BERITABETA.COM, Ambon – Gempa berkekuatan 5,1 SR yang menguncang pulau Ambon dan sebagian pulau Seram, pukul 19.10 WIT, Selasa malam (12/11/2019) masih termasuk dalam gempa susulan.

Ahli Geologi Dr. Nugroho Dwi Hananto yang dihubungi beritabeta.com, Selasa malam (12/11/2019) via telepon selulernya menjelaskan, gempa yang terjadi malam ini, masih merupakan rankaian dari gempa berkekuatan magnitude 6,5 yang terjadi pada 26 September 2019 lalu.

“Proses gempa susulan ini terkait dengan keseimbangan gaya-gaya akibat proses tumbukan antara lempeng bumi, baik lempeng yang besar maupun yang kecil. Bisa berupa sesar/patahan mendatar atau patahan naik/turun,” tandas  Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon ini.

Doktor lulusan Institut de Physique du Globe de Paris, France ini mamastikan, disebut gempa susulan karena gempa ini terjadi masih dalam satu kluster (wilayah), karena titik episenter ini menggambarkan tempat dimulainya penjalaran energi gempa dan sumber gempa itu sendiri berupa tiga dimenasi.

Dikutip beritabeta.com dari Instagram @infoBMKGMaluku gempa Magnitude 5.1 SR,  berlokasi pada 3.49 LS-128.35 BT atau 16 km Selatan Kairatu-SBB, 30 km Timur Laut Ambon.

Gempa dengan kedalaman 10 km, dirasakan di Ambon dengan Skala IV Modified Mercalli Intensity (MMI), BMKG-PGR IX dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa juga dirasakan cukup kuat di Pulau Seram.

Secara terpisah Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, Rahmat Triyono dalam rilisnya menjelaskan, jenis dan mekanisme gempa bumi dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, merupakan jenis gempa bumi dangkal.

Akibat adanya aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempabumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau Strike Slip.  Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Menurut Nugroho, gempa yang terjadi lebih dari sebulan ini memang masih dalam masanya. Makanya, tidak bisa diprediksi kapan masa ini akan berakhir.

“Kita sudah paham bahwa gempa ya demikian adanya. Yang penting apabila ada gempa, lindungikah kepala, jauhi tempat-tempat yang mungkin runtuh karena digoyang gempa. Apabila membangun rumah kembali, bangunlah hunian yang aman, tidak harus bertembok. Rumah-rumah kayu dan bambu terbukti lebih tahan gempa daripada rumah batu,” imbuh Nugroho.

Ia menambahkan,  dari pelajaran satu setengah bulan terakhir ini masyarakat dapat mengambil pelajaran penting yang terjadi bahwa gempa tidak membunuh. Tapi  yang membunuh adalah runtuhan bangunan, tebing dan batu-batuan.

“Bagi basudara yang mengungsi jaulilah tebing-tebing, meskipun itu tempat tinggi. dari satu setengah bulan ini kita tahu bahwa gempa- gempa ini tidak menimbulkan tsunami. Namun kita harus waspada dengan cara membangun hunian-hunian yang tahan gempa, seperti menggunakan bahan dari papan dan triplek,”pintanya (BB-DIO)