Jamaah sholat di Masjid Al Ikhlas Kompleks Perumahan Baranangsiang Indah Bogor (foto : Suhfi Madjid)
Jamaah sholat di Masjid Al Ikhlas Kompleks Perumahan Baranangsiang Indah Bogor (foto : Suhfi Madjid)

Catatan : M Suhfi Madjid

Ketika hari pertama I'tikaf, saya menangkap pemandangan istimewa. Seorang laki-laki sepuh menggelar sajadah diteras samping kanan masjid. Usianya tak lagi muda. Seluruh rambutnya telah memutih. Jalannya tak setegak anak-anak muda.

Ia berdiam dengan khusyu di teras Masjid. Di atas hamparan sajadah yang digelarnya. Menemukan seseorang di usia senja mengambil jeda, melakukan kontemplasi dan melewati  hari-hari mulia di 10 terakhir malam bulan Ramadhan dengan ber-I'tiqaf di masjid, bagi saya adalah  pemandangan tak biasa. 

Masjid Al Ikhlas dekat tempat tinggal, memang menggelar I'tiqaf 10 malam terakhir. Panitia Program I'tiqaf di Masjid indah dan elegan di Kompleks Perumahan Baranangsiang Indah Bogor ini menerapkan protokol kesehatan cukup ketat. Peserta dibatasi.

Hanya untuk 35 orang jamaah pria dan 15 jamaah perempuan. Yang akan itikaf, mendaftar ke panitia.

Lewat kerjasama dengan Indonesia Al-Qur'an Center (IAC), 2 anak muda hafidz (penghafal Al-Quran) dari AIC menemani sholat tarawih dan Qiyamul Lail di 10 malam terakhir.

Suara mereka merdu. Menyejukkan ketika mendengarnya. Setiap malam mulai jam 02.30 hingga 03.45 WIB, imam muda IAC bergantian, menyelesaikan bacaan 1 juz AlQuran di setiap Qiyamul Lail.

Tadi malam (Malam 27 Ramadhan), saat menepi di samping kiri masjid, saya kembali melihat sosok orang tua itu. Menggelar sajadah di teras kiri Masjid. Seperti biasa, berdiam dan khusyu. Tidak ada barang istimewa yang dibawa. Hanya gelaran sajadah dan tas yang dipakai untuk alas tidur.

Saya penasaran. Setelah menyelesaikan tilawah 1 juz, saya hampiri beliau. Menyapanya. Berbasa - basi.

"Gak dingin Pak, gak sebaiknya di dalam masjid aja Pak?", tanya saya. "Gak dik di sini saja, Gak dingin", jawabnya penuh ramah.

Respon positifnya membuat saya bertanya lebih lanjut dan mencoba mengakrabi beliau. Ternyata, beliau menyambut. Maka kami kenalan dan terlibat diskusi panjang.

Orang tua itu warga yang tinggalnya dekat masjid. Ternyata kami bertetangga. Satu kompleks Perumahan. Beliau di Blok E3, saya di Blok E6.

Beliau dokter, dan karenanya diskusi melebar kemana-mana, mulai dari soal covid hingga hal - hal sederhana di sekitar kompleks perumahan. Saya menyampaikan kepada beliau, jika pengalaman mengikuti I'tiqaf, hampir jarang bertemu orang tua yang mau menepi di masjid pada 10 malam terakhir.

"Saya sudah lakukan sejak muda dik, pada usia 41 tahun. Sejak masih tinggal di Jakarta. Dilanjutkan di sini setelah pindah di kompleks perumahan ini", katanya kepada saya. 

Usia beliau saat ini 79 tahun. Itu artinya, kebiasaan ini telah beliau jalani puluhan tahun.  Wajar jika saya tak dapat menutupi kekaguman kepada beliau. Menggelar sajadah untuk berdiam dan menjadi alas tidur, serta tas untuk alas kepala saat rehat.

Orang tua sepuh tersebut ternyata seorang  Guru Besar Pulmonologi (Spesialis Paru) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Nama beliau  Prof. Dr. dr. Anwar Jusuf, Sp.P (K).

Sungguh, amalan itu tergantung pada akhirnya. Prof Anwar, orang tua sepuh 79 tahun itu memberi contoh tentang keindahan di ujung akhir Ramadhan (*)