BERITABETA.COM – Dunia musik Tanah Air kembali berduka. Penyanyi Didi Prasetyo atau beken dengan nama panggung Didi Kempot meninggal dunia pagi tadi di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Selasa (5/5/2020) karena penyakit jantung.

Kabar ini membuat banyak penggemar pria yang dijuluki ‘The Godfather of Broken Heart’ menyampaikan bela sungkawa mendalam dan ucapan terima kasih totalitasnya dalam berkaya.

Asisten Manajer Humas RS Kasih Ibu, Divan Fernandez, membenarkan kabar duka tersebut. Didi Kempot  masuk ke rumah sakit pagi ini. Akan tetapi, dirinya masih belum mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya sang maestro.

“Iya benar, mas Didi meninggal pagi ini di Rumah Sakit Kasih Ibu. Sudah tadi saya cek ke dokter jaga,” ujarnya.

Kabar kepergian Didi Kempot turut diberitakan media asing, mulai dari media internasional di Inggris hingga media lokal di Suriname. Dari media internasional, BBC melalui Twitter-nya mengabarkan Didi Kempot meninggal dunia.

Di Suriname Didi Kempot sangat populer di sana, kabar kematiannya juga diberitakan media online.  Suriname dwtonline.com menuliskan judul berita ” Didi Kempot meninggal karena serangan jantung”.

Dwtonline mendasarkan pemberitaannya dari kanal YouTube Kompas TV, dan mengutip pernyataan eks penyiar senior kenamaan di Suriname, Jurmic Partodongso.

“Dia telah berkontribusi dalam melestarikan bahasa Jawa melalui lagu-lagunya. Saya pikir tidak ada orang Suriname yang tidak mengenalnya,” kata Jurmic Partodongso.

Didi Kempot diketahui kerap menggelar konser di Suriname, negara yang terletak di Amerika Selatan.

Publik mengenal Didi Kempot sebagai maestro campursari dan penulis lagu yang populer. Didi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 31 Desember 1966. Didi Kempot merupakan putra dari seniman tradisional terkenal, Ranto Edi Gudel (dikenal dengan Mbah Ranto).

Didi Kempot merupakan adik kandung dari Mamiek Prakoso, pelawak senior Srimulat.

Ia memulai karirnya sebagai musisi jalanan di kota Surakarta sejak 1984 hingga 1986, kemudian mengadu nasib ke Jakarta pada 1987 hingga 1989. Nama panggung Didi Kempot merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawa ia hijrah ke Jakarta.

Hampir sebagian lagu yang ditulisnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Alasan sengaja memilih tema tersebut karena rata-rata orang pernah mengalaminya dan ingin dekat dengan masyarakat, juga menjadi alasan Didi Kempot menggunakan nama-nama tempat sebagai judul atau lirik lagunya.

Tembang-tembang hits Didi Kempot banyak diminati oleh kalangan muda dari berbagai daerah yang menyebut diri mereka sebagai “Sad Boys” dan “Sad Girls” yang tergabung dalam Sobat Ambyar dan mendaulat Didi Kempot sebagai ‘Godfather of Broken Heart’ dengan panggilan ‘Lord Didi’.

Julukan itu berawal dari lagu-lagu Didi Kempot yang hampir semuanya menceritakan tentang kesedihan dan kisah patah hati.

Memulai Karier sebagai Musisi

Didi Kempot memulai kariernya pada 1984 sebagai musisi jalanan. Dengan alat musik ukulele dan kendhang, Didi Kempot mulai mengamen di kota kelahirannya, Surakarta, selama tiga tahun.

Tahun 1987, Didi Kempot hijrah ke Jakarta. Ia kerap berkumpul dan mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen. Dari situ, julukan “Kempot” yang merupakan kependekan dari “Kelompok Pengamen Trotoar” terbentuk – yang menjadi nama panggungnya hingga saat ini.

Sembari mengamen di Jakarta, Didi Kempot dan temannya mencoba rekaman. Kemudian, mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio musik di Jakarta.

Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil menarik perhatian label Musica Studio’s. Tepat di tahun 1989, Didi Kempot mulai meluncurkan album pertamanya. Salah satu lagu andalan di album tersebut adalah “Cidro”.

Lagu “Cidro” diangkat dari kisah asmara Didi yang pernah gagal. Jalinan asmara yang ia jalani bersama kekasih tidak disetujui oleh orang tua wanita tersebut. Itulah yang membuat lagu “Cidro” begitu menyentuh hingga membuat pendengar terbawa perasaan. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai sering menulis lagi bertema patah hati.

Meraih Sukses dan Jadi Duta Kereta Api

Tahun 1993 menjadi awal kesuksesan Didi Kempot. Tembang lawas Stasiun Solo Balapan, yang menjadi latar tempat lagu “Stasiun Balapan” membawa namanya makin hits di belantika musik Tanah Air.

Di lagu yang menceritakan perpisahan terhadap seseorang yang akan pergi menggunakan kereta api itu, kemudian membuat Didi diangkat menjadi Duta Kereta Api Indonesia oleh PT KAI.

Pada 1993, Didi Kempot mulai tampil di luar negeri, tepatnya di Suriname. Lagu “Cidro” yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai musisi terkenal di Suriname.

Setelah Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul “Layang Kangen” di Rotterdam, Belanda.

Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama setelah pulang kampung pada awal era reformasi—ia mengeluarkan lagu berjudul “Stasiun Balapan”.

Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya semakin populer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru di awal 2000-an.

Didi Kempot kembali terkenal setelah mengeluarkan lagu berjudul “Kalung Emas” pada 2013 dan “Suket Teki” pada 2016. Lagu tersebut mendapatkan apresiasi yang tinggi dari warga Indonesia.

Musisi campur sari legendaris asal Kota Solo ini meninggal di usia 53 tahun. Ia  termasuk salah penyanyi yang mempopulerkan lagu beraliran campur sari.  Popularitas Didi Kempot juga terlihat di YouTube.

Di Media berbagi musik milik Google ini, Didi Kempot memiliki akun Didi Kempot Official Channel dengan 1,19 juta subcribers.  Akun ini dibuat pada 2017 dan video yang ada di dalamnya sudah ditonton lebih dari 211 juta kali.

Masyarakat tidak akan pernah melupakan karya-karyanya selama ini.

“Ning stasiun balapan rasane koyo wong kelangan, kowe ninggal aku, ra kroso netes eluh ning pipiku, Da a… Dada sayang.” Demikian penggalan syair lagu yang populer “Stasiun Balapan Solo”. Selamat jalan “Godfather of Broken Heart” (BB-DIP)