BERITABETA.COM – Ahli matematika asal Inggris Kit Yates mengungkapkan semua virus penyebab penyakit Covid-19 yang ada di seluruh dunia saat ini dapat dengan mudah masuk ke dalam satu kaleng minuman bersoda.

Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi saat ini disebabkan oleh partikel virus yang sangat kecil.

Ahli matematika dari Bath University itu menemukan bahwa ada sekitar dua triliun – atau dua miliar – partikel virus SARS-CoV-2 di dunia di satu waktu. Ini dianlisa menggunakan tingkat infeksi global terbaru, ditambah dengan perkiraan viral load.  Kit Yates

Yates merinci langkah-langkah dalam perhitungannya mengatakan dirinya  menggunakan diameter SARS-CoV-2 – rata-rata sekitar 100 nanometer, atau 100 miliar meter – dan kemudian menghitung volume virus yang berbentuk bola.

“Bahkan memperhitungkan protein lonjakan yang diproyeksikan oleh virus Corona baru dan fakta bahwa partikel bola akan meninggalkan celah ketika ditumpuk bersama, totalnya masih kurang dari pada satu kaleng cola 330 mililiter (ml),” terangnya.

“Sungguh mengherankan untuk berpikir bahwa semua masalah, gangguan, kesulitan, dan hilangnya nyawa yang diakibatkan selama setahun terakhir hanya dapat terjadi dalam beberapa suap,” kata Yates dalam sebuah pernyataan seperti dikutip sindonews.com dari Reuters, Jumat (12/1/2021).

Lebih dari 2,34 juta orang telah meninggal dalam pandemi COVID-19, dan ada hampir 107 juta kasus yang dikonfirmasi di seluruh dunia.

Hingga saat ini, belum diketahui dari mana asal usul virus COVID-19. Tim ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) gagal mendapatkan asal usul virus tersebut meski telah menyambangi Wuhan , tempat wabah pertama kali muncul di pasar makanan laut pada akhir 2019.

Hasil penyelidikan tim ahli WHO bahkan menyebut jika virus tersebut kemungkinan bukan berasal dari Wuhan. Kepala tim WHO Peter Ben Embarek mengatakan kelelawar tetap diduga menjadi sumber virus Corona baru.

Menurut tim itu, penularan virus melalui makanan beku adalah kemungkinan yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Selain itu, tim WHO mengesampingkan dugaan kebocoran laboratorium sebagai penyebab pandemi (BB-DIP)