Tim MRI-ACT Maluku Terus Dampingi Warga Pengungsi Korban Gempa

Tim MRI-ACT Maluku Terus Dampingi Warga Pengungsi Korban Gempa
Tim MRI-ACT Maluku saat melakukan pendampingan di lokasi pengungsian korban gempa bumi yang melanda Pulau Ambon dan sekitarnya (FOTO : Tim ACT Maluku)

BERITABETA.COM –  Gempa bumi berkekuatan 6,8 SR di Pulau Ambon dan Pulau Seram, Provinsi Maluku, masih saja menyisakan berbagai problem yang dialami warga yang terkena dampak bencana.  Terutama yang menimpa warga pengungsi korban gempa yang ada di lokasi-lokasi pengungsian.

Menyikapi hal ini, Masyarakat Relawan Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT) Maluku terus menjalankan sejumlah kegiatan pendampingan dengan beberapa program dalam membantu keberadaan warga di lokasi pengungsian.

Ketua MRI-ACT Maluku, Sahril Mewar dalam rilisnya yang diterima beritabeta.com, Jumat (4/10/2019) mengatakan, hingga kini tim Assesstment ACT terus melakukan assesstment ke daerah-daerah terdampak yang belum atau kurang mendapatkan perhatian.

“Selain membantu para korban tim ACT juga menjalankan  assesstment untuk  melakukan strategi bersama mereka,  para korban gempa di tempat-tempat pengungsian,” ungkap Sahril.

Anggota Tim ACT saat melakukan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian kepada warga korban gempa

Program ini, kata dia, telah dijalankan disejumlah  lokasi terdampak yang meliputi Kota Ambon, Kabupaten Maluku tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat.

Hal senada juga disampaikan Sekjen MRI-ACT Maluku Wahab Loilatu. Menurutnya,  MRI-ACT Maluku selalu  bersama dengan masyarakat korban gempa dengan terus melakukan pelayanan secara bertahap.

“Titik pengungsian dan relawan yang kita punya mungkin tidak sepadan, tapi kami akan tetap berusaha, untuk bisa melayani semua warga yang terkena dampak gempa walaupun butuh proses agar bisa menjangkau semuanya,” tandasnya.

Dikatakan, pihaknya juga telah memutuskan untuk membuat dapur umum yang berfungsi untuk melayani para korban gempa di sejumlah lokasi pengungsi. Hal ini ditempuh, karena pengalaman di lapangan terkait pendistribusian bantuan baik dari pemerintah maupun dari para relawan sosial selama ini tidak merata.

“Banyak menimbulkan masalah, dan membuat sesama warga saling adu mulut. Kami akhirnya mengambil sikap ini untuk menghidari warga yang saling adu mulut dengan membuat dapur umum, sehingga bisa menjangkau semua warga agar.

Loilatu menjelaskan, dengan adanya dapur umum ini, maka logistik yang di distribusikan ke tiap dapur umum sesuai dengan penerima manfaat, dapat melayani rarta-rata sebanyak  150 hingga 300 jiwa  penerima manfaat.

“ACT juga mengajak kepada semua elemen masyarakat, kepada semua para dermawan untuk turut bersama-sama dalam membantu para saudara-saudara kita yang tertimpa bencana gempa bumi dengan berdonasi sebisanya,” harapnya. (BB-DIO)

Close Menu