Krisis Isi Perut di Era Pandemi Covid-19

M. Rusdi,S.Pd.,M.Pd
M. Rusdi,S.Pd.,M.Pd

Oleh: M. Rusdi,S.Pd.,M.Pd (Dosen Ilmu Pendidikan Sosiologi, Universitas Iqra Buru)

DI muka bumi apa yang lebih menakutkan dari pada dracula, vampire atau zombie? Dari pertanyaan tersebut terjawab pada konteks sekarang dengan munculnya pandemi virus corona (Covid-19). Wabah virus ini secara Internasional telah mengalihkan semua perhatian, ia seperti monster yang memiliki momok menakutkan di tengah kumpulan manusia. Menjadi sorotan publik tak  terkecuali di Tanah Air.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengantisipasi keganasan dari proses penyebarannya. Salah satunya dengan penerapan PSBB, menerapkan pembatasan social distancing, dan lain-lain. Namun di balik upaya yang dilakukan ada beberapa fenomena sosial yang miris menyentuh nurani kemanusiaan di tengah wabah virus yang terjadi di Tanah Air.

Seperti yang terjadi di Sumatera Selatan, dua warga kakak beradik ditemukan dalam kondisi kurus kering karena kelaparan, (detiknews;22 April 2020). Sementara di media yang lain, seorang warga berusia 40 tahun di Medan, Sumatera Utara nekat mencuri beras karena kelaparan.

Meski ini merupakan pelanggaran yang konsekuensinya adalah jeruji besi, namun tetap nekat dilakukan karena persoalan perut untuk tetap hidup. Serta warga tersebut tidak lagi bekerja seperti biasanya karena wabah virus, (Kompas.com; 21 April 2020). Di lokasi lain, empat anak di Serang Banteng kehilangan ibunya bukan karena terinfeksi virus. Namun karena serangan jantung usai 2 hari kelaparan.

Wabah ini, membuat keadaan darurat kesehatan, menguncang ekonomi global dengan bisnis-bisnis untuk memperjuangkan perut, menghilangkan lapangan kerja, serta jutaan manusia lainnya terancam menghadapi kelaparan jika wabah ini terus berlangsung hingga akhir tahun 2020.

Krisis kelaparan di Tanah Air bukanlah problem yang baru. Di tambah dengan keberadaan wabah virus, ini semakin memperparah. Jumlah populasi manusia yang terjangkit terus meningkat, di tambah dengan krisis sosial, dan pemberian bantuan sembako sebagian tidak merata karena ego individualisme yang mengedepankan kepentingan individu daripada kepentingan sosial, sehingga semakin memperburuk  keadaan.

BACA JUGA:  Sepak Bola, Relasi Sosial Manusia dan Hiburan di Masa Pandemi

Mengantisipasi Krisis Kelaparan

Sebagian perusahaan memberikan sinyal, bahwa kemampuan keungannya untuk bertahan maksimal 6 bulan kedepan. Ini bertanda akan terjadi gelombang PHK besar-besaran, tentunya ini bukanlah informasi yang menggembirakan.

Di tambah dengan situasi pada bulan-bulan september 2020 – februari 2021 yang masuk musim kemarau atau musim paceklik bagi sebagian petani, karena pasokan air irigasinya terhenti.

Di tengah kondisi seperti ini, langkah sederhana apa yang bisa dilakukan? Seperti yang dikemukakan oleh George Ritzer tetang teori fungsionalisme struktural, dimana setiap struktur dalam sistem sosial, juga berlaku fungsional terhadap yang lainnya.

Sebaliknya jika setiap struktur tidak bergerak berdasarkan fungsinya maka akan mengalami ketimpangan sosial, akibat dari ketidakseimbangan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Teori ini cenderung melihat sumbangan suatu sistem atau peristiwa terhadap sistem lain.Sehinga setiap sistem harus difungsikan, berdasarkan kualifikasi keilmuannya.

Tentunya untuk mengantisipasi krisis kelaparan dan kemungkinan terburuk pada konteks sekarang atau yang akan datang adalah dengan memanfaatkan lahan pekarangan, kebun serta lahan non produktif lainnya. Dan memprioritaskan melakukan penanaman pangan berdasarkan keahlian yang cepat berproduksi yang hasinya bisa cepat panen.

Misalnya tanaman sayuran, umbi-umbian atau singkong dan sebagainya  yang harus dilakukan secara masif di lingkungan masyarakat desa dengan memanfaatkan lahan kosong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota.

Pemerintah idealnya tampil di depan, memastikan ketersediaan benih. Dengan adanya gerakan antisipasi mengatasi krisis kelaparan di lingkungan yang starnya di desa, maka hal ini dapat memberikan cadangan pangan disaat masyarakat desa atau kota mengalami krisis pendapatan.

Kondisi masyarakat Indonesia berbeda dengan Jepang dan beberapa negara maju yang memiliki dana yang cukup, sehingga bisa memberikan jaminan makanan kepada rakyatnya. Konteks sekarang waktunya untuk saling membantu, karena wabah covid-19 merupakan ancaman yang nyata, lebih menakutkan dari ,dracula, vampire dan zombie (***)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire