Akurasi

Pemerhati Sosial Politik
M.J. Latuconsina, S.IP, MA

Oleh : M.J. Latuconsina, S.IP, MA (Pemerhati Sosial Politik)

MENDAHULUINYA meminjam ungkapan kontemplatif Alī bin Abī Thālib, seorang  khalifah keempat yang berkuasa pada tahun 656 sampai 661 Masehi, yang merupakan sahabat utama Nabi Muhamad Shalallaahu Alaihi Wassalaam bahwa, “orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.”

Kata-kata khalifah keempat yang bernas itu menandaskan bahwa kejujuran tidak saja bakal mendapat kepercayaan dan cinta, melainkan juga mendapatkan rasa hormat. Tentu rasa hormat itu dalam perspektif organisasi publik, yang perlu mendapat kepercayaan khalayak, dimana hal itu berkaitan dengan akurasi kinerja mereka bagi kemaslahatan kesehatan masyarakat di tengah pendemi corona.

***

Terlepas dari itu, dalam suatu organisasi publik maupun organisasi swasta, selalu dilakukan dengan merealisasi fungsi manajemen yang baik, yang tak lain demi pencapaian tujuan organisasi-organsasi itu. Sehingga organisasi-organisasi itu menadang perlu adanya realisasi fungsi manajemen yang baik.

Hal ini sebagaimana pemikiran George Robert Terry (1997) seorang ahli manajemen berkebangsaan Amerika Serikat, dimana ia menyebutkan fungsi manajemen terdiri dari Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (pelaksanaan pekerjaan), dan Controlling (pengawasan), yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya.

Sebenarnya masih banyak lagi varian fungsi manajemen yang dikemukakan oleh para ahli manajemen. Misalnya saja Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell (1996), yang menyebutkan fungsi manajemen terdiri dari Planning (Perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Staffing (pengadaan staf), Directing (pengarahan), dan Controling (pengawasan).

Begitu pula Ernest Dale (2017) mengemukakan varian yang hampir sama pula yakni ; Staffing (pengadaan staf), Directing (pengarahan), Innovating (inovasi), dan representing (perwakilan).

Relevansi dengan fungsi manajemen organisasi publik, yang terkait dengan korban pendemi corona, tentu perlu penerapan fungsi manajemen yang baik pula. Dalam konteks ini,  fungsi Staffing dan Directing, yang perlu realisasikan oleh para pimpinan pada suatu lembaga publik, yang dipercayakan dalam mengidentifikasi korban corona.

BACA JUGA:  Adakah Efek Kejut dari Ma'ruf & Sandi?

Sebab hal itu bermula dari dua fungsi ini, dimana jika staf yang handal maka akan mudah diarahkan, untuk bekerja secara optimal tanpa adanya kesalahan prosedur, yang mereka buat  dikemudian hari, yang berimplikasi negatif terhadap ketidakpercayaan publik (distrust).

Berikutnya lagi realisasi dari fungsi Controlling, yang menyangkut dengan kinerja staf harus di awasi oleh para pimpinan mereka. Hal ini untuk memastikan akurasi daripada kinerja mereka, untuk memastikan orang-orang yang benar-benar terkena virus corona dari sisi medis, sekaligus meminimalisir salah pengidentifikasian korban corona, yang berakibat fatal pada kesalahan prosedur pemakaman, dan dampak psikologisnya bagi keluarga yang salah diifentifikasi itu, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu di kota ini.

Jika fungsi Conttroling itu berjalan baik, yang diikuti dengan adanya akurasi, maka fungsi berikutnya lagi adalah fungsi Representing. Pada fungsi representing ini organisasi publik yang dipercayakan menangangi corana merealisasikannya, dengan mempublis secara akurat menyangkut dengan korban virus corona kepada khalayak melalui media massa, untuk di makamkan sesuai prosedur pemakaman korban corona. Sehingga publik bisa mengetahuinya, dengan standard penyampaian informasinya mengikuti regulasi penanganan korban corona, yang dirahasiakan namanya.

Mengakhirinya narasi ini, meminjam kata-kata romantik Diego Christian, salah seorang novelis milineal yang populer melalui novelnya “Thy Will Be Done” dan “Kepada Gema”, yang di publis di tahun 2015 dan 2016 lalu bahwa, “karena selama matahari masih terbit di sana, selama gue belum berhenti mencari lo, gue tahu, gue akan selalu punya harapan, dan kepastian, untuk menemukan lo.” Tentu bukan pada ungkapan yang melankolis ini, melainkan diksi “harapan” dan “kepastian” pada kata-kata ini, dimana perlu menjadi suatu perenungan bagi organisasi publik tentang harapan dan kepastian kepada warga masyarakat di tengah pendemi corona (***)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire