Pelaku Penyebar Berita Hoaks Gempa Susulan Dilaporkan ke Polisi

Pelaku Penyebar Berita Hoaks Gempa Susulan Dilaporkan ke Polisi
Kabag Hukum Setkot Ambon dan Kasatpol PP Ambon atas nama Pemkot Ambon, melaporkan akun pembuat berita hoaks gempa susulan ke Dit Reskrimsus Polda Maluku, Senin (7/10/2019) (FOTO : ISTIMEWA)

BERITABETA.COM  – Pelaku pembuat berita bohong (hoaks) yang menyebutkan ada arahan dari Walikota Ambon tentang kemungkinan terjadi gempa susulan di Kota Ambon, akhirnya dilaporkan ke  Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Maluku.

Laporan ini disampaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, karena telah membuat resah warga Kota  Ambon dan juga mengandung unsur pencemaran nama baik.

Kepala Bagian Hukum Setkot Ambon, Sirjohn Slarmanat yang dihubungi beritabeta.com, Senin siang (7/10/2019) menyampaikan, sekitar pukul 12.30 WIT, dirinya bersama  Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Ambon, Josias P. Loppies sudah menyampaikan laporan secara lisan kepada Dit Reskrimsus Polda Maluku.

“Sementara kami sudah menyampaikan laporan lisan dengan menyertakan penggalan berita hoaks yang beredar di dunia maya khususnya facebook dan WhatsApp.  Ini sebagai laporan awal. Dan dalam waktu singkat, laporan tertulis akan kami sampaikan,’’ kata Slarmanat.

Ia menjelaskan, terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan Pemkot Ambon dalam melaporkan masalah ini. Pertama berita ini sudah membuat keresahan yang mendalam bagi masyarakat Kota Ambon dan juga terkait dengan pencemaran nama baik pemerintah dalam hal ini walikota.

Untuk itu, kata dia,  diharapkan, laporan ini bisa langsung ditindaklanjuti pihak kepolisian, sehingga pembuat berita  hoaks terkait gempa Ambon  bisa segera ditangkap dan diusut, apa yang menjadi  motif dibalik penyebaran berita hoaks ini.

‘’Intinya masyarakat diminta untuk tidak mempercayai berita yang sementara viral di medsos itu seakan-akan bersumber dari walikota. Sebab itu tidak benar, karena  tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi terjadinya gempa,’’ tandasnya.

Ditegaskan, untuk memastikan kelanjutan dari proses laporan ini, pihaknya akan intens melakukan kordinasi dengan Dit Reskrimsus Polda Maluku. Tujuannya agar masalah ini dapat ditelusuri dan diusut tuntas dan selanjutnya pelaku dapat diadili sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Penyebar berita bohong ini sangat meresahkan masyarakat juga ada unsur pencemaran nama baik pemkot dalam hal ini walikota. Kami sangat berharap dengan pengusutan ini, oknun-oknum yang selama ini bermain untuk meresahkan warga segera ditangkap,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Kota Ambon dibuat panik dengan beredarnya sebuah postingan yang menjadi viral di media sosial facebook. Isi postingan ini berbunyi :

‘’ada info bhw himbauan lgsg dr Walikota pagi ini, ada ‘kemungkinan’ mungkin sekitar pukul 13.00 WIT akan ada gempa susulan. Belum tahu kekuatan gempa nya berapa, tetapi diharapkan warga warga kota ambon wasada. Dan jika yang dperkirakan benar, mohon segera melakukan evakuasi mandiri di daerah2 yang aman.

Krn status gawat daurat gempa masih diperpanjang sampai satu minggu kedepan. Terima kasih.

Bukan ingin menyebarkan info, tetapi hanya saling mengabari, dan mengingatkan supaya kita semua tetap waspada dan berdoa…’’.

Menanggapi berita hoaks ini,  Walikota Ambon Richard Louhenapessy menegaskan dirinya tidak pernah mengeluarkan testimony atau himbauan yang sementara beredar kepada masyarakat tersebut. Kabar yang beredar ini adalah upaya untuk menciptakan keresahan di tengah masyarakat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Belum ada teknologi yang dapat mendeteksi kapan terjadinya bencana. Saya mengajak kita semua untuk tingkatkan doa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, kiranya kita dijauhkan dari musibah,’’ pinta walikota

Dirinya mengakui, sudab perintahkan Kabag Hukum dan Tim Hukum Pemkot Ambon untuk melaporkan oknum-oknum ini kepada aparat kepolisian.

‘’Saya juga berharap Polres Ambon dapat mem-follow up laporan itu, dan pelakunya diusut dan diberikan hukuman sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,’’ paparnya (BB-DIO)

Close Menu