“Seperti format-format lagu sebelumya; pita, kaset, cd, mp3, digital streaming, adaptasi orang dalam menggunakan teknologi baru pasti butuh waktu, tapi akhirnya semua toh bergulir ke arah teknologi terkini, jadi Dolby Atmos pun akan menjadi alternatif dalam menikmati sound,” kata Chossypratama.

Chossypratama memprediksi, stereo akan tetap bersama kita untuk waktu yang masih lama. Dolby Atmos adalah format jualan, bukan format produksi, jadi stereo saat ini masih tetap menjadi acuan bagi para musisi dalam memproduksi lagu-lagu baru. Meskipun begitu, Dolby Atmos merupakan pendamping, alternatif selain stereo.

“Jadi para komposer, musisi, masih tetap akan merekam lagunya dalam format stereo, hanya finishing-nya akan ada dua format, stereo dan Dolby Atmos. Saat ini, Dolby Atmos lebih dibuat untuk lagu-lagu yang sudah populer, dan produksi Dolby Atmos juga masih mahal, dikarenakan perangkat keras dan lunak untuk studio masih terbilang tinggi secara harga,” ungkap  Chossypratama.

Menurut Chossypratama, Dolby Atmos belum jadi format utama, terutama bagi pelaku musik. Stereo tetap akan bertahan, Dolby Atmos masih tetap jadi format penyerta atau format alternatif.

“Memang saat ini baru Tidal, Amazon Music, dan Apple Music yang support Dolby Atmos. Dolby Atmos butuh bandwidth yang lebih besar dari stereo, dan kalaupun datanya di-encode, butuh algorythm yang khusus untuk decode-nya. Tapi nantinya semua Digital Service Provider juga akan melayani Dolby Atmos,” kata Chossypratama.

Pada kesempatan yang sama, Rulli Aryanto, Direktur Chossy Pratama Production mengatakan, Chossy Pratama Production sudah biasa memproduksi lagu-lagu dalam format Dolby Atmos. Chossy Pratama Production siap melayani label musik dan manajemen artis yang ingin tanya-tanya Dolby Atmos serta memproduksikannya (*)

Pewarta : Muhammad Fadhli