Ilustrasi pembunuhan prempuan
Ilustrasi pembunuhan prempuan

BERITABETA, Jakarta – Lebih dari setengah perempuan korban pembunuhan di seluruh dunia pada tahun 2017,  dibunuh oleh keluarga atau pasangannya sendiri.

Demikian dilaporkan dalam sebuah penelitian yang dirilis kantor Kejahatan dan Obat Terlarang PBB (UNODC). Dalam laporan itu disebutkan setiap jam ada enam perempuan yang dibunuh oleh seseorang yang mereka kenal.

Penelitian pembunuhan perempuan dan gadis yang disebabkan ketidaksetaraan gender itu menjadi bagian Global Study on Homicide (Penelitian Pembunuhan Global) PBB. Hasil penelitian itu dirilis pada Hari Internasional Menghapus Kekerasan terhadap Perempuan yang digagas PBB.

Penelitian itu menemukan sebanyak 87 ribu perempuan dibunuh pada 2017 lalu. Sekitar 58 persen atau 50 ribu di antaranya dibunuh pasangan atau anggota keluargannya. Direktur Kebijakan Publik dan Advokasi Future without Violance Kiersten Stewart mengatakan angka itu tidak mengejutkan.

“Penelitian ini menguatkan apa yang telah kami ketahui sejak lama, bagi perempuan, suami, pacar, dan anggota keluarga menjadi orang-orang yang paling membahayakan nyawa mereka dan kebanyakan berniat melukai atau membunuh mereka,” kata Stewart, seperti dilansir dari CBS, Selasa (27/11).

Futures without Violance adalah kelompok advokasi anti-kekerasan terhadap perempuan. Angka itu menunjukkan adanya kenaikan pada penelitian yang sama pada 2012.

Penelitian Pembunuhan Global 2012 menyatakan ada sebanyak 48 ribu perempuan yang dibunuh pasangan atau anggota keluarga yang ia kenali, sekitar 47 persen dari total keseluruhan pembunuhan pada perempuan tahun itu.

Penelitian itu menemukan perempuan di Afrika dan benua Amerika yang paling berisiko dibunuh pasangan atau keluarga mereka. Pembunuhan biasanya tidak terjadi secara acak atau tiba-tiba, tapi karena kekerasan domestik jangka panjang. Masalah yang berlangsung sejak lama itu belum ada solusinya.

“Tidak ada kemajuan nyata dalam melindungi dan menyelamatkan perempuan korban kekerasan/pembunuhan yang dilakukan pasangan atau keluarga mereka beberapa tahun terakhir ini meski undang-undang dan program dikembangkan untuk mengurangi tindak kekerasan kepada perempuan,” kata laporan tersebut.

Stewart mengatakan ketika membicarakan solusi, pemerintah dan masyarakat harus fokus dalam program pencegahan, memberi pelayanan kepada korban dan menghukum pelaku. Stewart mengatakan untuk mengatasi persoalan itu setiap tempat memiliki tantangannya sendiri.

Di Amerika Serikat (AS) misalnya, tantangan melindungi perempuan dari kekerasan terjegal dengan undang-undang kepemilikan senjata api. Kesulitannya menjauhkan senjata api dari pelaku kekerasan. Menurut organisasi Everytown for Gun Safety, perempuan-perempuan AS 16 kali lebih rentan menjadi korban penembakan dibandingkan perempuan di negara-negara maju lainnya.

Everytown for Gun Safety juga menyatakan rata-rata setiap bulannya 50 perempuan AS ditembak dan dibunuh pasangannya sendiri. Situasi kekerasan domestik dengan senjata api membuat perempuan AS lima kali lebih rentan dibunuh.

Hukum federal AS sudah melarang mantan pelaku kekerasan domestik membeli atau memiliki senjata api. Tapi Everytown for Gun Safety mengatakan celah berbahaya masih ada dan mereka meminta pemerintah untuk memastikan para pelaku yang pernah melakukan kekerasan domestik menyerahkan senjata api mereka.

Stewart mengatakan dibutuhkan pemecahan masalah sampai akarnya untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia dan AS. Akar-akar masalahnya yaitu ketidaksetaraan gender dan norma-norma sosial yang mendorong laki-laki melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan.

“Intinya mengakhiri kekerasan kepada perempuan mengubah perilaku laki-laki, itu yang harus diambil — menentang norma yang mendorong banyak laki-laki muda melakukan kekerasan dan berpikir itu bagian untuk menjadi laki-laki,” kata Stewart.   (BB-DIO-ROL)