Deteksi Gempa, 4 Alat Seismograf Terpasang di Pulau Ambon

Tim dari BNPB bersama Instutut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), melakukan pemasangan alat seismograf di di Pulau Ambon pada, Jumat (18/10/2019) (FOTO: BERITABETA.COM)

BERITABETA.COM, Ambon – Tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Instutut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jumat (18/10/2019) telah rampung memasang empat unit alat seismograf di empat lokasi berbeda di Pulau Ambon.

Empat  unit seismograf ini dipasang untuk menunjang proses deteksi gempa yang terjadi di wilayah Pulau Ambon. BNPB menargetkan akan memasang sebanyak 11 unit di daerah Maluku.

Informasi yang berhasil dihimpun beritabeta.com, Jumat sore (18/10/2019) menyebutkan, khusus di Pulau Ambon telah dipasang di empat titik masing-masing,  satu unit di Kantor BMKG Maluku Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, satu unit di Kantor Meteorologi Maritim Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe,Kota Ambon,  satu unit di Desa Mamala dan satu unit di Desa Asilulu Kec. Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Proses pemasangan empat unit seismograf ini dilakukan Kasubit Peringatan dini BNPB Pusat Abdul Muhari bersama tim, Kasi Data dan Informasi BMKG Maluku Andi Azhar bersama tim dan perwakilan dari ITB Teknik Geofisika Dr. David bersama tim.

Direncanakan pemasangan 11 uni alat seismograf ini akan berlangsung selama dua bulan kedepan dan data yang dihasilkan akan diambil setiap tiga pekan berjalan.

11 titik wilayah yang menjadi target pemasangan adalah  wilayah yang terdampak gempa bumi  26 September 2109.

Antaranya, wilayah Pulau Ambon sebanyak 4 titik, wilayah Kecamatan Saparua sebanyak 2 titik, wilayah Kecamatan Pulau Haruku sebanyak 1 titik dan wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat sebanyak 4 titik.

Sementara direncanakan, pada hari Sabtu (19/10/2019) tim yang menghimpun tiga institusi ini akan melakukan pemasangan di wilayah Kecamatan Saparua dan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi, Kamis (17/10/2019) di Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Gempa Maluku, diskusi rencana pemasangan seismometer dibahas bersama antara Kodam, BNPB, BPBD Provinsi Maluku dan BMKG.

Berdasarkan arahan Kasdam XVI/ Pattimura Brigjen TNI Asep Setia Gunawan, satu orang babinsa akan bertanggung jawab terhadap setiap titik koordinat rencana pemasangan seismograf kepada Koramil dan Kodim setempat.

Selanjutnya disepakati antar peserta diskusi bahwa posisi pemasangan alat disesuaikan dengan kondisi di lapangan untuk menjamin keamanan alat selama dua bulan.

Pemasangan 11 unit alat seismograf ini dimaksudkan sebagai upaya memhami lebih lanjut karakteristik gempa susulan pascagempa M 6,5 yang terjadi pada 26 September 2019 lalu.

Pemasangan alat seismograf di salah satu titik di Pulau Ambon

Selain itu pemasangan seismograf ini diharapkan juga bisa menjawab kenapa begitu banyak gempa susulan dan Ambon dan apa implikasinya untuk kesiapsiagaan dan mitigasi potensi kejadian yang sama di masa depan.

Dari data terakhir yang diperoleh menyebutkan gempa susulan masih terdeteksi. Hingga Kamis (17/10), pukul 09.00 WIT, BMKG merilis gempa susulan pascagempa 6,5 M sejumlah 1.637 kali. Namun, hanya 184 gempa susulan yang dapat dirasakan masyarakat.

Data BPBD Provinsi Maluku per Rabu (16/10/2019) menyebutkan total penyintas berjumlah 103.327 jiwa. Jumlah penyintas tertinggi berada di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dengan angka 90.833 jiwa, sedangkan Kota Ambon 6.251 dan Seram Bagian Barat (SBB) 6.244.

Gempa dengan magnitudo 6,5 dan kedalaman 10 km ini menyebabkan 361 luka ringan dan 4 luka berat. Data terkini untuk korban meninggal dunia berjumlah 41 orang, tersebar di Kabupaten Malteng 18 orang, Kota Ambon 12 dan SBB 11. (BB-DIO)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire