Penerbangan Ambon-Denpasar, Pintu Gerbang Pariwisata Maluku

Moh. Ridwan Litiloly (Aktivis HMI Cabang Namlea)

Oleh : Moh. Ridwan Litiloly (Aktivis  HMI Cabang Namlea)

ADA yang menarik dari dibukanya rute penerbangan langsung Ambon-Denpasar dengan menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 bagi masyarakat Maluku.

Pendaratan perdana yang menjadi bukti telah dibukanya rute tersebut berjalan mulus pada minggu (22/12/2019) di Bandara Pattimura dan disambut oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku dan di damping beberapa pejabat daerah lainya.

Pesawat CRJ1000 tersebut memiliki kapasitas  96 penumpang yang terdiri dari 12 penumpang  bisnis dan 84 penumpang ekonomi. Armada CJR1000 Explore Jet Garuda Indonesia dijadwalkan pada setiap selasa, kamis dan sabtu.

Langakah kerja sama ini tentunya menjadi sebuah komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam mengembangkan sector pariwisata yang ada diberbagai kepulauan Maluku dengan mempermudah akses bagi para wisatawan untuk dapat berkunjung.

Kota Denpasar tentunya menjadi pilihan yang tepat. Apalagi hal tersebut jika ditinjau jumlah dari wisatawan mancan Negara yang berkunjung ke sana melalui bandaranya Ngurah Raid dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, kunjungan wisatawan Australia ke Bali meningkat menjadi 118.556 kunjungan selama 2019.

Sementara tiga negara lain yaitu Perancis menjadi 35.942, Jepang menjadi 33.474, dan Inggris menjadi 31.265. Kunjungan wisatawan asal Tiongkok menurun dari 136.424 pada 2018 menjadi 109.028.

Dipahami bahwa pentingnya penerbangan bagi sektor pariwisata dapat dilihat dari perkembangan jumlah perjalanan orang yang masuk dan keluar melalui beberapa pintu masuk utama di Indonesia. Dan sampai sekarang bali masi tetap menjadi pintu masuk utama para wisatawan mancan Negara.

Aksesibilitas memang menjadi faktor yang penting dalam menunjang idustri kepariwisataan di suatu daerah. Penerbangan merupakan moda transportasi yang sangat penting bagi perkembangan pasar wisata terutama untuk perjalanan jarak jauh, kemudian berkembang ke penerbangan jarak menengah bahkan  jarak pendek.

BACA JUGA:  Menjawab Delusi COVID-19 dengan ‘Islamization of Economy’ (Bagian I)

Pengembangan di sektor penerbangan mempunyai implikasi yang penting bagi perkembangan pasar wisata. Sehingga dipahami bahwa perjalanan untuk  wisata mempunyai karakteristik yang berbeda dengan perjalanan bisnis maupun tipe perjalanan yang  lain. Penerbangan juga membuka peluang bagi peningkatan sektor-sektor ekonomi yang berhubungan dengan kepariwisataan.

Upaya yang digencarkan Pemerintah Provinsi ini semoga saja dapat menjadi stimulus disektor pariwisata. Apalagi kita sadari sungguh pariwisawata menjadi sector yang paling evektif untuk mendongkrak devisa negri. Pada 2018 sektor Pariwisata Maluku mampu menyumbangkan PAD dengan angka fantastis, yaitu Rp. 995 Juta melebebihi target yang ditentukan yaitu Rp. 600 Juta.

Kepulauan yang berada di Provinsi Maluku memang  kaya akan spot wisata yang menggoda para wisatawan  untuk berkunjung. Belum lagi Provinsi yang disebut sebagai Negri para raja-raja ini kaya juga akan nilai historis dan budaya.

Masyaraka lokal harus mampu menjemput hal ini untuk dijadikan sebagai lokomotif penggerak perekonomianya. Sektor ini diyakini sangat efisien dan efektif dalam mndorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran.

Kesadaran masyarakat local juga menjadi satu fatktor penentu dalam menentukan maju mundurnya sector pariwisata disuatu tempat. Hal ini dapat dilihat dari prefpektif kemandirian masyarakat yang merupakan perwujudan interkoneksitas secara mandiri dalam menjaga dan melestarikan objek wisata alam dan objek wisata budaya yang ada.

Berkaitan dengan hal tersebut maka dibutuhkan sebuah konsep yang berbasis community approach atau community based development.  Sehingga masyarakat lokal yang akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata serta pelayanannya, dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsung keuntungan ekonomi.

Namun hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan, dikarenakan masyarakat tidak memiliki kemampuan secara finansial dan keahlian yang berkualitas untuk mengelolanya atau terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata yang berbasiskan alam dan budaya.

BACA JUGA:  Kelola Gas Masela di Maluku, Belajar dari Sejarah Pangkalan Brandan

Semua ini tentunya menjadi tanggung jawab semua pihak, sektor pariwisata Maluku harus terkonsepsikan secara terpadu dan dapat di terjemahkan oleh tiap-tiap kepala daerah (kabupaten/kota) yang ada di Provinsi Maluku. Karena dengan dibukanya rute penerbangan Ambon-Denpasar, berarti semakin terbuka lebar pintu gerbang pariwisata Maluku (***)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire