aktifitas penambang emas tanpa izin di Gunung Botak yang kini sudah dihentikan.
aktifitas penambang emas tanpa izin di Gunung Botak yang kini sudah dihentikan.

BERITABETA, Namlea – Sore itu mendung menyelimuti kawasan gersang penuh tenda. Sugeng duduk berselonjor kaki di samping lubang persegi yang sisi-sisinya sepanjang 75 sentimeter. Ia baru saja naik ke permukaan setelah beberapa jam berada di lubang penambang itu.

Sugeng tak sendirian. Ia hanya satu dari ribuan penambang emas tanpa izin (peti) di gunung kering kerontang itu yang membuatnya deberi nama “Gunung Botak. Lubang di sisi Sugeng tak lain adalah tambang emas. Di lubang itu, Sugeng bersama 10 orang anggota kelompoknya melakukan penggalian dan mencari emas selama 30 hari.

Sialnya, meski sudah 30 hari alias sebulan, belum ada satu gram emas pun keluar dari tanah. Padahal kelompok Sugeng sudah menghabiskan uang Rp 60 juta selama proses penggalian.

Namun Sugeng tidak gusar. Itulah yang kadang terjadi pada seorang penambang, dan Sugeng bukan orang baru dalam dunia penambangan liar. Penambang ilegal adalah profesinya. Ia telah malang-melintang di dunia itu. Dia sengaja pergi dari daerah asalnya di Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, untuk berburu emas.

Emaslah alasan Sugeng berada di Gunung Botak. Emas membuat Sugeng menyeberang laut dan meninggalkan keluarganya yang terpisah jarak hampir 2.700 kilometer dari dia.

Jika emas sudah ditemukan, uang modal Rp 60 juta yang ia dapatkan dari seorang donator dan ia gunakan untuk menambang, bisa tertutupi alias balik modal. Sugeng juga bisa membawa pulang oleh-oleh berupa uang puluhan juta rupiah.

Sayangnya, selain soal keuangan, Sugeng tak pernah terpikir untuk menutup kembali lubang-lubang tambang yang sudah ia gali. Begitulah cerita penambang emas di Gunung Botak.

Kebijakan pemerintah daerah menutup kawasan tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, ternyata tidak membuat kapok para penambang liar tanpa izin.

Beberapa bulan lalu, aparat kepolisian berhasil membersihkan kawasan Gunung Botak, ribuan penambang dikeluarkan di kawasan itu. Ada sekitar 4000 ribuan penambang mengais rejeki di tengah ancaman maut. Sebagian besar adalah warga pendatang dari Jawa Barat dan Sulawessy.

Seketika Gunung Botak hening tanpa aktifitas. Beberapa kali penambang liar berusaha menyusup masuk kembali dan akhirnya ditertibkan lagi. Setelah itu, riwayat Gunung Botak tamat sudah.

Namun, tiba-tiba sebuah kabar kembali menggemparkan. Ternyata aktifitas di Gunung Botak malah berpindah lagi ke sebuah lokasi baru, yang belakangan terungkap disebut Gunung Nona.

Masih di Kabupaten Buru, Gunung Nona tidak terpantau tapi akhirnya menjadi buah bibir dan terungkap menyimpan potensi serupa dengan Gunung Botak, setelah Selasa (4/12/2018) lalu ada insiden pilu di kawasan tersebut.

Kilauan emas selalu saja menjadi bayangan dan angan-angan di setiap kepala penambang. Sampai-sampai ancaman maut pun tidak dihiraukan. Inilah yang terjadi, sebuah prahara kembali terulang. Dua orang mati tertimbun longsor di kawasan Gunung Nona. Mereka adalah warga asal Bogor, Jawa Barat Varaty Esu Suhedi (35) dan Suparman (35), warga Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Gunung Nona berada di Kecamatan Lolong­wuba, Kabupaten Buru. Jaraknya dengan Gunung Botak tidak terlalu jauh, tapi memang para penambang cukup lihat mencari sumber emas, hingga ditemukan Gunung Nona sebagai lahan garapan baru.

Dalam insiden itu, selain 2 penambang tewas, 2 penambang lokal lainnya juga mengalami luka-luka, karena tertimbun bebatuan. Cecen Nurlatu dan Lempi Nurlatu mengalami luka-luka, dan kini sedang dirawat di puskesmas se­tempat.

Kepastian adanya insiden ini juga dibenarkan Wakapolres Pulau Buru, Kompol Bachri Hehanussa yang dihubungi Se­lasa sore (4/12/2018).

“Dua korban meninggal, dua lagi luka-luka.Yang satu telah dikuburkan, Se­dangkan yang satu lagi akan dipulangkan jenazah­nya ke pihak keluarga di Bogor,” ungkap Hehanussa.

Menangkap butiran emas dengan karpet. Salah satu kegitan yang dilakukan penambang emas di Gunung Botak

Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, korban Esu Suhedi adalah warga Kampung Lebak Sirna, Kecamatan Leuwilian, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sedangkan Suparman beralamat di Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kedua korban tewas ini, sebelumnya mengais rejeki di tambang ilegal Gunung Botak. Namun setelah ditutup, korban dan rekan-rekannya berpindah mengais rejeki di tambang Gunung Nona.

Peristiwa korban tewas dan luka-luka itu baru diketahui warga saat para korban diturunkan dari Gunung Nona dan dibawa ke Desa Grandeng dan Desa Lele, Kecamatan Lolongquba pada Selasa pagi, pukul 09.00 WIT.

Saksi mata yang juga menjadi korban luka dalam peristiwa itu menceritakan, kalau pada hari Senin tengah malam (3/12), sekitar pukul 23.00 WIT, ia dan korban luka Lempias Nurlatu sedang memasuki lobang tambang sedalam 15 meter.

Rekan mereka Esu Suhedi dan Suparman tidak ikut masuk lubang dan hanya berada di bibir tebing depan lubang galian.

Tiba-tiba saja, dari atas tebing tedengar suara gemuruh akibat tanah longsor. Dibarengi teriakan “lari” dari mulut banyak orang yang sedang menambang di lokasi tersebut.

Cecen dan saudaranya yang berada di dalam lubang tidak bisa keluar dan tetap bertahan di sana sampai longsor selesai. Keduanya hanya kena batu-batu kecil sehingga mengalami luka ringan. Fatalnya, Esu Suhedi dan Suparman tidak dapat meloloskan diri dari bencana longsor itu.

Suparman kendati tidak tertimbun tanah longsor, nyawanya tidak terselamatkan karena tubuhnya kena hantamam batu raksasa yang datang dari atas tebing.

Sementara Esu Suhedi tertimbun tanah longsor. Korban baru dapat dievakuasi oleh rekan penambang yang selamat pada pukul 05.00 WIT.

Menurut Wakapolres Bachri Hehanussa, pasca kejadian itu Kapolsek Waeapo, Ipda Rina Aryanti turun ke TKP dan mengolah data di lapangan.

Ia yang belum seminggu menjadi wakapolres di Pulau Buru ini , mengaku kalau pihak kepolisian sedang berkonsentrasi menangani masalah tambang di Gunung Botak.

Namun ternyata para penambang ini berpindah ke Gunung Nona dan menimbulkan masalah baru lagi di sana.

Ketika ditanya apakah pihak kepolisian akan juga menertibkan penambang ilegal di Gunung Nona, Hehanussa menegaskan, setelah Gunung Botak, akan ada penertiban lanjutan di tambang ilegal lain, termasuk tambang Gunung Nona. (BB-DIO)