Laga tim Hindia Belanda-Hungaria digelar 5 Juni 1938, pukul lima sore waktu setempat, di Stadion Velodorme, di kota Reims, Prancis - sekarang stadion itu diubah menjadi Stadion Auguste Delaune. (Foto : BBC)
Laga tim Hindia Belanda-Hungaria digelar 5 Juni 1938, pukul lima sore waktu setempat, di Stadion Velodorme, di kota Reims, Prancis - sekarang stadion itu diubah menjadi Stadion Auguste Delaune. (Foto : BBC)

BERITABETA.COM – Kenapa orang Maluku sangat tertarik dengan dunia sepak bola dan banyak yang fanatik mendukung Timnas Belanda? Tentunya banyak alasan yang bisa didapatkan dari pertanyaan ini.

Salah satunya adalah kiprah orang Maluku dalam sejarah sepak bola dunia dan juga sejarah keterikatan emosional orang Maluku dengan bangsa Belanda di masa penjajahan.

Bukti terkait hal ini, bisa diperoleh dari kisah heroik  Isaac Pattiwael. Salah satu pemain asal Maluku yang pernah berbaur bersama orang Belanda dalam Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia tahun 1938.    

Isaac adalah pemain Timnas Hindia Belanda  yang  membobol gawang Hungaria di laga hidup-mati di Piala Dunia 1938 di Prancis. Dia tidak sendirian, ada pula nama Hans Taihuttu yang bergabung dengan timnas yang dijuluki ‘Kurcaci’ itu.

Gol Isaac yang menggemparkan itu, dianulir oleh wasit asal Prancis, Roger Conrie. Namun cerita pertarungan Isaac bersama Timnas Hindia Belanda itu, seakan menjadi awal dari kiprah orang Maluku di dunia sepak bola.

Hungaria mengunduli Timnas Hindia Belanda dengan skor 6-0, para pemain depan tim Hindia Belanda, dilaporkan mampu menampilkan gaya menggiring bola yang menggiurkan dan bermain terbuka, tetapi lemah dalam bertahan.

Isaac Pattiwael kelahiran 1914. Ia adalah gelandang sayap berdarah Maluku. Dalam laga itu Isaac mampu 'merobek' gawang lawannya yang dijaga kiper legendaris, Antal Szabo, sebelum akhirnya dianulir wasit.

Kisah timnas Hindia 'membobol' gawang Hungaria itu nyaris tak tercatat dalam sejarah piala dunia, tetapi berulang kali diceritakan oleh Isaac Pattiwael kepada orang-orang terdekatnya- termasuk salah-seorang cucunya.

Laga tim Hindia Belanda-Hungaria digelar 5 Juni 1938, pukul lima sore waktu setempat, di Stadion Velodorme, di kota Reims, Prancis - sekarang stadion itu diubah menjadi Stadion Auguste Delaune.

"Tapi yang saya ingat, kakek saya pernah mencetak gol (ke gawang Hungaria, tapi dianulir oleh wasit," ungkap John Pattiwael, salah-seorang cucu Isaac Pattiwael, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

John Pattiwael mengaku tidak ingat persisnya kenapa wasit asal Prancis, Roger Conrie, kemudian menganulir gol yang dicetak kakeknya itu.

Setelah akhirnya kalah 0-6, tim Hindia Belanda itu harus angkat kopor lebih awal, karena saat itu sistemnya menggunakan sistem gugur.

Di hadapan anak dan cucu-cucunya, Isaac sering kali menunjukkan foto-foto lama yang menjadi saksi perjalanannya saat memperkuat tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 di Prancis, kata sang cucu.

Usai laga, masih menurut Goorhoff, pemain timnas Hungaria sekaligus salah-satu bintangnya, Gyorgy Sarosi (yang mencetak gol dalam laga ini) mengaku "pertandingan melawan Hindia Belanda, agak berat."

"Melihat foto itu, ada beberapa muka Indonesia yang hanya beberapa orang saja, sisanya semua bule," ungkap John yang kelahiran 1979 ini.

Dalam berbagai kesempatan, sang kakek selalu bercerita bahwa dirinya sangat bangga sebagai orang Indonesia berdarah Maluku yang pernah tampil memperkuat timnas Hindia Belanda di ajang olah raga bergengsi itu.

"Dia bangga sekali sebagai orang Indonesia, khususnya sebagai pesepakbola dan orang Ambon, yang pernah ke Piala Dunia," ujarnya.

John kemudian teringat kakeknya pernah bercerita bahwa dirinya sangat bangga karena bisa mewakili "orang-orang pribumi" dalam timnas Hindia Belanda di ajang olah raga bergengsi itu.

"Mungkin itu pengalaman sekali dalam seumur hidup bagi seorang Indonesia untuk bisa ke sana (piala dunia)."