Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Implementasi Surat Edaran Menteri Agama (Menag) No. 04 Tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M yang digelar di aula lantai III Kemenag, Kamis (6/5/2021) (Foto : Humasmaluku)
Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Implementasi Surat Edaran Menteri Agama (Menag) No. 04 Tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M yang digelar di aula lantai III Kemenag, Kamis (6/5/2021) (Foto : Humasmaluku)

BERITABETA.COM, Ambon – Polemik seputar kebijakan larangan mudik Idul Fitri 2021 yang ditetapkan pemerintah pusat, disampaikan secara gamblang oleh Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Maluku.  

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Maluku Kasrul Selang menjelaskan kebijakan ini ditempuh oleh pemerintah, karena  belajar dari pelaksanaan libur panjang di tahun 2020 lalu yang mengakibatkan melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia.

“Hal ini menjadi pertimbangan pemerintah meniadakan mudik lebaran tahun ini,” kata Kasrul Selang   saat menyampaikan perkembangan dan kebijakan penanganan Covid-19 di Maluku, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Implementasi Surat Edaran Menteri Agama (Menag) No. 04 Tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M yang digelar di aula lantai III Kemenag, Kamis (6/5/2021).

Dalam Rakor yang digelar Kemenag Maluku ini, Kasrul Selang yang juga sebagai Sekda Maluku hadir sebagai narasumber utama diantara narasumber lainnya. Para narasumber itu masing-masing, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M. Roem Ohoirat, Wakapolresta P. Ambon dan PP Lease AKBP Heri Budianto dan Kabintal Pangdam XVI Pattimura Corps Ajen Kolonel Caj Sukirno.

"Belajar dari pengalaman libur Panjang di tahun 2020 dan 2021, ada tren lonjakan kasus baru setelah libur panjang yang angkanya bervariasi, dari mulai 37 hingga 119 persen. Setiap lonjakan kasus juga diikuti peningkatan angka kematian," katanya saat menyampaikan perkembangan penanganan Covid-19 di Maluku.

Kasrul menjelaskan, pemerintah selalu berupaya menjaga tren kasus baru Covid-19 yang selama dua bulan terakhir mulai menurun, disamping orang yang sembuh dari covid juga mengalami peningkatan.

Selain itu, lanjut Kasrul, penduduk usia lansia lebih berisiko terpapar Covid-19. Mereka memiliki risiko kematian berkali lipat dari pada yang usia lebih muda. Kemudian, orang dengan Komorbid (Resiko tinggi) juga punya resiko kematian lebih besar.

"Dan adanya kenaikan kasus yang sangat signifikan dan potensi varian baru di negara-negara lain  seperti India, Argentina, Turki dan beberapa negara Eropa. Itulah beberapa pertimbangan yang menjadi alasan pemerintah kembali meniadakan mudik di tahun ini," ujarnya.

Kasrul pun meminta kepada semua masyarakat Maluku, untuk tetap mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas.

"Mari kita semua patuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Ini semua ini demi kebaikan kita semua," pintanya.