Pentakosta dan Pandemi Covid-19

Ekklephinus Sopacuaperu
E. Jefry Sopacuaperu (Mahasiswa Program Studi Pascasarjana Teologi UKDW)

Oleh : Ekklephinus Sopacuaperu (Sarjana Teologi)

PADA perayaan Pentakosta atau Hari Pencurahan Roh Kudus saat ini saya memiliki empat catatan sebagai berikut. Pertama, narasi pencurahan Roh Kudus yang dikisahkan dalam Kis. 2:1-13 menampilkan semua orang percaya yang berkumpul ketika itu mampu berbicara dalam berbagai bahasa lain, dan hal itu dimungkinkan karena Roh Kudus memenuhi mereka (Kis. 2:4).

Di dalam konteks pandemi Covid-19, kita perlu bertanya apakah Roh Kudus juga memampukan kita berbicara dalam bahasa lain? Bahasa lain seperti apakah itu? menurut hemat saya, di tengah pandemi Covid-19, Roh Kudus memampukan kita semua untuk dapat berbicara dalam bahasa korban, bahasa mereka yang menderita akibat pandemi Covid-19.

Bukan hanya mendengar bahasa korban, tetapi lebih dari pada itu, Roh Kudus memampukan kita semua untuk mengerti bahasa korban, bahkan berbicara dalam bahasa korban pandemi Covid-19. Bahasa korban menjadi bahasa kita bersama, bahasa yang ramah dan empati dengan para korban terdampak pandemi CMakovid-19.

Kedua, daya kreatif Roh Kudus yang memampukan kita bebicara dalam bahasa korban di tengah pandemi Covid-19, memberikan kita daya, kekuatan untuk bergerak aktif-dinamis, sebagaimana roh kudus itu adalah roh yang dinamis, kreatif, aktif-komunikatif.

Oleh karenanya, berbicara dalam bahasa korban adalah berbicara dalam kreatifitas tindakan, dinamika perbuatan dan aktifitas gerakan. Semuanya itu dimungkinkan oleh karena Roh Kudus mendorong kita keluar dari “solitarisme personal” bergerak ke arah “solidarisme sosial”.

Dengan demikian, berbicara dalam bahasa korban adalah berbicara dalam solidarisme yang peduli, berbagi, penuh cinta dan belarasa bersama para korban terdampak pandemi Covid-19. Cara kita berbicara dalam kreatifitas tindakan, dinamika perbuatan dan aktifitas gerakan solidarisme sosial itu mengikat kita bersama menjadi komunitas yang dijiwai oleh roh kudus, komunio pneumatik.

BACA JUGA:  Keterasingan Politik

Ketiga, setelah mengucapkan kata-kata pengutusan (Yoh. 20:21), Yesus menghembusi (ἐνεφύσησεν) para murid dengan Roh Kudus. Peristiwa penghembusan Roh Kudus merupakan klimaks dari cerita Injil Yohanes dan signals “penciptaan kembali” (creation’s renewal) serta menjadi pusat dari “restorasi kemanusiaan” (restored humanity).

Tema “restorasi kemanusiaan” merupakan bagian dari misi Allah yang dikerjakan oleh Yesus dan kini dilanjutkan oleh para murid. Restorasi kemanusiaan itu telah dialami oleh para murid, sehingga dalam pengutusannya, semangat restorasi kemanusiaan itu mewarnai seluruh karya pengutusan yang dikerjakan. Roh kudus menuntun dan memimpin para murid serta mendorong “restorasi kemanusiaan” dalam seluruh kehidupan.

Semangat restorasi menjadi indikator pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu setiap pribadi (personal), persekutuan umat Tuhan (komunal) maupun lembaga gereja (institusional) yang dipenuhi oleh Roh Kudus atau berkarya (melayani) dalam tuntunan Roh Kudus, berarti berkarya untuk “restorasi kemanusian”, termasuk di tengah konteks pandemi Covid-19. Perayaan pentakosta “merestorasi kemanusiaan”kita di tengah pandemi.

Keempat, pengembusan Roh Kudus oleh Yesus kepada para murid (Yoh. 20:22) merupakan tindakan membagi kekuasaan (sharing of power) kepada murid-muridNya. Aspek membagi kekuasaan (sharing of power) secara jelas terlihat dari kuasa para murid untuk mengampuni dosa.

Kuasa atas dosa dimiliki oleh Yesus dan Yesus menyatakan pengampunan atas dosa-dosa dalam seluruh karya pengutusannya hingga puncak pengurbanannya di salib untuk menebus dosa dunia. Melalui peristiwa penghembusan Roh Kudus, Yesus menyatakan tindakan membagi kuasa (sharing of power), sehingga para murid diberi kuasa untuk menyatakan pengampunan dosa.

Prinsip sharing of power ini menjadi menarik, sebab prinsip ini mendasari seluruh tugas pengutusan para murid yang adalah representasi gereja. Karena itu, gereja dalam seluruh keberadaannya mesti mengejewantahkan serta menghadirkan prinsip sharing of power dalam praksis hidup (melembaga) sebagai gereja.

BACA JUGA:  Menagih Janji Repelita MUFAKAT, Sudahkah Lunas?

Bukan penumpukan kekuasaan, melainkan pembagian kekuasaan (sharing of power) bahkan berbagi sumber daya (sharing of resources) menjadi tanda pekerjaan Roh Kudus.  Perayaan pentakosta menyadarkan kita semua untuk berbagi kekuasaan/daya/tenaga/kekuatan dengan yang lain, juga berbagi sumber daya yang kita miliki, kepada mereka yang menderita, menjadi korban dari pandemi Covid-19.

Tindakan “berbagi” adalah gambaran dari tindakan hidup yang kuasai oleh roh kudus, sedangkan tindakan “menumpuk” untuk kepentingan diri sendiri adalah bagian dari perilaku hidup yang tidak dijiwai oleh Roh Kudus (**)

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire