BERITABETA.COM, Ambon – Keluarga korban mengkonfirmasi jumlah korban  asal Maluku Tengah (Malteng), Provinsi Maluku   yang menjadi korban tsunami Sabtu (22/12) pukul 21.10 WIB di kawasan pantai barat Banten berjumlah 13 orang.

1 dari 3 korban yang diyatakan hilang ditemukan telah meninggal dunia atas nama Azis Assagaf (7 tahun). Korban adalah anak dari Abdurrahman Assagaf (asal Desa Tehua) yang belum ditemukan bersama Anwar Hanlua asal (Desa Wolu).

“Jadi jumlah meraka totalnya 13 orang. Tiga orang yang dikabarkan hilang hanya Azis Assagaf yang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sedangkan 2 orang lainnya Abdurrahman Assagaf dan Anwar Hanlua belum ditemukan,”kata Fahri Asyatri kepada beritabeta.com, Minggu (23/12/2018) sore.

Menurutnya, jumlah rombongan yang mengikuti arisan keluarga itu 13 orang. 10 orang lainnya ikut menjadi korban yang selamat dengan kondisi luka-luka. Dalam rombongan itu juga terdapat  Sari Widyawaty  yang sebelumnya diberikan hilang bersama anaknya Azis Assagaf. Korban asal Jawa Tengah istri  Abdurrahman Assagaf, warga asal Malteng.

“Mereka adalah keluarga yang berasal dari Desa Wolu dan Desa Tehua, Kecamatan Teluti, Kabupaten Maluku Tengah. Mereka datang kesana dalam rangka arisan keluarga,” tulis Fahri Asyatri salah satu warga Malteng kepada redaksi beritabeta.com.

Ke- 13 orang dari rombogan asal Malteng ini menetap di Jakarta, mereka  menjadi korban tsunami di Banten, 10 orang  selamat dari sapuan tsunami saat berada di lokasi tersebut. Ini data terbaru jumlah korban tsunami itu adalah:

  1. Kartini Tehuayo
  2. Safira Alamri
  3. Salwa Alamri
  4. Juwahir Tehuayo
  5. Sari Widyawati (hilang belum ditemukan)
  6. Malika Assagaf
  7. Nabila Assagaf
  8. Nurlela
  9. Nona Kamidin
  10. Masniah Tehuayo
  11. Abdurrahman Assagaf
  12. Aziz Assagaf, 7 tahun (Meninggal dunia)
  13. 13. Anwar Hanlau (Desa Wolu)

Hingga berita ini diterbitkan, belum diketahui nasib Abdurrahman Assagaf dan Anwar Hanlua. “Belum ada informasi lanjutan, saya menerima informasi ini dari kerabat dekat, paman saya juga belum ditemukan,”tulis Fahri.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan dampak tsunami dan gelombang tinggi yang menerjang pantai di Selat Sunda, khususya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan dan Serang menyebabkan 43 orang meninggal dunia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Ahad, mengatakan data sementara hingga pukul 07.00 WIB menunjukkan tsunami dan gelombang tinggi telah menyebabkan 43 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka, dan dua orang hilang.

Gelombang tinggi tidak hanya menerjang permukiman, penginapan, dan fasilitas wisata di kawasan pantai barat Banten, namun juga menyapu sebagian kawasan pesisir Provinsi Lampung. Alat pengukur gelombang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi gelombang dengan rata-rata tinggi satu hingga dua meter di wilayah Banten dan Lampung.

Perangkat BMKG merekam ketinggian gelombang di wilayah Serang 0,9 meter pukul 21.27 WIB, Banten 0,35 meter pada pukul 21.33 WIB, Kota Agung-Lampung 0,36 meter pada pukul 21.35 WIB, dan Pelabuhan Panjang 0,28 meter pada pukul 21.53 WIB. Menurut BMKG itu adalah tsunami. (BB-DIO)