Nurhayati Subakat, CEO Wardah yang Berbagi untuk COVID-19

Nurhayati Subakat

BERITABETA.COM –Saat wabah virus Corona melanda Indonesia, orang-orang gontok-gontokan membela tokoh idolanya. Media sosial menjadi ajang beradu argumen tentang siapa yang benar dan siapa yang berjasa. Warganet seakan larut dalam perdebatan panjang, tentu semua karena like and dis like.

Semua seperti lupa, Indonesia masih punya budaya gotong royong untuk kepentingan nasional. Hingga ada kabar seorang ibu menyumbang Rp 40 miliar untuk penanganan wabah virus corona (COVID-19). Sontak semua perhatian kemudian beralih kepada sosok si penyumpang itu. Namanya Nurhayati Subakat. Siapa dia?

Nurhayati Subakat adalah Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation (PTI),  sebuah perusahaan besar yang menangani 3 brand kosmetik lokal ternama, Wardah, Emina, dan Make Over.

Nurhayati Subakat mengaku terpanggil untuk membantu penanganan virus Corona (COVID -19) di Indonesia.

“Kami terdorong untuk segera memberi bantuan langsung terhadap penanganan pandemi virus Corona. Sejumlah rumah sakit di Jabodetabek membutuhkan banyak bantuan. Kami mencoba mengirimkan bantuan ke beberapa rumah sakit. Salah satunya Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, sebagai salah satu rumah sakit rujukan pasien COVID-19,”katanya.

PTI  juga mengirimkan bantuan berupa alat kesehatan dan alat pelindung diri (ADP) bagi tenaga medis, sesuai dengan kesediaan barang dan kemampuan, terutama ke beberapa rumah sakit yang berada di kawasan dengan tingkat urgensi yang tinggi.

Tak hanya itu, sejumlah bantuan hand sanitizer juga dipasok ke sejumlah ruang publik, institusi pendidikan, rumah ibadah. PTI  juga menggelontorkan bantuan alat kesehatan ke sejumlah rumah sakit senilai Rp 40 miliar.

Beberapa rumah sakit yang dibantu adalah RS Persahabatan, RS Pelni, dan RS Sulianti Saroso. Alat-alat kesehatan yang sudah dipesan PT Paragon itu, mulai dari alat swab senilai Rp 5 miliar, mobile X-Ray senilai Rp 4 miliar, ventilator senilai 5 miliar, dan banyak lainnya. Alat-alat itu sudah siap diberikan.

“Total keseluruhan bantuan sekitar Rp40 milyar, sebagai bentuk nyata komitmen kami untuk selalu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Eko Public Relation PT. Paragon.

BACA JUGA:  Yan Mongula, Si Pembuat ‘Hand Sanitizer’ dari Cap Tikus

Sukses Bersama Produk Wardah

Tahun 2018, Wardah mencatat sebagai perusahaan kosmetik nomer satu di bidang penjualan moisturizer atau pelembab. Wardah berhasil mengalahkan merek kosmetik lainnya yang banyak hadir di Indonesia.

“Alhamdulillah berkat kepercayaan masyarakat seri moisturizer Wardah menjadi nomer satu (penjualannya),” ujar Nurhayati dalam sebuah wawancara kepada Wolipop di kantornya, PT Paragon Technology and Innovation, di Jl. Swadharma Raya No.60, Kampung Baru III, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Nurhayati Subakat mengatakan ia tidak memiliki data pertumbuhan kosmetik halal secara total di tanah air. Namun pertumbuhan di Wardah mencapai 30 persen pada 2018.

“Alhamdulillah kami masih bisa tumbuh diatas 30 persen pada tahun 2018, mengenai tren kosmetik halal apa meningkat, kami tidak punya data,” katanya saat itu.

Tapi jika melihat data penjualan kuartal tiga industri kosmetik yang sudah go public dan sudah mendapat sertifikat halal, ada yang turun. Peningkatan penjualan Wardah, menurutnya karena kualitas yang terjaga, serta terus berinovasi.

Nurhayati Subakat, Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation

Kesuksesan Wardah tentu saja bukan hanya dari penjualan mereka yang produk pelembabnya bisa menduduki nomer satu. Begitu banyak pencapaian Wardah yang sebelumnya dibangun dari bisnis rumahan.

Memang banyak orang bertanya bagaimana Wardah bisa melejit. “Saya selalu bilang selain karena formula 4P (Product, Pricing, Positioning, Promotion) juga ada 1P yaitu pertolongan dari Allah SWT. Karena pada 2009 kita melakukan re-branding Wardah, pada tahun itu juga hijabers booming. Momennya pas, kita pun melejit,” tuturnya.

Memulai Usaha dari Rumah

Nurhayati lahir 27 Juli 1950 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Sejak kecil Nurhayati memang sudah dikenal sebagai anak yang cerdas, terbukti saat masuk perguruan tinggi ia berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Farmasi.

Setelah menyelesaikan kuliah tepat waktu, Nurhayati kemudian pulang kampung ke Padang dan bekerja di rumah sakit sebagai apoteker. Selanjutnya karena ingin mengembangkan karier, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan Wella Cosmetic dari tahun 1979 sampai 1985.

BACA JUGA:  Rina Matsushita, Model Jepang Penggila Klub Bola Indonesia

Setelah lima tahun bekerja, ia merasa belum maksimal dalam membagi waktu untuk lebih mengurus anak-anaknya. Hingga akhirnya Nurhayati memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang menyita waktu dan memutuskan untuk membangun usaha sendiri.

“Saya waktu itu kan kerja di PT Wella, sudah jadi QC Manager dengan latar belakang pendidikan saya Farmasi IPB. Kantor waktu itu di Bogor dan rumah saya di Tangerang, lumayan jauh kan. Saya akhirnya milih mundur, dengan pertimbangan mau usaha agar pada dasarnya saya mau mengurus anak. Jadi waktu itu agar saya bisa lebih fleksibel, “ kenang Nurhayati.

Selain berniat sungguh-sungguh untuk bisa lebih maksimal lagi dalam mengurus anak-anaknya. Protes yang datang dari anak-anak kepadanya, juga menjadi dasar mengapa akhirnya ia lebih memilih untuk `berdagang` sendiri ketimbang menjadi pekerja kantoran.

“Anak-anak setiap kali saya berangkat pasti protes ‘kenapa sih ibu kerja, memang uang dari bapak kurang,” katanya.

Seperti itulah yang dilontarkan anak-anak. Ia mengaku selalu berusaha setiap hari menyempatkan diri untuk memandikan anak-anak setiap pagi, lalu kasih makan dan antar anak-anak ke sekolah.

Sampai akhirnya, Nurhayati  menyadari keinginannya  untuk punya waktu lebih dengan  anak-anak,  namun tetap dalam  kondisi tidak hanya berdiam diri. Sadar punya banyak koneksi selama bekerja menjadi QC Manager Perusahaan PT Wella, dan  aset harta benda berupa mobil dan rumah, ia pun mantap mengambil langkah menjadi pengusaha di bidang produk kecantikan.

“Modal yang saya punya kala itu enggak besar. Tapi saya sudah punya rumah dan mobil, itu kan aset ya. Nah koneksi yang saya punya, seperti para supplier inilah juga modal saya, mereka yang memberi kredit pada saya,” pungkasnya.

Pada tahun 1985 ia pun mencoba untuk produksi shampo yang menargetkan salon-salon pinggiran di daerah Tangerang. Saat itu,  Ia mengakui tidak membutuhkan modal yang terlalu besar, hanya punya mobil yang bisa digunakan untuk memasarkan dagangan dan rumah untuk tempat produksi sehari-hari juga sudah cukup.

BACA JUGA:  “King of Krakatoa”, Tukirin yang Membanggakan Indonesia

Shampo hasil karyanya diberi merk ‘Putri’.  Produk ini pertama dijual hanya menyasar sejumlah salon pinggiran di wilayah Tangerang. Dengan harga yang terjangkau dan kualitasnya bagus, produk ‘Putri’ banyak peminat hingga Nurhayati bisa mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama PT Pusaka Tradisi Ibu dalam manajemen usaha shamponya.

Apesnya, setelah 5 tahun bisnisnya berkembang pesat, sebuah tragedi terjadi.  pabrik shampo miliknya dilalap api dan terbakar habis.

Nasib usaha shampo yang telah dirintis dengan kerja keras berada di ujung tanduk. Nurhayati sempat berpikir untuk menutup usaha karena belum terbayarnya utang di bank ditambah lagi dengan gaji karyawan yang belum diberikan haknya.

Tapi Nurhayati tidak pantang menyerah. Dengan kemauan yang kuat untuk kembali bangkit dari keterpurukan, akhirnya Nurhayati memulai kembali dari nol.

Modal usaha ia peroleh dari tabungan suami dan digunakan untuk membayar gaji karyawan serta membangun lagi tempat produksi usahanya. Pabriknya yang baru akhirnya berdiri dan beroperasi lagi. Ia pun kemudian mencoba untuk melakukan inovasi baru dengan membidik konsumen muslimah.

Tahun 1995,  sebuah merk dagang bernama Wardah tercipta dari tangan Nurhayati Subakat. Nama Wardah yang memiliki arti bunga mawar dipilih karena ia membuka usaha yang bertema islami.

Wardah diterima dengan cepat oleh masyarakat khususnya kaum muslimah. Terbukti di tahun 1999-2003 penjualan produk melonjak drastis. Strategi pasar dan promosi yang bagus disertai manajemen yang kuat membuat produk Wardah, karya  Nurhayati Subakat ini dengan cepat mengusai pasar kosmetik nasional.

Di tahun 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu berganti nama menjadi PT Paragon Technology & Innovation yang hingga kini mempunyai lebih dari 7.500 karyawan dan memiliki kapasitas produksi lebih dari 95 juta produk personal care dan make-up (BB-DIO)

Disadur dari Berbagai Sumber

Mitra Kami

Asosiasi Media Siber Indonesia

PR Newswire