Dari Maluku ke Martapura, Ini yang Dipelajari Pansus III DPRD SBT

Dari Maluku ke Martapura, Ini yang Dipelajari Pansus III DPRD SBT
Staf Ahli Pemkab Banjar H Masruri (kanan) memaparkan karakteristik pembangunan di Banjar kepada rombongan Pansus III DPRD Seram Bagian Timur, Maluku, Selasa (21/5/2019) pagi, di ruang kerja bupati.

BERITABETA.COM,  Ambon  – Religiusitas detak kehidupan masyarakat di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan menggema hingga ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Maluku.

Karena itu pula rombongan panitia khusu (Pansus) III DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Maluku bertandang ke Martapura, Selasa (21/5/2019).

Seperti dikutip banjarmasinpost.co.id,  kehadiran Tim Pansus ini diterima oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Pemkab Banjar H Masruri di ruang kerja bupati.

Didampingi sejumlah pimpinan (SKPD), Masruri menyambut secara ramah tamu dari luar pulau tersebut. Tak kurang selama dua jam pertemuan berlangsung dalam suasana keekeluargaan.

“Tujuan kami datang ke sini dalam rangka pembahasan tiga raperda yakni tentang khatam Alquran, kawasan tanpa rokok, dan prostitusi,” ucap Abdul Halik Rumaluak, pimpinan rombongan Pansus III DPRD SBT.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran terhadap seluruh daerah di negeri ini terhadap penerapan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur mengenai pemberlakuan baca tulis Al Quran bagi kalangan pelajar.

“Cuma kami dapati di sini, Kabupaten Banjar, yang menerapkannya,” jelas Halik.

Ia menuturkan legislatif dan eksekutif di Seram Bagian Timur ingin menyusun Raperda khatam Alquran guna memperkuat nilai religi di kalangan generasi muda.

Apalagi mayoritas (96 persen) penduduk di daerahnya beragama Islam. Karena itu pihaknya ingin belajar pada Pemkab Banjar yang telah lebih dulu menerapkan perda khatam Alquran.

Terlebih ibu kota Kabupaten Banjar (Martapura) dikenal dengan sebutan Serambi Makkah-nya Kalimantan Selatan.

Lebih lanjut ia menuturkan Kabupaten Seram Bagian Timur saat ini berusia 15 tahun. Dari aspek ekonomi dan pembangunan masih tertinggal dibanding kabupaten lain di Maluku.

“Daerah kami sebagian besar berupa perairan karena merupakan kepulauan. Sumber daya alam terbatas. Namun kami terus berupaya untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan penduduk dalam napas kehidupan yang religius,” sebut Halik. (BB-DIO)

Close Menu