Tanda dari Binatang Sebelum Gempa Ambon, Mitos atau Fakta?

Tanda dari Binatang Sebelum Gempa Ambon, Mitos atau Fakta?

BERITABETA.COM – Pada laman National Geographic, tercatat sekitar 500 ribu gempa terdeteksi terjadi di belahan dunia setiap tahun. Ada yang dirasakan dan ada pula yang tidak dirasakan manusia. Sayangnya, belum ada alat yang diciptakan ilmuwan yang dapat memprediksi kapan gempa akan datang.

Beberapa ilmuwan bahkan meyakini insting hewan/binatang bisa digunakan memprediksi bencana terutama gempa. Mereka lalu mencoba memahami perilaku hewan sebelum gempa terjadi. Namun, hingga kini belum ada satu teori ilmiah yang mampu mengaitkan perilaku binatang sebagai kepastian tanda akan terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami.

Bagitupun yang terjadi sebelum gempa bumi berkekuatan 6,8 SR menggoncang Pulau Ambon dan sebagian Pulau Seram, Kamis (26/9/2019).  Apa yang terjadi sebelumnya? Meski tidak dapat dibuktikan kebenarannya, namun fakta-fakta kematian dan perilaku beberapa binatang sama persis yang terjadi di Jepang, Tiongkok, Chili dan Haiti sebelum gempa.

Ini pula yang memicu ketakutan warga Desa Leahari di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon pascaditemukan ribuan ikan mati terdampar,  jenis tatu dan kuli pasir di pantai desa itu, Sabtu (14/9/2019) lalu.

Seorang warga desa itu, Vin Maitimu, mengaku bahwa sejak Sabtu malam warga sudah bersiap menyelamatkan barang berharga dan dokumen penting karena khawatir.

“Senantiasa ikhtiar, bahkan saat malam hari senantiasa berjaga-jaga sehingga terganggu waktu tidur karena mengkhawatirkan kemungkinan gampa disertai tsunami melanda secara tiba-tiba,” katanya Senin, 16 September 2019.

Ketakutan warga Desa Leahari seperti menjadi puncak dari rentetan peristiwa yang berlangsung sebelum datangnya gempa bumi di Pulau Ambon dan sebagian pulau Seram. Lebih jauh ini sejumlah peristiwa yang dihimpun redaksi beritabeta.com terkait kejadian yang  menghebohkan dunia maya sebelum gempa bumi melanda Pulau Ambon dan sekitarnya.  

Mislanya, temuan beberapa ikan paus terdampar di Pulau Seram, Saparua dan Pulau Buru. Kemudian ada  ikan raksasa yang disebut Sunfish (mola-mola) mati terdampar di salah satu keramba ikan milik warga yang berada di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon 31 Maret 2019.

Jenis  ikan raksasa ini sebelumnya juga ditemukan mati terdampar oleh nelayan di pesisir pantai kawasan Waihaong, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, pada 11 Januari 2019. Ada juga ikan dugong (duyung) sepanjang 2,5 meter terdampar di Pantai Desa Eti, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) pada 28 Februari 2019.

Kemudian binatang reptil muncul ke pemukiman warga, seperti terjadi di Negeri Hualoy, Morela bahkan di pusat Kota Ambon yang berhasil ditangkap warga di sebuah gorong-gorong dan dikarantina oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku.

Ada juga  temuan warga yang melihat buaya berenang di Pantai Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Agustus 2019, yang hingga kini belum berhasil ditangkap.  Dan yang paling menghebohkan adalah terdamparnya ribuan ikan jenis tatu dan kuli pasir di pantai Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.

Kematian ribuan ikan ini bahkan terjadi di sejumlah desa. Mulai dari Desa Waii, Kecamatan Salahutu, Hukurila, Leihari, Hutumuri, dan Rutong di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.

Ironisnya, kematian ribuan ikan itu masih menyimpan misteri. Semua kemungkinan penyebabnya sudah dikaji dan diteliti oleh tim bentukan LIPI Ambon yang menghimpun 11 institusi pemerintah terkait, namun hasilnya  belum juga terungkap melalui uji laboratorium.

Peristiwa mati dan berubahnya perilaku binatang di atas, mungkin hanya sebuah kebetulan. Sebab belum ada penjelasan ilmiah yang bisa merincikan keterkaitan kejadian-kejadian di atas dengan tanda datangnya gempa bumi.

“Belum ada teori dan cacatan ilmiah yang bisa mengaitkan matinya ribuan ikan dengan bencana gempa dan tsunami,” kata kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon yang juga ahli geologi, Dr. Nugroho Dwi Hananto, M.Si kepada beritabeta. com.

Namun, apa yang terjadi di Pulau Ambon dan sekitarnya, hampir mirip dengan kejadian yang terjadi di Jepang. Sebelum gempa dan tsunami yang menerjang pantai timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam, sekelompok oarfish (ikan purba) ditemukan terdampar di pantai Negeri Sakura.  Beberapa tersangkut di jaring nelayan.

Penduduk Jepang sudah lama menyakini oarfish yang berenang ke permukaan dari dasar laut yang dalam adalah pertanda datangnya gempa bumi. Laman The Telegraph juga pernah memuat artikel tentang oarfish yang muncul ke permukaan sebelum terjadi gempa besar di Chile dan Haiti pada 2010 silam. Namun, para ilmuwan masih skeptis dengan anggapan bahwa oarfish adalah petanda gempa.

“Mungkin itu hanya kebetulan belaka,” kata Rick Feeney, dari Natural History Museum of Los Angeles County, seperti Liputan6.com kutip dari CBS, 21 Oktober 2013.

Apalagi, tambah dia, 4 penampakan oarfish telah dilaporkan sejak 2010 dari selatan Central Coast, termasuk Malibu pada 2010 dan Lompoc pada 2011.

“Kami pikir, ikan-ikan itu terdampar di pantai dan mati karena mengalami tekanan tertentu, yang belum kita pahami,” kata Feeney, menambahkan oarfish bisa jadi kelaparan atau mengalami disorientasi.

Diyakini Sebagai Tanda Gempa

Keterkaitan kematian dan perilaku binatang dengan datangnya gempa bumi, mungkin masih sebatas mitos.  Namun, berbeda bagi sebagian masyarakat China dan Tiongkok.

Mereka mempercayai hewan memiliki kemampuan dalam memprediksi gempa. Hal ini dikarenakan insiden Haicheng. Sebelum terjadi gempa berkekuatan 7,3 skala richter, pemerintah China memberi peringatan evakuasi masyarakat lebih dulu. Proses evakuasi dilakukan berdasarkan pengamatan perilaku hewan yang berubah dari biasanya. Terlebih pada hewan-hewan yang menetap di tanah.

Jelang bencana alam, sekumpulan hewan memperlihatkan tingkah laku tak seperti biasanya. Pada anjing, pertanda diberikan melalui suara gonggongan. Sementara tikus, ular, musang atau katak berbondong-bondong meninggalkan sarang beberapa hari sebelum bencana alam terjadi.

Hal yang sama juga dikisahkan pernah terjadi di Tangshan di Tiongkok 28 Juli 1976. Permukaan sumur di luar kota Tangshan di Tiongkok naik turun tiga kali sehari. Di desa lain gas keluar dari sumber air warga. Tikus-tikus berlarian pada siang bolong, ikan-ikan di akuarium gelisah dan mencoba melompat keluar.

“Cuaca sangat panas, beberapa hari sebelum gempa, anjing dan ayam menolak masuk ke bangunan,” kata Yao Guangqing, pegawai pemerintah, seperti dikutip dari situs Danwei.  

Setidaknya 250 ribu orang tewas dalam gempa yang mengguncang Tangshan pada 1976 (http://www.drgeorgepc.com). Bukan saja binatang, sikap manusia pun berubah.  Malam sebelum gempa, ada pertunjukan layar tancap. Butuh waktu empat jam untuk menayangkan satu film saja. Orang-orang gelisah dan gampang marah, berkali-kali jalan cerita dihentikan di tengah jalan gara-gara perkelahian antar-penonton.

Sebelum fajar menyingsing, 28 Juli 1976, para peternak di Kaokechuang juga menjumpai hal tak biasa. Kala itu, mereka berniat memberikan pakan sesuai jadwal. Bukannya makan, kerumunan kuda dan keledai justru mengamuk. Mereka melompat dan menendang sejadinya.

Setelah menjebol kandang, hewan-hewan itu lari tunggang langgang. Beberapa menit kemudian, kilatan cahaya putih menyilaukan terlihat di langit. Gemuruh yang luar biasa keras terdengar saat gempa dengan kekuatan 7,8 skala Richter mengguncang area Tangshan dan sekitarnya, tepat saat jarum jam menunjuk ke pukul 03.42 waktu setempat.

Gempa utama berlangsung ‘hanya’ 14 sampai 16 detik. Tak lama kemudian giliran lindu 7,1 SR mengguncang. Sebanyak 240 ribu orang meninggal dunia kala itu. Sejak dulu, ada sejumlah hal yang diyakini sebagai pertanda datangnya gempa.

Lagi-lagi, perilaku hewan belum dapat dipastikan keterkaitannya dengan bencana alam. Seismolog Amerika mengolah informasi secara skeptis melalui survei. Pada 1970an, juga dilakukan penelitian pada otak anjing.

Menurut USGS pada national geographic, hewan akan bereaksi saat merasa kelaparan, terancam predator dan jelang perkawinan. Maka dari itu, penelitian ini tidak memberikan bukti konkret.

Menurut Roger Musson, peneliti seismologi dari British Geological Survey, kemungkinan satwa memang bisa mendeteksi gempa.

“Mereka memiliki kemampuan merasakan sinyal elektromagnetik yang keluar dari pergesekan batuan saat gempa terjadi,” katanya, seperti dilansir laman Live Science yang dikutip liputan.com.

Musson menjelaskan, tak menutup kemungkinan hewan memiliki kemampuan tersebut karena bisa merasakan getaran lemah yang tidak dirasakan manusia. Namun memang belum ada cara yang komprehensif untuk memanfaatkan kemampuan tersebut. Untuk membuktikan kemampuan para satwa tersebut, pernah ada beberapa ilmuwan yang melakukan studi mendalam.

Rachel Grant dan tim dari The Open University, Inggris, contohnya. Mereka mencoba melihat kemampuan katak untuk mendeteksi aktivitas pra-seismik di ionosfer dan frekuensi gelombang radio rendah. Hasil studi mereka terbit dalam International Journal of Environmental Research and Public Health.

“Gerakan tektonik bisa mengirimkan sinyal ion positif ke atmosfer rendah. Saat bertemu air, ion akan beroksidasi, yang kemudian dirasakan katak,” ujar Grant.

Para ahli geologi, juga astrolog, meramalkan gempa mungkin akan kembali terjadi di kaki Himalaya. Belajar dari pengalaman masa lalu, para peziarah yang pergi ke situs keramat Gua Amarnath tak hanya bergantung pada kuda untuk membawa mereka ke sana, hewan itu juga diandalkan untuk ‘membaca’ pertanda gempa.

 “Jika kuda-kuda menolak membawa peziarah dan menunjukkan perilaku tak normal, bisa jadi mereka menyadari tanda-tanda gempa.” Namun, adakah landasan ilmiwah soal kemampuan luar biasa para binatang?

Para ilmuwan berusaha mencari penjelasan, mengapa beberapa spesies hewan berperilaku aneh sebelum bencana alam dengan menghubungkan kemampuan sensorik binatang dengan rangsangan sensorik mikroskopis dan tak terlihat.

“Saya tak tahu apakah tepat menyebutnya sebagai indra keenam. Sebagian besar hewan tahu, jika bumi mulai bergetar, pasti ada sesuatu yang salah,” kata Ken Grant, koordinator Humane Society International Asia, seperti Liputan6.com kutip dari Washington Post.

Kata dia, fisiologi sensorik pada hewan sangat sensitif pada suara, temperatur, sentuhan, getaran, elektrostatik, aktivitas kimia, juga medan magnet.  Semua itu membuat mereka bisa melarikan diri dalam hitungan hari dan jam sebelum bencana melanda. Lebih dulu dari manusia.

“Tampaknya banyak hewan memiliki organ sensorik yang mendeteksi tremor mikro dan perubahan yang nyaris tak kentara yang tak mampu kita pantau,” kata George Pararas-Carayannis, ahli kelautan dan geofisika yang memimpin Tsunami Society.

 “Sensitivitas yang tak dimiliki manusia, namun dikembangkan para hewan selama jutaan tahun evolusi mereka. Karena itulah mereka mampu bertahan hidup sebagai suatu spesies,” tambah dia.

Sementara, seperti dimuat jurnal ilmiwah Nature, ahli geofisika kuantum, Motoji Ikeya menemukan bahwa sejumlah binatang bereaksi terhadap perubahan arus listrik. Dan ia sedang meneliti ikan lele, makhluk paling sensitif yang pernah ia kaji untuk membantu memberi peringatan datangnya malapetaka.

Bagaimana dengan manusia? Sejatinya manusia juga memiliki indra keenam terkait bencana. Tapi lebih banyak yang kehilangan kemampuan firasat itu. Wallahualam bishawab (dhino pattisahusiwa)

Close Menu