Hari Esok Akan Kembali

Sam Rery

Hiruk pikuk politik hari ini tidaklah berbedah jauh dengan 2014 lalu,, ragam isu politik menuju 2019 kian masif dan eksesif mewarnai ruang virtual (dunia maya), isu2 lama tentang kedua capres di 2014 kemarin dijadikan sebagai senjata penetrasi lawan dn kemudian dihangatkan kembali untuk memersuasi kognisi kahlayak.

Rasanya sulit untuk menghindar dari problem semacam ini,, karena ruang virtual (dunia maya) adalah ruang bebas berekspresi tanpa jeda, artinya di ruang itulah tidak ada dominasi atau hegomoni kekuasaan untuk membatasi ekspresi dari setiap pengguna,, pengguna (netizen) bebas nilai untuk berekspresi dilautan maya,,

2019 adalah kembaran 2014

Wajah pilpres 2019 diasumsikan sangat mirip dengan wajah pilpres 2014, hanya saja yang membedakannya adalah pendamping dari kedua capres,, isu2 politik yang bersileweran di jagad maya adalah isu2 lama yang suda usang, akan tetapi memiliki daya penetrasi yang kuat, sehingga panaskan kembali seakan terasa hangat dn baru keluar dari tempat produksi.

Perbedaan pertimbangan pilihan dari Jokowi dan Prabowo saat memilih pendamping mereka disaat-saat menit terakhir, pilihan itu memang berbeda dengan empat tahun yang lalu, dimana masing-masing kandidat capres jauh2 hari suda mendeklarasikan pasangan (cawapres) mereka sebelum satu minggu masuk tanggal penutupan pendaftaran,, berbeda dengan kali ini,, dimana masing-capres menentukan pendampingnya dimenit-menit terakhir penutupan pendaftaran di KPU.

Ada keunikan pilihan politik capres dn cawapres ditahun ini, dimana masing-masing kubu dari partai pengusung capres dan cawapres memiliki dinamika yang berbeda. Dari partai koalisi pengusung Jokowi jauh-jauh hari partai-partai politik suda menentukan sikap untuk mendukung Jokowi, namun capresnya ditentukan menit-terakhir.

Penentuan pilihan cawapres untuk mendampingi Jokowi terkesan hidup takmau matipun tak segan,, dua pilihan yang dihadapkan antara keinginan Jokowi dan Partai pengusung yang sulit ditafsirkan bagia khalayak.

BACA JUGA:  Pancasila Sebagai Cerminan Islam 'Rahmatan Lil Alamin'

Relasi kuasa politik yang menjadi titik kulminasi antara kepentingan elit partai politik dan harapan masyarakat pada ukuran elektabisitas cawapres, menjadikan Jokowi dilematis menentukan pilihannya. Ada anggapan bahwa ketika Jokowi dengan keperkasaan power dn elektabilitasnya mendominasi keinginan partai pengusung maka tentu membuka peluang untuk hadirnya poros ketiga dalam kontestasi elektoral pilpres kali ini.

Partai pengusung Jokowi juga barangkali memiliki pilihan politik yang berbeda, dalam prespektif komunikasi politik bisa dilihat bahwa ada pertimbangan sturktur peluang di 2024, sehingga tidak memungkinkan untuk memberi peluang bagi cawapres dari nonpartai untuk mendampingi Jokowi.

Artinya ketika cawapres dari nonpartai ketika dipilih untuk mendampingi Jokowi maka 2024 tentu menjadi peluang merahi tiket untuk membuka karpet merah menuju istana di 2024. Dengan demikian pilihan itu diserahkan kepada sosok yang suda senjah dn tentu dipastikan akan kompetitif lagi persaingan gejolak politik untuk periode berikutnya.

Alasan seperti inilah kemudian disederhanakan ke publik bahwa sosok yang suda senja mampu merangkul dn mendinginkan suasana politik, alasan yang medasar adalah akhir-akhir ini isu-isu agama menjadi tranding topik yang mewarnai jagad politik di tahun ini.

Lalu begimana dengan kubu penantang petahana, yakni Prabowo yang awalnya digadang-gadang mendampingi AHY, dimana menjelang penutupan pendaftaran di KPU, Prabowo dn SBY terus terjalin komunikasi secara intensif, dn publik menduga SBY berupaya menyatukan Prabowo dengan AHY, akan tetapi dugaan itu malah menjadi gejolak bagi partai PKS yang suda lama membangun komitment dengan Prabowo.

Menjelang diakhir menit setelah Jokowi dn partai pengusungnya mendeklarasikan pasangannya, kurang lebih berselang 3 jam kemudian Prabowo memberikan kejutan bagi publik, bahwa orang yang selama ini tidak masuk dalam daftar pencalonan cawapres Prabowo, kini nama cawapres yang usianya sangat muda, yang sering diidentikan dengan cawapres dari generasi melenial.

BACA JUGA:  Turbulensi Menghantui Dunia Penerbangan

Disitulah menjadi efek kejut pada publik, namun pilihan Prabowo tidaklah mudah, mengalami dinamika yang hampir mirip dengan kubu Jokowi. Pilihan itu tentu ada pertimbangan yang matang, bisa diasumsikan bahwa pertimbangan pilihan cawapres Prabowo tentu mengarah pada harus cawapres yang paham ekonomi, juga mampu memberikan insentif elektoral untuk memenangkan pertarungan.

Pertimbangan yang saat ini suda mencuat dipermukaan adalah bagaimana mengait pemilih dari generasi melenial, karena pemilih melenial cukup banyak jumlahnya yang menjadi pertimbangan dalam pertaruangan elektoral kali ini.

Disinilah letak perbedaan dan persamaan dari kedua capres 2019 ini.

 

Oleh : Sam Rery (Alumnus STAIN Ambon)

 

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire