Peneliti Ungkap Dua Temuan Baru di Gempa Ambon

Sebuah rumah yang hancur di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah akibat guncangan gempa magnitude 6,8 yang melanda Pulau Ambon dan Pulau Seram, Kamis pagi (26/9/2019).

BERITABETA.COM, Ambon – Tim peneliti gabungan dari LIPI Ambon dan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menemukan dua hal baru yang terjadi akibat gempa magnitude 6,8 di antara Pulau Ambon dan Seram, Kamis pagi (26/9/2019).

Dua temuan itu antaranya, telah terjadi likuefaksi tanah (soil liquefaction) di delapan lokasi dan baru aktifnya sesar (patahan)  di bagian timur Pulau Ambon, yang memicu terjadinya gempa.

Kesimpulan ini disampaikan tim yang terdiri dari Fareza Sasongko Yuwono, M.Sc. (Peneliti Geologi LIPI Ambon), Dr. M. Zain Tuakia, M.T. (dosen Jurusan Teknik Geologi Unpatti) dan Rian Amukti, M.Sc. (Peneliti Geofisika LIPI Ambon) di hadapan Kepala LIPI Ambon, Dr. Nugroho Dwi Hananto, M.Si yang juga tergabung dalam tim peneliti di ruang rapat Kantor LIPI Ambon, Kamis sore (29/9/2019).

Dalam paparannya, Fareza yang merupakan lulusan S2 Earth Science /Geology di Akita University, Jepang, ini menyampaikan, mereka telah menemukan ada sesar lain yang baru aktif di wilayah Timur Pulau Ambon yang memanjang ke episentrum (pusat gempa) yang ada di dataran pulau Seram.

Fareza Sasongko Yuwono, M.Sc (Kiri) Dr. M. Zain Tuakia, M.T. (Tengah) dan Dr. Nugroho Dwi Hananto, M.Si (Kanan) (FOTO : BERITABETA.COM)

“Sesar ini belum teridentifikasi sebelumnya. Letaknya memanjang ke arah laut. Dan belum terdata oleh  Pusat  Gempa Nasional (Pusgen), sehingga ini menjadi temuan baru yang kami peroleh,” jelasnya.

Fareza menjelaskan, sejatinya sesar ini sudah ada tapi belum terdeteksi, karena sebelumnya tidak aktif, sehingga dengan adanya gempa ini dapat terdeteksi ada sesar yang baru aktif.

Menurutnya, temuan aktifnya sesar ini,  juga sekaligus mematahkan asumsi keterkaitan gempa magnitude 6,8 yang terjadi Kamis (26/9/2019) dan munculnya gempa susulan selema beberapa hari ini dengan gempa yang menimbulkan tsunami dahsyat yang pernah melanda Pulau Ambon pada tahun 1950 silam.

Hal senada juga disampaikan M. Zain Tuakia. Doktor Geology jebolan  Akita University, Jepang, ini menguraikan, yang membedakan gempa yang baru terjadi pada Kamis kemarin dengan gempa di tahun 1950 itu, selain terjadi pada sesar yang berbeda,  juga pergerakan lempeng tidak terjadi secara vertical dan juga episentrumnya ada di darat Pulau Seram.  

“Posisi gempa yang terjadi di tahun 1950 itu terjadi pada sesar yang berada di bagian selatan Pulau Ambon atau di laut. Sesar ini sudah terdata oleh Pusgen, sehingga pada peta dapat terlihat jelas ada garis merah. Sedangkan yang terjadi di Kamis kemarin itu muncul  akibat  baru aktifnya sesar lain yang memanjang ke arah laut bagian Timur Pulau Ambon,” jelasnya.

Olehnya itu, pihaknya menyimpulkan bahwa gempa  magnitude 6,8 itu tidak berkaitan dengan gempa di tahun 1950 silam yang menimbulkan tsunami dahsyat di sejumlah pantai di Kota Ambon.

Selain itu, Fareza juga menyampaikan terjadinya  fenomena likuefaksi tanah ditemukan di delapan titik pada lokasi Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah sebagai lokasi yang lebih berat terdampak gempa dan ditinjau oleh tim.

“Yang kita lihat dan kita dokomentasikan ada sebanyak delapan titik. Fenomena ini serupa yang terjadi  di Palu, namun tidak terlalu besar,” katanya.

Ia menambahkan, ditemukan pula arah retak tanah juga mengarah ke pusat episentrum. Dan sangat jelas ini, sehingga menguatkan temuan ada seser yang baru aktif.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon Dr. Nugroho Dwi Hananto, M.Si menambahkan, temuan tim yang dibentuk ini akan diperdalam lagi untuk disampaikan ke LIPI Pusat, BMKG dan Pusgen, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta ke Pemerintah Daerah.

“Temuan ini akan menjadi referensi baru yang harus disampaikan ke pihak-pihak terkait. Namun sebelumnya akan lebih diperdalam lagi, sehingga pendataan soal gempa dan potensi dapat ter-up date dengan baik,” tandasnya.

Selain penyampaian hasil temuan itu, tim juga merekomendasikan beberapa hal kepada masyarakat di lokasi-lokasi bencana agar menghindari lokasi-lokasi tebing, karena sangat rawan terjadinya longsor.

“Kita juga minta masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik dan juga tidak percaya dengan informasi-informasi yang tidak tertanggungjawab,” tutupnya (BB-dhino pattisahusiwa)    

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire