Pola Asuh Anak, Otoriter Atau Demokrasi ?

Pola Asuh Anak, Otoriter Atau Demokrasi ?
Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy

Oleh : M. K. Ramdhani Pelupessy (Mahasiswa S2 di Universitas Negeri Yogyakarta)

Rumah yang ramah adalah “sekolah bagi anak”. Orang tua dalam keluarga berfungsi membentuk individu yang memiliki karakter dan sifat ideal dan menyiapkan mereka agar dapat hidup di masyarakat.

Inilah konsep pendidikan sebenarnya,  bukan hanya menyangkut penyaluran pengetahuan tetapi juga pembentukan kepribadian, pembentukan karakter. Olehnya  itu, keluarga menjadi penting dalam menentukan masa depan anak di kemudian hari. Jika situasi keluarga buruk maka sudah pasti perilaku anak pun akan menjadi buruk. Filsuf John Locke mengatakan bahwa anak ibarat kertas kosong yang bisa diberi gambar apa saja.

Hal yang sama juga selaras dengan salah-satu hadits Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal yaitu bahwa: sesungguhnya anak lahir dalam keadaan putih-bersih, orang tualah yang membuat anak menjadi Islam atau non-Islam (tanpa merendahkan umat lainnya). Maka menjadi penting posisi keluarga dalam membentuk perilaku anak, serta berefek pada upaya menentukan masa depan anak di kemudian hari.

Bronfenbrenner, salah-seorang teoritikus ekologi dalam psikologi, merumuskan lima sistem lingkungan yang sangat berpengaruh kuat dalam perkembangan anak. Namun, pada kesempatan ini, karena keterbatasan waktu dan tempat, maka penulis hanya akan mengulas secara singkat terkait system pertama dalam teori tersebut yaitu mikro sistem.

Mikro sistem adalah lingkungan yang paling kecil di alami oleh setiap individu, mencakup di dalamnya ialah rumah, sekolah, serta tempat penitipan anak. Di sistem ini terdapat pola asuh yang sering dipraktikkan oleh para orang tua, yaitu pola asuh otoriter dan demokrasi.

Pola asuh otoriter selalu meletakkan anak dibawah kendali orang tua. Pola asuh ini tidak membuka peluang bagi anak untuk bebas berpendapat. Kebebasan ekspresi anak sangat dikekang oleh tuntutan orang tua. Mungkin, karena orang   yang sangat sulit diatur, maka mau-tidak-mau anak harus di disiplin kan melalui pengekangan.

Akibatnya, ruang kebebasan anak tidak terbu kaselebar-lebarnya. Dampak dari pola asuh ini adalah runtuhnya nalar kreativitas pada anak. Padahal, tuntutan di era 4.0 saat ini adalah nalar kreativitas dari setiap individu sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan kehidupan masa kini.

Berbeda dengan pola asuh otoriter, pola asuh demokrasi bersifat lebih soft (halus). Pola asuh ini meletakkan anak sejajar dengan orang tua. Meskipun posisi anak dan orang tua sejajar, namun batas-batas adab dan sopan santun tetap harus tetap terjaga dalam hubungan orang tua-anak.

Artinya, pola asuh ini masih menjaga martabat orang tua sebagai individu yang harus di hormati  dan disegani oleh anak. Pola asuh ini memungkinkan terbukanya musyawarah antara anak dan orang tua. Anak tidak dikekang oleh orang tuanya. Ruang kebebasan anak dibuka selebar-lebarnya. Anak diberi kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, namun masihdibawah pantauan orang tua.

Contoh kecilnya ialah mengenai pilihan “warnabaju”. Tugas orang tuahanya memberikan sejumah pilihan, dengan perkataan, “Nak..dari sekian warna baju yang ada.. kamu lebih memilih warna apa?”. Pertanyaan ini memancing anak untuk memutuskan pilihannya sendiri. Jika anak sudah berani menentukan pilihannya, maka tugas orang tua selanjutnya ialah mengapresiasi pilihan anak tersebut.

Jika model komunikasi seperti itu terus dipraktikkan oleh semua orang tua, maka anak akan belajar menentukan nasibnya sendiri di kemudian hari. Dampak dari pola asuh ini adalah membuat anak lebih bertanggungjawab atas berbagai pilihan yang telah diputuskannya.

Disamping itu, anak akan lebih termotivasi untuk memahami setiap pilihan yang telah diputuskannya. Misalnya, ketika anak sudah memilih warna baju merah,maka dengan sendirinya si anak akan belajar bahwa kenapa baju merah ini bagus digunakan padaacara A? Dan kenapa baju biru cocok dipakai pada acara B? Artinya, pola asuh demokrasi memungkinkan anak untuk lebih berpikir kritis di kemudian hari.

Selainitu, pola asuh demokrasi ini juga berdampak pada nalar kreatif anak. Dari sekian penjelasan tersebut, terlihat bahwa pola asuh ini sangat selaras dengan tuntutan di era 4.0 bahwa nalar kritis dan kreativitas sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan masa kini.

Jadi, menurut penulis bahwa apabila kita ingin masa depan anak lebih cemerlang, maka pilihannya ialah menggunakan pola asuh demokrasi. Sebab pola asuh ini lebih selaras dengan tuntutan di era 4.0 saat ini. Semoga para orang tua dapat mempraktikkan pola asuh demokrasi di dalam keluarganya masing-masing. (***)

Close Menu