BERITABETA.COM, Ambon – Pluralisme, moderasi dan toleransi beragama hingga kini masih menjadi pembahasan dan diskusi panjang di kalangan ilmuan, akademisi maupun lainnya dalam studi agama-agama (religious studies) kemanusian.

Tema-tema seperti ini memang dinilai terus disuarakan karena di berbagai sosial media (sosmed), masih ada opini-opini yang berkembang untuk menggiring masyarakat, agar tidak mau menerima pesan-pesan perdamaian.

“Jadi bukan saja pluralisme, tapi sikap-sikap moderat juga menjadi problema yang digiring ke arah itu,” kata Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, DR. Hasbollah Toisuta kepada wartawan, pekan kemarin.

Menurut Toisuta, sekarang ini semua pihak termasuk berbagai elemen mahasiswa tidak bisa menutup kemungkinan dari ideologi transnasional yang berkembang belakang ini. Untuk itu sebagai pihak kampus, ia ingin mengajak mahasiswa agar lebih kritis dalam konteks keislaman, kebangsaan dan kemalukuan.

Sebagaimana diketahui, ideologi transnasional merupakan gerakan politik internasional yang berusaha mengubah tatanan dunia berdasarkan idelogi keagamaan fundamentalistik, radikal dan sangat puritan.

Ideologi transnasional ini merujuk pada cara pandang yang berusaha mendirikan sebuah tatanan dunia baru atas nama pengklaiman dan bersikap eksklusif.

“Bahwa kesadaran kita sebagai masyarakat yang plural dan hadir dari kepelbagaian adalah sebuah keniscayaan dan harus dirawat secara bersama. Kalau kita tidak bisa merawat keberagaman, lalu terpengaruh dengan pandangan-pandangan yang ingin mencederai persatuan dan keragaman, maka itu hal yang sangat disayangkan,” ujar Toisuta.

Salah satu bagian dari keberagaman, sambung Toisuta, yakni untuk menangkal hal-hal yang bertolak belakang dengan sikap toleransi beragama. Jadi harus memberikan perspektif kepada mahasiswa yang lebih terbuka untuk menerima keragaman di dalam masyarakat.

Sisi lain, kata Rektor, pihaknya menginginkan ada kelompok-kelompok kajian atau limited grup yang tidak hanya berjibaku dalam kelas-kelas perkuliahan. Pasalnya, di kelas hanya mendapat teori-teori pengetahuan bersifat spesifik dan bukan membina mereka menjadi calon pemimpin.

“Menjadi calon pemimpin harus lewat limited grup seperti diskusi dan lainnya. Kegiatan diskusi yang dilakukan saat ini harus berkelanjutan. Kita pernah menjadi mahasiswa, dan proses-proses seperti ini juga sudah dilewati,” katanya mengajak.

Prinsipnya, selain memperkuat basis pengetahuan dan keilmuan di dalam kelas, mahasiswa harus memperkuat diri di luar kelas, agar ada keseimbangan dari berbagai sisi. (BB-TAN)