ILUSTRASI : Lomba Lari Kaki Setang/Egrang yang mewarnai Festival Pesona Bupolo tahun 2019.
ILUSTRASI : Lomba Lari Kaki Setang/Egrang yang mewarnai Festival Pesona Bupolo tahun 2019.

BERITABETA.COM, Namlea  – Sejumlah permainan tradional ditampilkan dalam memerihkan Festival Pesona Bupolo ke-4. Ribuan orang bernostalgia dan larut dalam permainan tradional lomba lari tempurung dan ‘kaki setang’.

Kedua perimanan ini membuat penonton terhibur, bahkan ada yang mengakui lomba lari ‘kaki setang’ (egrang atau engrang) yang dipertontonkan seperti mengembalikan memory nostalgia masa kecil dan remaja.  

“Nonton lomba egrang hari ini membuat saya mengingat permainan masa kecilku dulu. Permainan ini  di sini dinamai ‘kaki setang’. Mungkin kerena kakinya jadi panjang ya,” ucap guru SMAN 2 Namlea, Murni Setiawati menanggapi ramainya dan meriahnya berbagai perlombaan rakyat pada Festival Pesona Bupolo ke-4 yang dibuka Sekda Buru, Drs Ahmad Assagaf di Obyek Wisata Pantai Jikumerasa, tanggal 13 Oktober lalu.

Kini Festival Pesona Bupolo ke-4 telah selesai, ditutup dengan hiburan panggung sekaligus donasi untuk korban gempa di Pulau Ambon dan Pulau Seram di Tugu Tani, Namlea pada Selasa malam (15/10/2019).

Kadis Pariwisata Kabupaten Buru, Drs Istanto Setyahadi ditemui beritabeta.com mengaku sangat bersyukur dan ikut berterima kasih kepada berbagai pihak, karena  acara yang bertajuk Festival Pesona Bupolo A Piece Of Heaven From Molluca dipadati ribuan pengunjung.

“Dalam kegiatan ini selain untuk masyarakat lokal Pulau Buru target kami juga para wisatawan Nusantara melinial. Tema yang kita usung di tahun ke-4 ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan ada penggalangan dana untuk korban gempa bumi di Maluku,” kata Kadis Pariwisata.

Dalam festival ini Dinas Pariwisata Kabupaten Buru menggelar beberapa lomba yakni lomba dayung parahu semang, lomba belah kelapa dan sisi kelapa, dan lomba lari tempurung serta lomba lari ‘kaki setang’.

Dua lomba yang disebutkan terakhir, mengingatkan Ibu Murni Setiawati, guru SMAN 2 Namlea, akan masa kecilnya. Lomba lari tempurung dan lari ‘kaki setang’ di daerah lain di Nusantara, lebih dikenal dengan sebutan egrang atau engrang.

Bila menggunakan tempurung, maka tempurung dari batok kelapa kering itu dibela dua dan diikat tali. Kemudian anak-anak, dan remaja menggunakannya berlari bahkan dijadikan ajang berlomba.

Pada Festival  Bupolo kali ini sengaja dilombakan untuk orang dewasa. Maka sangat terlihat lucu dan banyak mengundang tawa.  Banyak tempurung juga pecah akibat tak mampu menahan beban berat.

“Katong terhibur, jadi ingat nostalgia masa kecil dan ini permainan tradisional di kampung,”kata Ima Salasiwa.

Selain egrang dari tempurung, di Pulau Sumatera , Jawa, dan banyak tempat lainnya di Indonesia, permainan egrang/kaki setang ada yang menggunakan bambu dan ada yang menggunakan pelepah pohon sagu.

Menurut Kadispar Buru, Istanto Setyahadi, kaki setang atau egrang atau engrang adalah tongkat panjang yang terbuat dari bambu atau pelepah sagu (gaba-gaba) di mana seseorang bisa berdiri di atasnya. Kemudian berjalan dalam jarak atau waktu tertentu.

Egrang pada mulainya merupakan olahraga atau permainan tradisional yang jika diteliti, cukup sulit untuk menemukan dari mana asal mulanya. Di Maluku, lebih populer dengan lari ‘kaki setang’.

Beberapa peneliti mengatakan permainan ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan permainan ini mendapat pengaruh dari budaya China. Kosakata egrang itu sendiri berasal dari Bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang.

Permainan ‘kaki setang’ ini cukup unik dan cukup menguras tenaga. Karena para pemain harus terampil dalam menjaga keseimbangan tubuh dan berjalan dengan stabil di atas tongkat panjang.

Permainan berkembang dan cukup populer di tahun 1900-an. Ada beberapa yang menjadikan egrang /kaki setang sebagai permainan tradisional, dan  ada yang menganggapnya sebagai olahraga tradisional.

“Saat ini, egrang sendiri hanya bisa ditemui pada saat perayaan tertentu.Dan di festival kali ini kami munculkan untuk tetap menjaga agar permainan tradisional ini sampai dilupakan para anak-anak,”papar Istanto.

Kata Istanto, anak – anak zaman sekarang lebih mengenal gadget atau mainan yang terbuat dari plastik yang di impor ke Indonesia dibandingkan dengan permainan tradisional Indonesia.

Mungkin ada beberapa anak-anak yang tidak tahu apa itu permainan lari kaki setang, gasing (apiong), petak umpet, dan sebagainya.

“Jangan sampai permainan tradisional seperti ini masuk museum dan lembaga-lembaga penelitian atau budidaya yang hanya bisa diteliti untuk kepentingan sejarah dan budaya saja, akibat tidak ada lagi yang bermain,” ucap Istanto.

Bupati Buru melalui Sekda saat membuka kegiatan  menyatakan menyambut baik diselenggarakannya kegiatan ini sebagai upaya untuk memperkenalkan berbagai pesona pariwisata Buru dengan keunikan dan keragaman tradisi serta budaya masyarakat yang menjadi kearifan dan identitas masyarakat buru.

Pemerintah Kabupaten Buru melalui Dinas Pariwisata juga  telah membentuk komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Bupolo yang telah di kukuhkan langsung oleh ketua Genpi Provinsi Maluku.

GenPi merupakan patner Kementrian Pariwisata dalam mempromosikan destinasi parawisata sejak tahun 2016. Pembentukan GenPi Bupolo ini sebagai bentuk komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Buru untuk membangun dan mengembangkan berbagai potensi pariwisata Kabupaten Buru.  

“Pada waktunya nanti akan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kesejatraan Masyarakat Kabupaten Buru,” ucap Sekda (BB- lili ohorelle)