Kisah JA Latumeten, Prof Psikiatris Nasionalis dari Desa Rutong

Prof. Jonas Andreas Latumeten

Pria cerdas dari Ambon ini pernah mencemooh kebijakan pemerintah yang melarang dokter pribumi membuka praktik meskipun sudah mengundurkan diri. “Kalau mereka melarang, anggap saja kami dukun. Tak perlu ada izin,”

BERITABETA.COM – Dalam sepekan ini publik kota Ambon dan Maluku umumnya dihebohkan dengan kabar seorang nenek yang divonis positif terinfeksi coronavirus desiase (Covid-19).

Pasien dirawat intens dan menjalani proses isolasi di Rumah Sakit Tentara (RST) Latumeten, Ambon. Nama, Latumeten muncul dalam setiap pemberitaan, namun sudah lama masyarakat mengenal nama rumah sakit itu dengan sebutan RST. Mungkin hanya soal ingatan dan gampang dalam ucapan. Tapi, nama Latumeten pun jarang terdengar, seiring dengan kebiasaan dalam penyebutan. Lalu siapa Latumeten?

Redaksi beritabeta.com tertarik untuk mempublish tentang sosok Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten, yang digali dari beberapa sumber.

Dalam tulisan Nur Janti yang dipublis Historia.id, sosok Prof. Jonas Andreas Latumeten disebut sebagai psikiatris pribumi generasi pertama yang aktif memperjuangkan nasib bangsa lewat profesinya.

Kendati bergelar pahlawan nasional dan namanya diabadikan menjadi nama jalan yang membentang di depan RSJ Suharto Heerjan (Grogol, Jakarta) dan RST Ambon, nama Jonas Andreas Latumeten tak begitu dikenal orang. Padahal, jasanya begitu besar.

Prof. dr. JA Latumeten, begitu ia dipanggil oleh rekan-rekan seperjuangannya, merupakan ahli jiwa generasi pertama. Tak banyak yang bisa diketahui tentang masa kecil pria kelahiran Ambon tahun 1888 itu kecuali dari keluarganya yang merupakan keluarga nelayan.

Sebagaimana umumnya anak lelaki di Negeri (desa) Rutong, tempat tinggal keluarga Latumeten, dia sudah membantu ayahnya sejak belia. Latumeten tak hanya ikut melaut dan menangkap ikan, tapi juga ikut memasarkannya ke Kota Ambon.

Dalam perjalanan ke Ambon, berjarak hampir 25 kilometer dari Rutong, itu seringkali ikan dagangan Latumeten diminta-paksa oleh aparat kepolisian atau birokrat kolonial. Pengalaman pahit itu menyemai kebenciannya pada Belanda.

Dari kiri ke kanan: J. B. Sitanala, J. A. Latumeten, Darnawan Mangoenkoesoemo, Iwa Koesoema Soemantri, H. D. J. Apituley. Berdiri di belakang: Mohamad Amir, Soekiman, Alinoeddin Boemi. (Hans Pols, Nurturing Indonesia).

Kendati kehidupan yang dilaluinya begitu keras, Latumeten tak ingin menyerah dan terus bersemangat dalam bersekolah. Ia terus menempuh study melalui sekolah Schakel (Sekolah Penghubung untuk menghubungkan pengajaran di Sekolah Bumi Putera dengan Pengajaran Barat).

BACA JUGA:  2.500 Kamar Hotel di-booking, Tampung 5.000 Peserta Deklarasi YAB di Ambon

Jonas lulus tes masuk ke ELS (Europesche Lagere School) yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda. Ia pun meneruskan pendidikan ke Batavia (Jakarta) mengikuti sekolah Kedokteran STOVIA dan berhasil merahi gelar Dokter.

Setelah lulus STOVIA Dokter Jonas segera pulang ke Ambon dan menikah dengan nona Leentje Tuhupeiory. Setelah dikaruniai seorang Putera (Weim Johanes), Dokter Jonas kembali ke Jakarta dan memulai karier sebagai dokter.

Jonas pindah ke Jawa dan bekerja di Rumahsakit Jiwa Lawang, Malang menjadi asisten dr. PHM Travaglino. Sambil bekerja, Latumeten kerap mengikuti pertemuan Jong Ambon dan aktif di Asosiasi Dokter Hindia. Pada 1919, organisasi ini menuntut peningkatan status profesional dokter pribumi.

Mereka memprotes pemerintah kolonial yang tidak memberi izin praktik, gaji rendah (lebih rendah dari perawat Eropa), dan beban kerja yang lebih berat dibanding dokter kulit putih. Para dokter pribumi ditempatkan di pelosok di mana jumlah fasilitas medis amat minim.

Pada Minggu, 2 November 1919, diadakan pertemuan besar yang menghadirkan beragam organisasi nasionalis, seperti Budi Utomo, Ambonsch Studiefonds, dan Sarekat Hindia.

Dalam pertemuan itu, Latumeten ikut berpidato tentang nasib dokter pribumi di tengah sikap rasis pemerintah kolonial yang mendarah-daging.Ia mengajak para dokter pribumi untuk melakukan pemogokan di dinas masing-masing. Ia juga mencemooh kebijakan pemerintah yang melarang dokter pribumi membuka praktik meskipun sudah mengundurkan diri.

“Kalau mereka melarang, anggap saja kami dukun. Tak perlu ada izin,” katanya, disambut tepuk tangan para peserta pertemuan.

Meski aktif dalam gerakan nasionalis, ia tetap bisa mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda. Pada 1922, Latumeten berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya.

Lelaki cerdas asal Desa Rutong ini, bisa dibilang orang Indonesia pertama yang mendalami ilmu kesehatan jiwa. Rekannya yang lain, seperti Mohammad Amir baru melanjutkan studi psikiatri tahun 1923. Sementara dokter asal Minahasa, Tom Kandou baru mulai mendalami ilmu ini pada 1931.

BACA JUGA:  APM Ajak Semua Masyarakat Maluku Ikut Membantu Korban Gempa

Begitu sampai di Belanda Latumeten bergabung dengan Asosiasi Dokter Hindia cabang Belanda, hingga jadi ketua pada 1924.

Anom B Prasetyo dalam tulisan berjudul  “Atase dari Kampung Rutong” yang dipublish di kompasiana.com menyebutkan, Jonas juga tercatat sebagai anggota Jong Ambon. Ia menjadi salah satu anggota Perhimpunan Indonesia (PI), pergerakan pemuda Tanah Air di Belanda yang mencita-citakan kemerdekaan bagi Indonesia. Keterlibatannya pada pergerakan kemerdekaan membuatnya dibuang ke Pulau Weh, Sabang.

Apa yang dialami Jones, membuat putranya Wim Jonas Latumeten bersama ketiga adiknya mengikuti sang ayah di tempat pembuangan. Pada 1929, masa pembuangan ayahnya berakhir. Saat itu, Wim berhasil menamatkan diploma di Europese Lagere School (ELS).

Nasionalisme Jonas tampak terlihat, ketika psikiatris Belanda yang bertugas di Indonesia, F. H. van Loon mengeluarkan tulisan tentang kondisi amok dan sifat orang pribumi, Asosiasi Dokter Hindia yang diketuai Latumeten mengeluarkan tulisan tandingan.

Hans Pols dalam Nurturing Indonesia menyebut tulisan empat halaman yang diterbitkan organisasi itu tak lain karya Latumeten. Isinya menyerang pandangan van Loon dan mendekonstruksi argumennya.

Van loon menulis tentang amok, kondisi marah tiba-tiba di depan umum dan terkadang bisa sampai membunuh. Ia menyebut, amok hanya terjadi di Hindia karena sifat manusianya masih primitif dan tidak bisa menahan emosi sehingga pertarungan fisik mudah terjadi.

Latumeten menolak penyataan ini. Ia menyebut Van Loon bersikap tidak objektif dan penelitiannya terpengaruh prasangka rasial. Ia mempertanyakan sifat emosional dan tukang kelahi yang disebut van Loon. Pasalnya, di Belanda sendiri Latumeten sering menemukan perkelahian di depan bar atau di jalanan, baik tangan kosong maupun dengan pisau.

“Kalau kami yang kelahi kalian sebut amok. Di sini, (di Belanda) disebut ekspresi budaya,” sindir Latumeten dalam tulisannya.

BACA JUGA:  Diduga Depresi, Mahasiswa Unpatti Tewas Gantung Diri di Kamar Kos  

Latumeten menerima gelar kedokteran Belanda pada 1924. Setahun berikutnya ia meraih gelar doktoral dalam bidang medis dengan disertasi “Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius”.

Setelah kembali ke Hindia, Latumeten tak banyak aktif di pergerakan secara politik. Ia lebih fokus pada pengobatan, khususnya untuk pribumi. Pada 1927 ia menjadi pengawas rumah sakitjiwa di Sabang. Tahun 1936, ia kembali bertugas di Rumahsakit Jiwa Lawang hingga pendudukan Jepang.

Nasib apes menghampirinya pada Mei 1945. Latumeten ditangkap oleh Kenpeitai. Ia dijebloskan ke penjara. Buruknya perlakuan penjara membuatnya hampir mati kelaparan.

Setelah Jepang kalah, ia hampir tak selamat karena di masa revolusi kecurigaan pada orang timur amat tinggi. Orang-orang Maluku Kristen sering dianggap pro-Belanda.

Meski sejak dulu Latumeten getol memperjuangkan kemerdekaan Indoensia, karena jabatan tingginya di RSJ Lawang, orang Ambon, dan Kristen, ia sempat jadi tahanan anak-anak muda pro-republik meski tidak lama.

Pada awal tahun 1946, Latumeten diangkat menjadi profesor psikiatri di Sekolah Tinggi Kedokteran  (cikal bakal FK UI). Di usia senjanya, ia masih dipercaya sebagai Inspektur rumahsakit jiwa di Kementerian Kesehatan Indonesia dan anggota Dewan Petimbangan Agung, bersama rekannya sesama dokter, Radjiman Wedjodiningrat.

Latumeten tak lama memegang posisi ini. Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia, perlakuan buruk di penjara Jepang rupanya merusak kesehatannya. Latumeten akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Djakarta pada 30 Mei 1948 dalam usia 60 tahun. (BB-DIO) 

Sumber : historia.id, balagu.com dan kompasiana.com

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire