Beroperasi di Malam Hari, Penambang Liar Nekat Kembali ke Gunung Botak

Beroperasi di Malam Hari, Penambang  Liar Nekat Kembali ke Gunung Botak
Tiga penambang emas liar di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru yang tertangkap kamera, kembali melakukan aktifitas menambang, setelah kawasan itu ditutup tahun lalu. Mereka memulai aktifitasnya di sore hari. (FOTO: ISTIMEWA)

BERITABETA.COM, Namlea – Ketergantungan akan hasil emas yang terkandung di kawasan Gunung Botak (GB), Kebupaten Buru, Provinsi Maluku, sepertinya  tak bisa dilupakan begitu saja oleh warga sekitar.

Ini terbukti dengan sikap sejumlah warga Desa Kayeli, Kecamatan Teluk Kayeli, Kabupaten Buru  yang nekat merangsek masuk di kawasan GB pada malam hari untuk menjalankan aktifitasnya sebagai Penambang Emas Tanpa Izin (PETI).

Aksi nekat ini sempat terpantau oleh wartawan beritabeta.com yang berada di puncak tertinggi kawasan GB, Minggu (12/5/2019) siang hingga jelang malam.   

Di siang hari kawasan GB terlihat sepi. Aparat setia berjaga-jaga disejumlah tempat. Namun, malam harinya, para PETI mulai nekat  memasuki kawasan GB. Dari kejauhan terlihat nyala senter kepala menyerupai kunang-kunang.

  Seorang perempuan yang ikut mengolah emas di kawasan Gunung Botak (FOTO: ISTIMEWA)

Pertanda ada sejumlah oknum penambang yang main kucing-kucingan dengan aparat dan beroperasi di malam hari. Semakin larut, nyala lampu senter kepala terlihat semakin ramai. “Ada yang masuk ke GB bila sudah malam hari. Mereka butuh hidup dan butuh makan,”ungkap Unut, warga di Wamsaid, Kecamatan Waelata.

Data yang berhasil dikumpulkan dari lapangan menyebutkan, petugas keamanan sulit untuk menertibkan para penambang ini di malam hari.Mereka sudah menghafal waktu patroli aparat. Mereka baru masuk menambang setelah aparat kembali ke pos yang letaknya berkilo-kilo meter dari lokasi mereka menambang.

Ironisnya, kegiatan penambangan tanpa pengawasan itu pada tanggal 6 Mei lalu, sempat menyebabkan seorang warga bernama Nus  diparangi lengan kanannya oleh sesama penambang karena berebutan air untuk kegiatan tembang di malam larut.Insiden ini juga diungkap korban Nus dalam sebuah video berdurasi 2 menit 50 detik. Nus mengisahkan insiden yang menimpa dirinya itu.

Dikabarkan, ada dua oknum penambang dari luar yang disebut bermain di GB, yang biasa dipanggil Keriting dan Jais. “Keduanya beroperasi di Batu Kapur dan Jalur Janda,”ungkap seorang sumber terpercaya.

Minta Izin Dari Aparat Brimob

Warga Desa Kayeli, bermaksud untuk  kembali menambang di kawasan  GB yang telah ditutup. Niat itu telah diutarakan Kades Kayeli Umar Taramun dan Ketua Karang Taruna, Muid Wael di hadapan personil brimob yang berjaga di pos jalur Sungai Anahoni.

Informasi yang dihimpun wartawan media ini menyebutkan, pada Minggu lalu (12/5), sekitar pukul 09.00 WIT,   Umar Taramun dan Muid Wael bersama Kades Wayasel, Man Wael, staf Desa Kayeli, Ademan Manapongan bersama dua warga Ai Laitupa dan Onyong Amarduan, sempat bertandang ke Pos Brimob Anahoni.

Mereka datang membawa aspirasi masyarkat Kecamatan Teluk Kayeli yang hendak kembali menambang di GB, setelah kegiatan  menambang dihentikan sejak Nopember tahun lalu.Namun personil Brimob yang berjaga di sana menolak keinginan itu. Sebaliknya masyarakat disarankan agar tidak beraktifitas dalam bentuk apapun. Selain itu, masyarakat diminta agar menahan diri menunggu regulasi dari pemerintah soal tambang rakyat.

Taramun dkk diingatkan agar tidak gegabah maduk ke GB sebelum mendapat izin. Bila yang mau mencoba-coba akan berhadapan dengan hukum.Namun peringatan personil brimob itu tidak diindahkan, karena pada hari Senin (13/5), ada sekelompok masyarakat mencoba masuk ke GB namun dicegah aparat keamanan.

Warga yang datang itu dibawa komando  Onyong Amarduan, Ai Laitupa Muid Wael, Ical Tammam dan Khalik Wael. (BB-DUL)

Video pengakuan Nus, penambang emas yang menjadi korban di Gunung Botak tanggal 6 Mei 2019 lalu

Close Menu