Ramadhan dan Semangat Pensucian Diri

Ilustrasi puasa

Oleh:Rusydi Sulaiman, (Dosen STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)

PUASA yang disebut,”shiyam” (bermakna syara’) , tercantum sebanyak delapan kali dalam al-Qur’an. Sedangkan yang menggunakan kata,”shaum” (bermakna menahan diri untuk tidak berbicara) tercantum satu kali dalam QS, Maryam (19):26, ” Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah:

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Shihab, 2003: 522). Dua kata lain digunakan yang identik dengan perintah puasa adalah kata,”an tashuumuu” (berpuasalah) dalam QS,al-Baqarah (2):184 dan kata,”ash-Shaaimiin wa ash-Shaaimaat” (orang laki-laki berpuasa dan orang perempuan berpuasa) dalam QS,al-Ahzab (33):35.

Bila disebutkan bahwa Arba’atun Hurum (QS,at-taubah (9): 37) adalah Bulan Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah, yaitu empat bulan yang disucikan dan dijaga kehormatannya, maka Bulan Rajab disebut sebagai momentum pensucian fisik (tazkiyah al-Badan). Begitu banyak peristiwa bersejarah di bulan tersebut sehingga memotivasi kita untuk lakukan kebaikan.

Bila pensucian diri sudah bermula di bulan Rajab, maka kebaikan akan terus berproses dan meningkat di bulan berikutnya. Sya’ban adalah tahapan pensucian kalbu (Tazkiyah al-Qalb). Adapun Ramadhan sebagai tahapan pensucian ruh (Tazkiyah al-Ruuh).

Begitu erat hubungan fisik dengan akal. Bila fisik baik dan sehat, maka akalpun menjadi baik dan sehat. “al-‘Aqlu al-saliim fi al-Jismi al-Saliim”. Selanjutnya akal yang sehat berpengaruh terhadap cara berpikir, dan berimpilikasi positif terhadap suasana kalbu.

Dua potensi-logika dan kalbu membedakan manusia dari makhluk lain. Jiwa suci mampu menyingkap hijab Allah dengan kekuatan mukasyafah. Orang muhsin merasakan energi (dzauq) kedekatan hubungan dengan Allah, Dzat Yang Mengemanasikan cahaya Nur Ilahi.

BACA JUGA:  Turbulensi Menghantui Dunia Penerbangan

Ramadhan tidak disentuh sebatas formalitas “Ahlan wa Sahlan wa Marhaban” atau sebutan, “welcome to Ramadhan”. Namun dibutuhkan jasmani yang sehat, logika yang kuat, suasana kalbu yang positif dan kedalaman jiwa (ruh). Bisa jadi anjuran puasa beberapa hari di Sya’ban adalah riyadhah sebagai bekal kesiapan diri untuk hadapi puasa di Bulan Ramadhan. Tidak mudah puasa ditunaikan apalagi dalam suasana keterpaksaan diri.

Selanjutnya, diharapkan tiga tahapan ruhaniah di Bulan Ramadhan, yaitu rahmah (pemberkahan) di sepuluh hari pertama, maghfirah (ampunan) di sepuluh hari kedua, dan itqun min al-Naar (terpelihara dari api neraka) di sepuluh hari ketiga.

“Awwaluhu rahmah, wa Ausathuhu maghfirah, wa Akhiruhu Itqun min al-Naar”. Hari-hari Ramadhan keseluruhannya identik dengan aktifitas ibadah. Zakat fitrah misalnya ditetapkan sebagai salah satu media pensucian diri selain puasa. Dalam Hadis Nabi dari Ibnu Abbas, bersabda:”Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai aktifitas pensucian diri bagi yang berpuasa dari keterlenaan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat,kehilafan dan makanan bagi orang-orang miskin.

Barang siapa menunaikannya sebelum shalat ‘Iid, disebut zakat maqbulah. Dan barang siapa menunaikannya sesudah shalat tersebut, disebut sedekah”. (HR,Abu Daud dan Ibnu Majah).

Sebagai bulan berkah, Ramadhan memberikan sentuhan ruhani”something spiritual” kepada orang tidak taat sekalipun. Orang yang sebelumnya tidak terbiasa berbuat baik dan enggan beribadah, mungkin saja tergerak langkah dan terdorong jiwanya untuk menjadi lebih baik.

Walaupun tidak berniat puasa, kenyataannya malu atau merasa segan makan dan minum di tempat umum. Dan yang terbiasa berbuat maksiat, membatasi kecenderungan negatifnya. Lambat laun (ia) akan menjadi orang baik, bahkan menjadi sangat taat beribadah.

Ketekunan dan ketaatan selama Ramadhan mengantarkan seseorang ke maqam yang lebih tinggi, sejalan dengan makna kata , Syawwal, yaitu meningkat. Syawwala berarti Irtafa’a. Irtafa’at darajaatuhu (meningkatlah derajatnya di hadapan Allah).

BACA JUGA:  Teknologi Informasi Pada Kebijakan “Work From Home”

Lebaran bukan untuk orang yang berpakaian baru, melainkan mereka yang ketaatannya meningkat. Sabda Nabi dari Abu Ayyub:”Terjemahan-Siapa yang berpuasa di bulan ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari Syawal, maka bagaikan berpuasa sepanjang masa (satu tahun).HR.Muslim.

Puasa adalah ibadah yang tidak serta merta melekat dalam diri seorang muslim, melainkan melalui tahapan yang kuat. Orang yang tidak pernah berpuasa dipertanyakan puasanya dan sebab-sebab yang memotivasi dirinya sehingga berpuasa. Dipastikan sangat tendensius, bukan semata-mata karena Allah dan keharusan kehambaannya.

Terdapat tiga tingkatan puasa dalam diri orang-orang yang beriman, yaitu: puasa awam, puasa khawash, dan puasa khawash al-Khawash.

Pertama, kelompok yang sekadar memenuhi normatifitas puasa. Tidak terlalu senang suasana kalbu mereka ketika menyambut Bulan Ramadhan apalagi semangat menunaikan ibadah tersebut.

Kedua, kelompok yang pasti beribadah puasa dan mungkin menambahkannya dengan fadhilah-fadhilah lain untuk kesempurnaan Ramadhan. Mereka berupaya (mujahadah) dalam beribadah agar dilekatkan iman dan ihtisab.

Ketiga, kelompok yang menyikapi ibadah puasa sebagai tradisi penghambaan mereka sebagai makhluk yang diciptakan kepada Allah, SWT.

Mereka merasakan kelezatan dalam ibadah puasa dan menyesali bila ada hambatan yang menghalangi kebaikan tersebut. Puasa awam disebut sebatas keislaman. Puasa kedua disebut tingkatan keimanan, dan puasa yang tertinggi adalah ibadah orang-orang yang muhsin.

Sebagai hamba yang beragama (muslim) dan beriman (mukmin), kita dituntut untuk meningkatkan ibadah kita menjadi ibadah yang benar-benar diistijabah oleh Allah, Swt.-dari muslim ke mukmin dan meningkat menjadi muhsin. Perbuatan seorang muhsin disebut; “ihsan”.

Kualitas ihsan berada diatas islam dan iman, dimaknai sebagai kerangka etik. Ihsan adalah jiwa dari islam dan iman. Iman adalah fondasi dari perpaduan ilmu dan keyakinan. Sinergitas keduanya akan membentuk hamba yang berakhlak mulia (al-Akhlaaq al-mahmuudah).

BACA JUGA:  Penanganan Covid-19 dan Ketidakpercayaan Publik

Orang muhsin tidak sekedar berperilaku dalam bentuk konkret, melainkan menghiasinya dengan suluk kepada Allah. Mudah-mudahan puasa kita memberikan sentuhan tersendiri bagi orang-orang disekitar. Selamat menyambut Ramadhan. (*)

Sumber : Bangkapos.com

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire