Perhelatan sidang ke-38 Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) yang berlangsung sejak tanggap 7 Februari 2021
Perhelatan sidang ke-38 Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) yang berlangsung sejak tanggap 7 Februari 2021

BERITABETA.COM, Ambon –  Dinamika dalam perhelatan Sidang ke-38, Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) yang berlangsung sejak tanggap 7 Februari 2021, masih  terus bergulir dengan membahas pergumulan-pergumulan di GPM.

Namun sejumlah tokoh perempuan yang juga merupakan warga GPM, kini menaruh atensi yang tinggi agar sidang ke-38 ini dapat mendorong kaum perempuan untuk masuk dalam Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, periode 2021-2025.

Harapan ini disampaikan Pdt Atje Soukotta kepada wartawan beritabeta.com di Ambon, Senin malam (15/2/2021).

Soukotta mengatakan, saat ini  bahasan dalam siding masih tentang pergumulan dan memprediksikan arah dan gerak pelayanannya di Maluku dan Maluku Utara.

Tentu, banyak hal yang dipercakapkan baik mengenai persoalan-persoalan keumatan, pelayan dan kelembagaan.

“Semua menginginkan GPM kedepan tetap dan terus bergerak dengan melibatkan semua komponen, menjadi gereja yang inklusif bagi semua kelompok, termasuk kelompok perempuan,” ungkapnya.

Peluang ini, kata dia, sangat terlihat dengan jelas dengan partisipasi aktif perempuan dalam persidangan ke-38 Sinode GPM tahun ini.

Menurutnya, GPM masih bergumul dengan persoalan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan seksual, masalah spiritualitas, moral dan etik yang butuh didekati secara serius.

“Persoalan-persoalan ini semakin kompleks dan trendnya bertambah,” bebernya.

Ia mengatakan, selama ini gereja telah serius menyikapi hal ini dengan melibatkan seluruh potensinya, namun butuh kerja dan gerak bersama yang lebih gigih lagi. Pengalamanya sebagai perempuan menunjukkan bahwa  GPM membutuhkan ‘hati perempuan’.

Untuk itu, ia berharap agar di sidang ke-38 ini dapat mendorong perempuan untuk masuk dalam MPH GPM.

“Nilai-nilai dasar bergereja ini bukan saja menekankan pada aspek keadilan, kejujuran dan kebenaran, tapi penting juga meletakan aspek kesetaraan,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Penatua Din Siaila. Ia menilai masalah di gereja saat ini sangat banyak dan pergumulannya tidak mudah.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus bekerja bersama, baik di tingkat Sinode, Klasis maupun jemaat-jemaat,” urainya.

Atas daar itu, dirinya mengatakan sejogyanya kepemimpinan gereja merupakan kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan kesediaan untuk melayani.

“Gereja butuh gaya kepemimpinan yang berjuang untuk membela kehidupan. Dan gaya kepemimpinan ini lebih dimungkinkan dapat dilakoni oleh perempuan yang tentunya bersama-sama dengan laki-laki,” tandasnya.

Sementara itu,  Penatua Dr. Renny Nendissa, yang menjadi utusan dari Klasis Pulau Ambon Timur berpendapat keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan gereja  itu adalah bagian dari hak asasi dan hak konstitusional sebagai warga Negara.

“Gereja ada di dalam negara yang harus juga mengimplementasikan aturan negara tanpa mengabaikan nilai- nilai Alkitabiah dan ajaran gereja,” ulasnya.

Dikatakan, sejak awal gereja mengakui perempuan sebagai anggota GPM dan bahkan membentuk kelembagaan perempuan (baca: Wadah Pelayanan Perempuan/ Mitra).

“Itu berarti, gereja telah sadar dalam meletakan suatu dasar yang baik sehingga dengan melibatkan perempuan dalam kepemimpinan bersama di gereja ini kita juga sesungguhnya gereja sedang mengejawantahkan dirinya sebagai tubuh Kristus yang sejati,” ungkapnya.

Komitmen perempuan untuk menjadi kekuatan penyeimbang dalam kepemimpinan MPH Sinode periode 2021-2025 juga disambut baik oleh beberapa pimpinan klasis.

Ketua Klasis Pulau Ambon, Pdt Riko Rikumahu, malah menantang perempuan untuk mengambil peran sebagai Ketua Sinode dan bukan wakil dan anggota.

Sedangkan menurut Ketua klasis Leti, Moa, Lakor (Lemola), Pdt Melki Timisela kepemimpinan perempuan di gereja ini berlangsung karena perempuan punya kapasitas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pelayanan dan penataan kelembagaan pelayanan. jadi bukan karena perempuannya saja, tapi karena punya kapasitas juga.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Klasis Damer, Pdt. Roby Mamuli. Ia menilai perempuan GPM yang mau jadi pemimpin di gereja juga bisa. Ada perempuan yang punya pengalaman memimpin di klasis-klasis.

“Jika gereja ini mau berkembang mesti membuka ruang bagi perempuan dalam kepemimpinan ini, karena perempuan itu lebih setia, lebih bijaksana dalam menyelesaikan masalah, lebih telaten dalam melakukan tugas-tugas, jadi ini saatnya GPM memilih perempuan sebagai nahkoda di gereja ini,” tandasnya (BB-DIO)