FCT juga menguraikan, untuk memecahkan masalah kemiskinan, tingginya tingkat pengangguran dan juga redahnya Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Maluku maka kedepan konsep pembangunan yang dilakukan tidak akan tertumpuh di Kota Ambon.

“Maluku harus dibangun secara merata, karena pemicu semua masalah itu ada di daerah,” urainya.

Ia bahkan merencanakan, kedepan akan memfungsikan kembali Terminal Transit Passo dan mengalihkan dermaga Ferry dari Desa Galala ke wilayah Kecamatan Leihitu. Hal ini kata dia, untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan mengalihkan beban kepadatan kota Ambon ke daerah baru.

“Jika ini kita bisa lakukan, maka masalah kemacetan perlahan bisa kita atasi di Kota Ambon, dan pastinya ada lapangan pekerjaan baru. Jadi Ambon tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan.  Orang dari Lease, Seram dan sekitarnya tidak harus masuk ke Ambon untuk melakukan transaksi ekonomi. Begitu juga pintu masuk dari Pulau Buru lewat kapal Fery tidak masuk lagi ke Galala tapi ada di Leihitu,” tandasnya.

Semua hal ini, sambung FCT, tidak bisa dilakukan oleh seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan tertutup. Tidak bisa ‘one man show’,  harus bisa dilakukan dengan melibatkan semua pihak, terutama dengan kepala-kepala daerah di kabupaten/ kota.

“Ini janji saya dan akan saya lakukan jika kelak dipercaya rakyat Maluku untuk memimpin Maluku dimasa mendatang,” tutupnya (*)

Editor : dhino.p