Sepak Bola, Relasi Sosial Manusia dan Hiburan di Masa Pandemi

Iskandar Pelupessy
Iskandar Pelupessy

Oleh : Iskandar Pelupessy (Pemerhati Masalah Sosial)

SEPAK bola bukan cuma soal tiki-taka, kick and rush atau catenaccio dan berbagai taktik yang mengisinya. Banyak harmoni yang tumbuh seiring dengan perkembangan yang ada, hiburan, bisnis judi dan lain sebagainya. Namun ada salah satu yang terus bersinggungan melintas antar Negara, ya dia itu yang bernama  politik.

Tak heran sepak bola dan politik pun bagaikan dua sisi mata uang, yang ditakdirkan tak akan pernah berpisah.  Jika sepakbola dan dan politik tak ubahnya dua sisi mata uang, maka kini sepakbola sebagai pelipur lara penghibur atas kebosanan covid-19.

Covid-19 tak ubahnya sebuah monster tak berwujud, masyarakat menjadi dilema antara berdiam dirumah bosan dan keluar rumah takut pandemi. Tak heran siaran langsung sepakbola liga-liga di eropa jadi penghibur membunuh kejenuhan dan waktu, menanti hingga pandemi ini usai.

Kejutan-kejutan terus mewarnai jagad sepakbola seperti halnya penantian panjang Liverpool menahan dahaga 30 tahun meraih trophy Liga Inggris. Prestasi ini memutus  penantian 30 tahun The Reds, julukan Liverpool.

Kali terakhir klub yang bermarkas di Anfield tersebut juara Liga Inggris adalah pada tahun 1990, ketika itu, Si Merah diasuh oleh pelatih legendaris, Kenny Dalglish.  Tepatnya, gelar terakhir mereka didapat pada musim kompetisi 1989-1990, ketika Liga Inggris masih bernama Divisi I.

Seperti diberitakan kompas.com, hasil tersebut pun seakan menjadi obat bagi Liverpool yang merayakan gelar juara Liga Inggris tak biasanya, tanpa kehadiran fans, karena terkait protokol menyikapi pandemi virus corona.

Selain kejutan-kejutan prestasi yang mengejutkan, sepakbola juga menceritakan kisah-kisah unik dalam kaitan dengan politik dunia. Beberapa waktu lalu di Celtic Park Stadium.

BACA JUGA:  Peluang BPOM Mengajukan Judicial Review Pasal 98 Ayat (3) UU Kesehatan

Ada hal unik yang terjadi di tribun penonton stadion yang berkapasitas tidak kurang dari 60 ribu penonton, pendukung setia Celtic FC tersebut membawa dan mengibarkan bendera Palestina sebagai rasa simpati mereka terhadap konflik yang merengut sejumlah korban.

Seperti yang dilansir BolaSport.com dari akun Twitter @Liam_O_Hare, berkibarnya bendera-bendera Palestina di pertandingan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas mereka untuk korban yang ada di Gaza.  Bagi Celtic ini kali kedua solidaritas kepada Palestina ditunjukan, bahkan di 2016 solidaritas ini berbuah denda, namun itu tidak menyurutkan atas dukungannnya kepada Palestina.

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire