PNF Klaim Siapkan Vaksin Virus Corona Teknologi ‘Knock Out’

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom

BERITABETA.COM, Surabaya – Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom mengklaim pihaknya tengah menyiapkan vaksin virus corona dengan teknologi Knock Out (KO).

“Kami sedang menyiapkan vaksin dengan teknologi KO,” kata Nidom seperti dikutip dari Headline.co.id, Selasa (17/03/2020).

Ia menjelaskan pada prinsipnya yang diberi adalah vaksin flu yang diberi partikel virus corona. “Sehingga vaksin ini sekali suntik, bisa untuk vaksin flu dan covid-19,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa saat ini PNF yang berkedudukan di Pasuruan, Jawa Timur ini sedang berusaha untuk mendapatkan virus-virus tersebut. Virus-virus itu, kemudian akan dipotong dan disambungkan dengan virus vaksin flu yang sudah disiapkan.

Selain itu, PNF juga hanya menyediakan teknologi knock out. Untuk proses selanjutnya, ia mengatakan tergantung pihak Pemerintah Industri Farmasi (PT Biofarma).

“Persis seperti saat saya dan teman-teman menyiapkan vaksin Flu Burung untuk manusia pada tahun 2010 silam,” jelasnya.

AS Uji Coba Vaksin Virus Corona

Sementera di Amerika Serikat (AS), Senin 16 Maret 2020, telah melakukan uji coba pertama vaksin virus corona pada manusia. Uji coba dilakukan kepada 45 orang sekelompok sukarelawan dengan suntikan vaksin yang difasilitas penelitian Kaiser Permanente, Seattle.

Dilansir dari BBC, vaksin ini mengandung kode genetik yang tidak berbahaya yang disalin dari virus yang menyebabkan penyakit.

Meski begitu, para ahli mengatakan, masih perlu waktu berbulan-bulan untuk membuktikan apakah vaksin ini akan bekerja, baik dalam penelitian maupun orang lain.  Waktu selama itu diperlukan sebagai studi tambahan dari ribuan orang untuk mengetahui apakah vaksin benar-benar melindungi dan tidak membahayakan.

Uji coba pertama pada manusia ini didanai oleh Institut Kesehatan Nasional untuk menghindari pemeriksaan yang biasanya dilakukan. Moderna Therapeutics, perusahaan bioteknologi asal Massachussets di balik vaksin ini, mengklaim bahwa vaksin telah dibuat dengan proses yang telah diuji. Kemudian Dr John Tregoning, seorang ahli penyakit menular di Imperial College London, Inggris, mengatakan, vaksin ini menggunakan teknologi yang sudah ada sebelumnya.

“Vaksin ini dibuat dengan standar yang sangat tinggi, menggunakan hal-hal yang kita tahu aman untuk digunakan pada orang-orang, dan mereka yang mengambil bagian dalam uji coba akan sangat dipantau. Ya, (pembuatan vaksin) sangat cepat, karena ini adalah perlombaan melawan virus, bukan melawan sesama ilmuwan, dan itu dilakukan untuk kepentingan kemanusiaan,” terang Dr Tregoning dikutip dari BBC.

Biasanya vaksin untuk virus, seperti campak, dibuat dari virus yang dilemahkan atau dibunuh. Namun, vaksin corona berkode mRNA-1273 ini tidak dibuat dari virus yang menyebabkan Covid-19, tetapi dari segmen pendek kode genetik yang disalin dari virus yang dibuat para ilmuwan di laboratorium.

Diharapkan vaksin ini bisa meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan infeksi virus corona. Cara kerja vaksin Cara kerja vaksin RNA bermula pada urutan mRNA (molekul yang memberi tahu sel untuk membangun) yang dikodekan untuk antigen penyakit spesifik.

Sekalinya diproduksi dalam tubuh, antigen tersebut mampu dikenali oleh sistem imun dan mempersiapkannya untuk melawan virus. Tujuan dari uji coba ini untuk memastikan bahwa vaksin tidak menunjukkan kekhawatiran. Para sukarelawan akan diberikan dosis berbeda pada uji coba vaksin ini.

Masing-masing diberikan dua suntikan di lengan secara terpisah dalam 28 hari. BBC mengabarkan, andai kata tes vaksin ini berjalan dengan baik, tetap butuh waktu hingga 18 bulan agar vaksin bisa tersedia untuk umum. (BB-DP)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire