Elieser Fakdawen, salah satu warga lokal sedang mengolah sagu, yang juga merupakan salah satu komoditas lokal di kampung Deer (FOTO: Istimewa)
Elieser Fakdawen, salah satu warga lokal sedang mengolah sagu, yang juga merupakan salah satu komoditas lokal di kampung Deer (FOTO: Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon  – Yayasan EcoNusa kembali melakukan perjalanan panjang melintasi pulau – pulau yang ada di Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

Yayasan EcoNusa yang berfokus pada upaya peningkatan berbagai inisiatif tingkat lokal dan internasional di wilayah Maluku dan Papua, akan mengisi ekspedisi ini dengan ikut memberikan bantuan berupa edukasi kepada masyarakat dalam mencegah penularan Covid-19.

CEO EcoNusa, Bustar Maitar dalam keterangan persnya kepada beritabeta.com, Sabtu (24/10/2020) mengatakan, tujuan ekspedisi ini adalah untuk bertemu masyarakat dan belajar dari masyarakat di Maluku dan Maluku Utara tentang pengelolaan sumber daya alam, terutama hutan dan laut.

“Kita juga ingin memberikan dukungan kepada masyarakat dalam masa-masa sulit seperti sekarang, terutama dalam hal membangun ketahanan pangan, pemulihan ekonomi lokal dan dukungan pencegahan Covid-19,” tutur Bustar Maitar.

Menurutnya, kehadiran pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi salah satu alasan dilakukannya Ekspedisi Maluku EcoNusa. Ekspedisi ini juga memiliki agenda untuk membantu masyarakat mencegah penularan Covid-19.

“Kita akan memberikan edukasi kesehatan terkait pencegahan Covid-19 dan mendistribusikan sejumlah bantuan kesehatan seperti masker, face shield, alat pelindung diri dan sarung tangan,”paparnya.

Selain bantuan kesehatan, Ekspedisi Maluku EcoNusa juga memberikan dukungan untuk memperkuat ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi masyarakat lokal yang terdampak Covid-19.

Ekspedisi ini akan melintasi jalur laut sepanjang kurang lebih 2.000 kilometer mengunjungi 25 kampung di 7 (tujuh) kabupaten dan 3 (tiga) provinsi.

Kepulauan Maluku, kata Bustar, merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi di darat maupun di laut.  Masyarakat di Kepulauan Maluku pun memiliki berbagai kearifan lokal yang dikenal untuk menjaga sumber daya alam agar tetap lestari.

Cerita keharmonisan antara alam dan manusia di Kepulauan Maluku ini sangat menarik dan penting untuk dijaga supaya alam tetap lestari.

Karena kearifan lokalnya itu, sampai saat ini Kepulauan Maluku dikenal sebagai salah satu penghasil pala dan cengkeh terbesar di Indonesia, dan di sektor laut Provinsi Maluku ditetapkan pemerintah sebagai wilayah lumbung ikan nasional.

Selain itu, Ekspedisi Maluku EcoNusa juga akan melakukan kampanye kepada masyarakat supaya lebih peduli terhadap kesehatan laut yang terancam sampah terutama sampah plastik.

Lokasi pertama yang disinggahi tim Ekspedisi Maluku EcoNusa adalah kampung Der di Kepulauan Kofiau, kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Meskipun masih berada di kawasan Raja Ampat, Kofiau jauh dari gegap-gempita wisatawan. Aksesnya yang sulit menjadi salah satu alasan terbesar.

Di kampung ini, tim Ekspedisi melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat dan memberikan bantuan untuk puskesmas setempat. Tim Ekspedisi juga mendokumentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat kampung Der yang berbeda dengan daerah lain di Raja Ampat yang bergantung pada sektor ekowisata, masyarakat kampung Der lebih banyak bergantung pada pengelolaan komoditas kopra.

Saat ini, pengolahan kopra dilakukan secara terbatas untuk konsumsi sehari-hari. Hasil olahan kopra akan dijual jika terdapat hasil produksi berlebih. Selain kopra, masyarakat setempat juga memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan sehari-hari.

Ekspedisi Maluku EcoNusa dilakukan dengan menggandeng Perkumpulan PakaTiva sebagai mitra lokal.

Bustar menjelaskan, Ekspedisi Maluku ini dimulai sejak tanggal 22 Oktober hingga 18 November 2020 dan dibagi menjadi dua rute perjalanan. Rute I akan berangkat dari Sorong dan bertandang ke Kofiau, Gane Dalam, Bacan, Samo, Posi-posi, Gumira, Kayoa, Makian, dan Tidore, sebelum akhirnya tiba di Ternate.

Dari Ternate, kapal Kurabesi akan berlayar ke Ambon Tulehu untuk memulai perjalanan Rute II yang menyasar beberapa pulau di antaranya adalah Nurue, Haruku, Nusalaut, Rhun, Ai, Hatta, Banda Besar, dan berakhir di Neira.

Selain tim EcoNusa, Tim Ekspedisi Maluku juga terdiri dari relawan dokter dan perawat, ahli pertanian, tim dokumentasi dan juga relawan logistik. Tim ini diwajibkan menjalani swab test sebelum keberangkatan dan harus menjalani protokol kesehatan yang ketat demi menjaga kesehatan diri dan juga masyarakat kampung yang dikunjungi.

Ekspedisi Maluku EcoNusa diharapkan dapat memberikan semangat kepada masyarakat dalam menghadapi ancaman-ancaman yang terjadi.

“Dengan bertemu langsung dan memahami kehidupan masyarakat lokal, diharapkan Yayasan EcoNusa dapat bersinergi dengan masyarakat untuk membantu masyarakat mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” tutupnya (BB-ES)