Ketua TP PKK Provinsi Maluku, Widya Pratiwi Murad didampingi Sekda Maluku Kasrul Selang dan Kadis Kesehatan dr. Meykal Pontoh menjelaskan program apid tes antigen dengan sistem Layanan Tanpa Turun (Lantatur) dalam konferensi pers di Gedung PKK Provinsi Maluku, Senin (15/2/2021).
Ketua TP PKK Provinsi Maluku, Widya Pratiwi Murad didampingi Sekda Maluku Kasrul Selang dan Kadis Kesehatan dr. Meykal Pontoh menjelaskan program apid tes antigen dengan sistem Layanan Tanpa Turun (Lantatur) dalam konferensi pers di Gedung PKK Provinsi Maluku, Senin (15/2/2021).

BERITABETA.COM, Jakarta – Kondisi penanganan pandemic Covid-19 di Indonesia dinilai belum optimal, menjadi kemungkinan telah lahirnya varian baru Covid-19 akibat mutasi virus yang terjadi di Indonesia.

Dugaan ini disampaikan Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menanggapi proses testing, tracing dan treatment Covid-19 yang tak optimal di Indonesia.

Ia menilai, sekarang sudah bukan masalah lonjakan saja, tapi kemungkinan ada strain baru yang muncul di Indonesia, munyusul dengan tidak terkendalinya wabah ini.

“Jadi sangat besar potensi menghasilkan strain baru,” kata Dicky seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (15/2021).

Menurut Dicky, semua virus normalnya akan berevolusi dan bermutasi. Hal ini akan menciptakan varian baru, seperti yang ditemukan di beberapa negara.

“Ini evolusi normal, selama kita tak bisa mencegah kasus, selama kita biarkan pelonggaran, maka semakin besar kemungkinan mutasi virus,” sambungnya.

Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, kata dia,  masih belum optimal menyebabkan penularan terus terjadi di masyarakat. Ditambah dengan dengan masa liburan panjang yang memungkinkan orang bepergian. Padahal, menurut Dicky mobilitas orang harus dibatasi di masa pandemi Covid-19.

Penyebab lainnya, tambah Dicky adalah rendahnya tes Covid-19 di masa liburan panjang sehingga upaya menemukan kasus positif tidak maksimal. Rendahnya tes itu juga semakin mendukung dugaan kemunculan varian baru Covid-19 sebab virus telah lama berada di tubuh manusia.

“Wajar kalau sudah ada strain baru. Hanya masalahnya, kemampuan deteksi dini kita yang masih rendah. Ini diperparah dengan upaya pencarian kasus kita yang juga rendah, jadi memang intervensi public health kita ini rendah memungkinkan mutasi virus,” tutup Dicky (BB-DIP)