Menemukan Kembali Maluku, Gravitasi Ekonomi yang Hilang

  • Opini
Menemukan Kembali Maluku, Gravitasi Ekonomi yang Hilang
Muhammad Fauzan Husni Alkatiri (Anggota DPRD Maluku terpilih dari PKS)

Oleh: Muhammad Fauzan Husni Alkatiri (Anggota DPRD Maluku terpilih dari PKS)

ALHAMDULILLAH sepanjang pagi hingga siang tadi telah dilangsungkan acara pelantikan anggota DPRD Provinsi Maluku  masa bakti 2019-2024 di Gedung DPRD Provinsi Maluku, Karang Panjang Ambon. Sebagai orang yang dipercaya rakyat dan punya kesempatan sebagai anggota DPRD Maluku, saya mohon doa dan dukungan bapak/ibu dan sahabat sekalian agar dapat mengemban tugas dan amanah ini dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Anggota DPRD adalah wakil rakyat, dan sebagai wakil rakyat saya  hanyalah juru bicara atas aspirasi dan kehendak rakyat. Baik yang disampaikan secara langsung kepada saya untuk disampaikan kepada pemerintah, maupun kekuatan bacaan saya terhadap realitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terjadi di masyarakat. Mengingat kehidupan masyarakat itu dinamis, maka kehendak dan aspirasi mereka juga dinamis.

Disinilah kekuatan akal pikiran seorang wakil rakyat di uji untuk menangkap kehendak dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Mengingat, perubahan atau transformasi sosial itu memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.

Kita tahu bersama, bahwa perubahan-perubahan itu telah membentuk Maluku hari ini. Maluku hari ini adalah kenyataan hari ini. Apakah kenyataan-kenyataan tersebut?

Di berbagai media elektronik, media online, media sosial, hingga diskusi-diskusi formal dan diskusi warung kopi, mata dan telingan kita selalu disuguhi informasi tentang kehidupan rakyat Maluku yang identik dengan kemiskinan, pengangguran, aksesibilitas rendah, sarana dan prasarana terbatas, IPM rendah, korupsi marak, kriminalitas, dan berbagai isu lainnya.

Kita tidak boleh gegabah menuduh siapapun sebagai penyebab hal-hal di atas. Kita semua bertanggung jawab terhadap kondisi ini, yang mana sebuah perubahan terus-menerus yang tidak dapat kita kendalikan dan bergerak bak bola salju telah menciptakan masalah-masalah besar di atas.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, kita hanya butuh sesuatu yang sederhana namun memiliki kekuatan dahsyat untuk menemukan kembali Maluku Kita sebagai sebuah Gravitasi Ekonomi Nasional. Apakah itu? Mimpi dan Kehendak Kolektif. Inilah jembatan yang akan mengantarkan kita semua pada visi kesejahteraan Maluku.

Apaka daerah kita, kebudayaan kita, peradaban kita pernah menjadi Gravitasi Ekonomi? Ya, bukan sekedar Gravitasi Ekonomi lokal dan regional, bahkan Maluku pernah menjadi Gravitasi Ekonomi Global. Karena rempah Maluku lah, pedagang dari berbagai penjuru dunia datang berkunjung ke wilayah nusantara. Karena rempah Maluku lah kita juga bernasib nahas dijajah selama ratusan tahun.

Pada masanya, cengkeh dan pala setara emas dan perak. Satu ekspedisi kapal niaga bangsa eropa bisa menjadi APBN setahun negara mereka. Pulau Run kecil di Banda Neira ditukar setara Pulau Manhattan yang luas di Amerika Serikat.

Deskripsi sederhana ini bisa menjadi gambaran bahwa begitu kaya dan sejahteranya masyarakat Maluku masa itu. Namun, sekali lagi bahwa kita kurang tanggap terhadap perubahan dan dinamika kehidupan baik yang terjadi pada skala lokal, regional maupun global.

Transformasi pengetahuan dan teknologi telah mengubah wajah dunia dalam setiap dekade perjalanan sejarah. Manakala cengkeh dan pala telah dibudidayakan di tempat lain dan telah ditemukan komoditi penggantinya dalam industri pangan dan kesehatan kita tidak beranjak dari romantika sebagai bangsa penghasil rempah.

Dan masa kini, kita menyaksikan terjadi pergeseran besar dalam sirkuit komoditi pangan global, yang memaksa Maluku harus beradaptasi dengan dinamika itu. Energi dan pangan telah muncul sebagai kekuatan utama ekonomi. Maluku memiliki lautan luas yang menyimpan potensi perikanan dan potensi non hayati lainnya seperti minyak dan gas.

Maluku memiliki potensi gas di ladang blok Masela yang sedang dalam tahap eksploitasi. Maluku juga punya potensi besar perikanan di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP NRI) yakni WPP 714, 715, dan 718. Khusus WPP 718 menjadi sentra produksi perikanan pelagis besar seperti Tuna dan Cakalang. Maka mimpi dan visi kita di masa kini adalah Laut, Maluku Biru sebagai sumber kesejahteraan.

Beta pribadi sejak merantau di luar Maluku dan berinteraksi dengan berbagai literatur sejarah, memahami potensi dan kekuatan sumberdaya Maluku. Dengan amanah yang diberikan oleh masyarakat Maluku selama lima tahun ke depan, beta akan berjuang dari kekuatan pemikiran pribadi hingga pengkondisian kekuatan pikiran kolektif dari seluruh wakil rakyat, sampai kekuatan pikiran kolektif seluruh pihak di Maluku utk membangun dan mengembangkan potensi yang ada.

Saya akan mendorong perubahan dan pembangunan pada sektor-sektor strategis yang berkaitan dengan pangan dan energi sebagai inti pembangunan ekonomi Maluku. Di DPRD Provinsi Maluku ada Komisi yang menangani sektor-sektor pertanian, kelautan dan perikanan, Pertambangan serta kehutanan.

Tentu amanah ini akan saya gunakan untuk membantu pemerintah daerah mewujudkan Visi Kesejahteraan Maluku dari matra darat dan laut. Kebetulan juga bahwa, polemik politik yang dilemparkan oleh Bapak Gubernur Maluku Murad Ismail agar pemerintah pusat peduli terhadap upaya pembangunan sektor kelautan dan perikanan Maluku bisa menjadi momentum awal mengawal visi dimaksud.

Dalam RPJMN lima tahun mendatang, politik anggaran negara untuk pengembangan sektor kelautan dan perikanan di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua dan Maluku akan menjadi prioritas nasional. Bandul kebijakan nasional ini perlu direspon pada skala lokal, dimana Pemerintah Daerah Maluku dan DPRD penting melakukan konsolidasi untuk meletakan pondasi-pondasi pundamental, diantaranya merumsukan berbagai regulasi daerah yang kondusif untuk kehadiran pembangunan nasional maupun investasi ekonomi.

Upaya menemukan kembali Maluku sebagai Gravitasi Ekonomi yang akan kita lakukan ini bukan sesuatu yang a-historis. Setidaknya ada 4 (empat) hal yang memperkuat argumen ini; Pertama, secara geografis, Propinsi Maluku adalah kawasan kepulauan strategis yang menghubungkan jalur transportasi vital (Laut Arafura) antara Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Papua serta letaknya pada posisi lalu lintas perdagangan internasional di Samudera Hindia sebagai salah satu pintu masuk (gate away) yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pelabuhan transit perdagangan internasional.

Pakar futuris  internasional Alvin Toffler memprediksi bahwa setelah perdagangan maritim era atlantis dan mediterania maka ke depan lalu lintas perdagangan  internasional akan didominasi oleh era Pasifik dan Hindia.

Kedua, secara sosio historis Maluku adalah eks kerajaan-kerajaan maritim yang pernah menunjukkan kejayaannya dibidang perdagangan maritim lintas negara. Ekonomi kerajaan-kerajaan di Maluku pada masa itu didukung oleh perdagangan komoditas pertanian dan perkebunan (rempah-rempah) yang memanfaatkan lautan sebagai jalur transaksi dengan saudagar-saudagar dari berbagai negara.

Ketiga, secara demografi dan ekonomi, masyarakat Maluku didominasi oleh penduduk yang hidup di wilayah pesisir dan didukung oleh potensi sumberdaya alam perikanan dan kelautan yang sangat besar. Keempat, secara filosofis-konseptual, Propinsi Maluku harus membangun “branch image” pembangunan ekonominya yang akan dijadikan sebagai titik acuan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pundamental pembangunan. Sebagai perbandingan, Jogjakarta dan Jawa Tengah dikenal dengan karakter pembangunan berbasis agraria, Jawa Barat dengan karakter agroindustri dan agribisnis, dan Jakarta dengan karakter perdagangan, industri dan jasa lainnya.

Untuk menjamin berjalannya ekonomi supply-demand dalam perdagangan antar daerah maupun internasional maka  Maluku harus memiliki sumberdaya ekonomi khas dan kompetitif yang dibutuhkan oleh daerah lain maupun negara lain. Sekali lagi, pilihan yang tepat adalah pembangunan daerah berbasis kelautan.

Di laut berbagai potensi pangan dan energi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat perekonomian daerah dan nasional. Ada potensi energi fosil (minyak dan gas), ada potensi energi terbarukan seperti energi pasang surut, angin, arus. Terdapat potensi perikanan yang melimpah di perairan Maluku. Terdapat berbagai potensi keanekaragaman hayati laut yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan industri pangan, kesehatan, kosmetika, dan lainnya.

Demikian catatan ini saya tuangkan sebagai sebuah Orasi Kebudayaan yang  saya sampaikan sebagai pegangan perjuangan politik selama mengemban amanah lima tahun mendatang.

Sebab, sesungguhnya politik itu bermakna ‘ri’ayah syuuni an-nas’, yakni mengurusi urusan masyarakat. Berdasarkan hal ini maka saya meyakini politisi/politikus, mestinya dilakoni oleh orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam mengurusi urusan rakyat.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki cara berpikir untuk mengurusi pemerintahan dan urusan rakyat, memiliki sikap jiwa (nafsiyah) yang baik, memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjalankan perkara kenegaraan, menyelesaikan problematika kerakyatan yang tengah dihadapi dan menuntaskannya penuh kebijaksanaan dan keadilan. Saya sangat terbuka untuk menerima saran dan masukan dari saudara semua agar tetap dalam semangat memperjuangkan aspirasi masyarakat (***)

Close Menu