BERITABETA, Masohi  –  Menjadi istri pejabat di daerah tidak seharusnya bersikap monoton, apalagi hanya melulu mengurusi hal-hal formal terkait dengan organisasi kewanitaan di daerah. Akan lebih bernilai jika bisa tampil sebagai  motivator sekaligus pencetus gerakan inovasi pembangunan, mungkin ini yang jarang dilakukan oleh seorang istri pejabat di Maluku.

Tapi lain hal bagi Joan Raturandang /Leleury. Istri dari Wakil Bupati (Wabub) Maluku Tengah,  Marlatu.L.Leleury ternyata luar biasa.

Salah satu hasil desain busana adat Maluku karya Joan Raturandang /Leleury yang dikenakan warga Belanda keturnan Maluku di Fashion Show, Belanda

Memiliki bakat sebagai desainer busana,  Ny.Joan, kini mulai melanglang buanan ke Eropa  mengelar Fasion Show baju khas adat Maluku di negeri Kincir Angin Belanda.

Istri orang kedua di Kabupaten Malteng ini, memang bukan orang baru di dunia fashion. Sekian lama berkarya menjadi desainer dalam dunia fashion, Joan, kini kembali berkiprah dengan mengasah kemampuannya di dunia modeling.

Pekan lalu, Joan tampil pada event Fashion Show di Negara Belanda untuk menampilkan karya-karya spektakulernya. Sebelumnya,  diakui Joan, dirinya pernah membuat event serupa di 3 negara berbeda.

“Saya pernah buat show di Amerika, tepatnya di Los Angeles dan Washington, Australia (Melbourne) dan New Zealand. Tapi waktu itu khusus pakaian perkawinan adat Minahasa,” Kata Joan.

“Sekarang, baru pertama kali ini saya buat untuk  Maluku. Sebab sudah saatnya mengangkat nama Maluku di kancah international. Karena sekarang saya sudah di Maluku tengah. Nah, harus angkat seni/budaya Maluku,” papar Joan.

Pagelaran busana di gelar dalam acara 60 tahun perkumpulan Nusahulawano di Belanda. Mengusung tema fashion show, From Nusa Laut with love. The Spirit of Martha Christina Tijahahu. Bertempat di Partycentrum Zichtenburg, Den Haag Belanda, Sabtu (27/10/2018).

Seluruh anak cucu dari Pulau Anyo-anyo Nusa laut, yang tergabung dalam perkumpulan Nusahulawano, sekitar 500 orang hadir pada acara itu.

Dalam pegelaran itu, Joan menampilkan 50 potong pakaian berkonsep adat Maluku. “Total koleksinya ada 50 potong motif baju. Termasuk kebaya dansa dan kebaya nona rok. Semuanya itu dibuat dalam waktu 4 bulan,” urainya.

Hasil rancangannya sendiri yaitu baju adat khas Maluku, yaitu baju Cele. Semua desainnya itu di gunakan oleh 14 peragawan dan peragawati asal Pulau Nusa Laut. Termasuk 2 orang anak kecil laki-laki dan perempuan.

“Mereka semua keturunan dari Provinsi Maluku. 99 persen anak-anak keturunan Nusahulawano. Ada yang masih sekolah chef di Jerman juga,” ungkap Joan, kepada Beritabeta.com, Selasa (30/10/2018)

Joan mendesain pakaian-pakaian tersebut dengan begitu indah, sehingga terlihat anggun dan serasi ketika digunakan.

“Ini pakaian adat Maluku. Ada yg asli tapi ada juga yang saya modifikasi, supaya lebih menarik. Seperti baju cele yang biasanya merah kotak-kotak putih. Saya buat pakai renda bunga-bunga sekeliling leher, tangan dan badan. Selain itu warnanya juga bukan hanya merah putih, tapi ada hijau putih, biru putih dan ungu putih,” jelasnya.

Pada karyanya itu Joan membuat semuanya terlihat menarik. Ada motif pala dan cengkeh, serta motif-motif khas Maluku, seperti Nunusaku secara khusus di design dan ditampilkan dalam kain tenun dan bordiran. Ditabur payet/mote-mote dan batu-batuan serta mutiara.

“Sehingga keindahan Maluku terpancar dari seluruh penampilan busana yang sangat indah,” ucapnya bangga.

Kegiatan itu merupakan suatu moment yang istimewa bagi Joan. Pasalnya sekian lama mendampingi suami sebagai pejabat daerah, ternyata dirinya masih mampu mendesain busana dan dapat di peragakan di luar negeri.

“Baju-baju itu beta buat khusus untuk acara 60 tahun Perkumpulan Nusahulawano di Belanda,” katanya.

Tentunya menjalani sebuah proses sebagai desainer tidaklah mudah. Konsep Nusahulawano itu dihadirkan Joan sebagai wujud kecintaannya terhadap pakaian tradisional Maluku.

“Jadi dalam pergelaran ini karena kecintaan akan tradisi, adat istiadat tanah air. Dengan budaya dan tradisinya yang indah, agung dan juga sakral,” ucap Joan di ujung  telefonnya.

“Tujuannya supaya masyarakat Maluku (anak cucu) tidak lupa asal usulnya. Membangun kesadaran adat istiadat sendiri di tanah rantau. Diharapkan cinta dan rasa memiliki akan negeri asal mereka bisa lebih meningkat,” harapnya.(BB/EPH)