses petani di desa Kepal, Jawa Timur menjadi inspirasi banyak kalangan. Tanaman porang pun mulai diperkenalkan ke petani di Maluku.

Belum lama ini, tepatnya tanggal 31 Januari 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia (RI) menggandeng Brimob Polda Maluku bersama Pemerintah Provinsi Maluku, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), menggelar sosialisasi dan penanaman tanaman porang, di Desa  Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Malteng.

Staf Ahli Kepala BNPB RI Brigjen Polisi (Purn) Hasanuddin dalam kegiatan sosialisasi itu menyampaikan, apabila petani giat membudidayakan tanaman porang ini, maka 100 persen ekonomi petani dijamin akan meningkat.

Menurutnya, tanaman porang sebenarnya dulu sejarahnya dibawa oleh tentara Jepang saat menjajah Indonesia. Jepang membawa koki untuk memasak kepada tentara-tentara Jepang, dari sini mereka menemukan porang sebagai sumber karbohidrat yang tinggi.

Kegiatan sosialisasi tanaman porang yang dilakukan BNPB RI menggandeng Brimob Polda Maluku bersama pemerintah provinsi, DPRD dan pemerintah kabupaten Maluku Tengah (Malteng), di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Malteng, Jumat (31/1/2020)

”Kalau makan makanan dari bahan baku porang, daya kenyangnya lebih lama. Dan, daya sehat- nya luar biasa karena porang tidak mengandung gula, lemak dan lain-lain,” ujarnya.

Nilai ekonomisnya, tutur Hasanuddin, bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk dijual. Akhir tahun 2019 per November, porang yang sudah jadi umbi dan diolah menjadi keripik harganya Rp 55.000 per kilogram.

Tepung porang di pasaran dihargai Rp 200.000 sampai 250.000 per kilogram, setelah dimurnikan menjadi tepung glukoma harga jualnya mencapi 900.000 sampai Rp 1.500.000 perkilogram.  Sementara itu, pemurnian 90 persen mencapai harga Rp.3.000.000,- per kilogram.

Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury yang hadir pada kegiatan sosialisai di Desa Hila juga mengaku telah menjejaki untuk mengembangkan usaha budidaya tanaman porang.

“Saya sudah mulai, sudah menggali tanah untuk menanam dari pada kita duduk dan tidak punya aktifitas, lebih baik kita tanam porang yang memiliki banyak keungulan ini,” ungkapnya.

Lalu apa sebenarnya tanaman porang ini? Porang atau dikenal juga dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Pertanian.go.id menulis, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor.

Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Umbi porang saat ini masih banyak yang berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan. Ada beberapa sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung serta Maros. (BB-DIO)

loading...

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire