Ini Asal dan Ciri Sapi Ongole, Sapi Kurban Bantuan Presiden Jokowi di Masjid Alfatah Ambon

Ini Asal dan Ciri Sapi Ongole, Sapi Kurban Bantuan Presiden Jokowi di Masjid Alfatah Ambon
Kapala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Diana Padang, saat menerima sapi qurban jenis “Ongole” bantuan Presiden RI Joko Widodo yang akan diserahkan di Masjid Raya Al-Fatah Ambon, bersamaan dengan sapi qurban dari Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Drs. Murad Ismail (FOTO: Humas Pemprov Maluku)

BERITABETA.COM, Ambon – Direncanakan Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismal, Sabtu (10/8/2019) akan menyerahkan sapi kurban bantuan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada masyarakat Maluku di Masjid Raya Alfatah Ambon.

Acara penyerahan sapi kurban akan dilakukan Gubernur Maluku usai sholat ashar kepada panitia kurban dan jamaah di Masjid Alfatah, Ambon. Sapi itu dari jenis ongole dengan berat  850 kilogram.

Kepala Dinas Pertanian Maluku, Diana Padang menuturkan sapi bantuan Presiden akan diserahkan bersamaan dengan sapi kurban bantuan Gubernur Maluku seberat 800 Kilogram.

“Sapi jenis ongole merupakan jenis sapi unggul yang merupakan hasil pengembangan program Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) yang kini dikembangkan pemerintah di sejumlah daerah termasuk Maluku,” kata Diana   kepada wartawan di Kantor UPTD Taman Ternak di Desa Passo, Ambon, Rabu (7/8/2019).

Dari mana asal jenis sapi ongole?   Sapi ongole adalah sapi yang asalnya dari India. Sapi ini tergolong jenis sapi zebu atau sapi berpunuk. Banyak dikembangbiakan oleh para peternak di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, secara alami. Sapi ini juga dikenal dengan nama sapi Peranakan Ongole (PO).

Sapi ini dikembangkan juga oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Sembawa, Sumatera Selatan. Ciri khas sapi ini berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama pada sapi jantan. 

Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam, dengan kepala pendek dengan profil melengkung.

Sapi ini akan dewasa kelamin pada umur 24-30 bulan. Sapi ini tergolong lambat dewasa, akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun.

Untuk mencapai berat maksimal, lewat program Siwab mencakup dua program utama yakni Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi kawin alam (Inka) dengan tujuan mengakselerasikan percepatan pemenuhan populasi sapi potong.

Jenis ongole menjadi sapi pilihan yang spermanya diambil dan dikembangkan dalam teknik IB  dengan sapi indukan lokal. Hasilnya, seperti pada sapi kurban Gubernur dan Presiden Jokowi itu.

“Sapi kurban Presiden dan Gubernur merupakan hasil program IB. Indukannya adalah sapi Bali, sedangkan spermanya sapi ongole. Bila tunggu kawin alamiah akan memakan waktu lama,” ujar Diana.

Program Siwab, kata dia,  merupakan salah satu program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk mengejar swasembada sapi yang ditargetkan pada 2026.

Diana menambahkan, sapi yang dipilih untuk dijadikan hewan kurban, selain memperhatikan berat badannya, juga harus diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan sehingga dapat dipastikan bebas dari berbagai penyakit.

“Staf Kepresidenan turun langsung ke lokasi pengembangan ternaknya di kabupaten Pulau Buru untuk melihat dan memilih hewannya, serta bertemu dengan peternak,” katanya.

Setelah sapi kurban dipilih, kemudian diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan guna memastikan ternaknya bebas dari berbagai jenis penyakit, dan ditindaklanjuti dengan mengeluarkan surat kesehatan hewan.

Selain di Pulau Buru, program Siwab  dengan teknik IB kini gencar dilakukan dibeberapa kabupaten, termasuk juga di Kabupaten Seram Bagian Timur (SB) yang kini telah berhasil menjalankan program Siwab dan menghasilkan sejumlah jenis sapi unggul. (BB-DIO)

Close Menu