Bagian daun tanaman Gympie-gympie atau Gympie (Dendrocnide moroides). (FOTO: bobo.grid.id )
Bagian daun tanaman Gympie-gympie atau Gympie (Dendrocnide moroides). (FOTO: bobo.grid.id )

BERITABETA.COM – Bila cukup beruntung selamat dari kematian, sebagai gantinya mahluk hidup yang terkena racun tanaman ini akan merasakan sakit luar biasa selama beberapa bulan bahkan bertahun-tahun.

Di dunia hanya ada dua tempat yang menjadi habitat tumbuhnya jenis tanaman ini. Di hutan tropis Indonesia, khususnya Maluku dan hutan hujan Australia.

Tumbuhan ini dikenal dengan nama Gympie-gympie atau Gympie (Dendrocnide moroides). Namun, untuk Maluku belum jalas diketahui nama lokalnya (bahasa Maluku). Kalaupun ada diduga penamaan hanya menggunakan bahasa lokal setempat.

Seperti dikuti beritabeta.com dari situs bobo.grid.id (Selasa 17 September 2019)  menyebutkan, orang pertama yang mendokumentasikan dampak dari racun tanaman Gympie ini adalah AC Macmillan.

Surveyor jalan North Quensland, Australia itu melaporkan di tahun 1866, kudanya tersengat tumbuhan mematikan itu, lalu mengamuk dan mati dalam hitungan 2 jam.

Pada tahun 1994, hal yang sama juga dialami oleh Cyril Bromley yang jatuh di atas tumbuhan Gympie ketika sedang latihan militer.  Akibatnya Bromley harus dirawat di rumah sakit selama 3 minggu dan harus tersiksa dengan rasa sakit dari sengatan tersebut.

Disebutkan juga di dunia ada banyak jenis tumbuhan dan tanaman beracun,  tapi tidak ada yang bisa menyakiti seperti halnya tumbuhan Gympie ini.

Bentuk tanaman Gympie yang ditemukan di hutan Maluku

Ciri-ciri Gympie

Gympie stinger adalah tanaman semak berdaun lebar yang banyak ditemukan di kawasan Australia. Tanaman ini termasuk salah satu dari empat spesies tanaman menyengat yang ada di negara tersebut.

Gympie memiliki tinggi 1-2 meter, tanaman ini adalah yang paling beracun di dunia. Kecuali akar. Setiap bagian tubuh Gympie sangat mematikan, tidak hanya untuk manusia tapi juga anjing dan kuda.

Gympie memiliki daun lebar berbentuk hati, batang dan buahnya berwarna pink tua atau ungu yang semuanya diselimuti bulu kecil seperti jarum suntik yang menyengat.  

Bila bulu-bulu halus itu tersentuh, racun yang disebut moroidin akan langsung menembus tubuh. Kadang, bulu halusnya yang terbang di udara dan bisa masuk ke hidung akan membuat gatal, ruam, bersin, hingga mimisan.

Hugh Spencer seorang pakar dari Cape Tribulation Tropical Research Station menyarankan untuk segera mencuci area tubuh yang terkena Gympie dengan asam hidroklorik, kemuadian menggunakan strip wax untuk mengangkat semua bulu beracunnya.

Di Australia selain Gympie ada pula tiga jenis  tanaman lainnya yakni giant stinging tree (Dendrocnide excelsa), shiny leaf stinging tree (Dendrocnide photinophylla), dan atherton tableland stinger (Dendrocnide cordata), semuanya berasal dari satu keluarga Urticaceae.

Sementara di hutan Maluku dilaporkan juga menjadi habitat Gympie.  Sekilas tanaman Gympie -gympie tampak tidak berbahaya dengan daunnya yang lebar berbentuk hati, tapi setiap pohon yang kebanyakan tumbuh di hutan hujan tropis Indonesia – Australia ini sangat berbahaya.

Gympie dikenal sebagai tanaman beracun bahkan mampu menyengat dengan sangat menyakitkan. Rasa sakit tersebut bahkan sanggup membunuh hewan dan manusia.

Sebuah sengatan kecil saja akan membuat orang merasakan rasa sakit yang menyiksa selama berbulan-bulan dan umumnya baru bisa sembuh setelah lebih dari satu tahun. 

Bahkan saking ampuhnya sengatan tersebut, daun yang telah disimpan selama ratusan tahun pun masih bisa mengeluarkan racun sengatannya tersebut.  

Sengatan tersebut berasal dari bagian permukaan daun yang penuh dengan bulu-bulu halus yang setajam jarum, bulu-bulu tersebut memiliki kandungan racun yang disebut moroidin.

Ketika manusia menyentuh daun, dalam sekejap bulu-bulu halus yang tajam itu akan menyuntikkan moroidin ke dalam lapisan kulit, akibatnya bagian kulit tersebut akan mengalami rasa menyengat yang menyakitkan.

Bahkan, hanya dengan berdiri di depan tanaman itu bisa mengakibatkan gatal-gatal, ruam, bersin-bersin, dan mimisan parah. Hal itu disebabkan oleh zat moroidin yang dilepaskan ke udara oleh tanaman tersebut.

“Hal pertama yang akan anda rasakan adalah sensasi terbakar yang akan terus meningkat dan dalam setengah jam saja, rasa sakitnya cukup luar biasa,” kata Mike Leahy, seorang ahli virus.

Menurtnya, setelah itu persendian akan merasa sakit, dan kemungkinan terjadi bengkak di bawah ketiak yang sama menyakitkan dengan sengatan tersebut. Dalam kasus parah bisa sebabkan syok hingga kematian.

“Jika tidak segera mencabuti semua bulu tanaman itu dari kulit, maka mereka akan tetap menyuntikkan racun itu selama setahun,” tambahnya.

Dikembangkan Jadi Senjata Biologi

Daya mematikan tanaman Gympie ini, membuat para ahli yang telah berpengalaman dan tahu dengan situasi tersebut, ketika memasuki hutan, mereka akan menghindari ke daerah yang dipenuhi Gympie tersebut, atau menggunakan sarung tangan yang tebal, dan masker penutup wajah serta membawa tablet anti alergi.

Cyril Bromley menceritakan rasa sakitnya itu ‘seperti digigit ular’, dan ia juga bercerita ada seseorang yang meninggal setelah mengalami kejadian yang lebih parah, yaitu tanpa sengaja menggunakan daun Ghympie sebagai toilet darurat.

Saking dahsyatnya sengatan dari tanaman Gympie ini, militer Inggris pada tahun 1968 sempat mengembangkan tanaman ini sebagai senjata biologi.

“Sengatan itu seperti dibakar dengan asam panas dan listrik pada saat yang sama,” ungkap ahli entomologi dan ekologi, Dr. Marinna Hurley, yang pernah merasakan tersengat selama 3 tahun dalam penelitiannya. (ariesmunandi.blogspot.com/2015)

Doktor biologi tanaman asal Australia ini menjelaskan, jarum-jarum racun Gympie akan tetap aktif selama jangkau waktu lama meski si daun sudah jatuh ke tanah.

Alasannya, racun moroidin dikenal sangat sulit untuk dinetralkan. Bahkan, spesimen Gympie-gympie yang sudah diawetkan selama puluhan tahun masih mempunyai moroidin yang aktif.

“Mengalami tersengat adalah rasa sakit terburuk yang anda dapat bayangkan. Seperti dibakar dengan asam panas dan listrik pada saat yang sama,” ujar Entomologi dan Ekologi Marina Hurley.

Ia mengaku sempat disengat oleh Gympie ketika bertugas selama tiga tahun di Queensland Atherton Tableland.

Saat itu, berstatus sebagai seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas James Cook dan tengah menyelidiki herbivora yang memakan tanaman penyengat tersebut.

Itulah Gympie-Gympie, tanaman beracun paling mematikan yang juga dapat ditemukan di Indonesia, khsusnya di hutan Maluku. (BB-DIO)