Oleh: Umar Santi

 

Ketika mendengar nama Dokter Hassan Tan, tentu merupakan nama asing untuk sebagian orang. Namun, Dokter Hassan Tan pernah menjadi sorotan media internasional, ketika pada tahun 1977 bersama Nyonya Josina Soumokil—Isteri Almarhum Dr. Chris Soumokil menjadi mediator antara aktivis Republik Maluku Selatan dengan aparat di Belanda dalam peristiwa De Punt, pembajakan kereta.

Dokter Hassan Tan  merupakan figur yang dekat dengan kalangan aktivis Republik Maluku Selatan di Belanda selama berpraktek sebagai dokter, terutama di wilayah Assen dan Vaasen. Dokter Hassan Tan sangat peduli dengan pelayanan kesehatan bagi orang Maluku, rendah hati, jujur dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Untuk itu, tidak heran kalau Dokter Tan sangat dihormati orang Maluku di Belanda, baik dari kalangan Kristen maupun Muslim.

Dokter Hassan Tan merupakan buah hati dari Saleh Tan dan Saadiah (dari keluarga besar Basalama di Ambon). Saleh Tan merupakan pedagang di Kota Ambon, yang memiliki Toko Kelontong dan grosir ikan.

Dokter Hassan Tan yang lahir di Ambon pada 20 Mei 1921 memiliki kakak laki-laki Aly Tan dan tiga saudara perempuan. Hassan Tan menghabiskan masa anak-anak di Kota Ambon dengan berbagai kegiatan seperti olahraga pencak silat dan menekuni ajaran Agama Islam di Waihaong-Silale. Namun, Hassan Tan memperoleh pendidikan Eropa  melalui sekolah Europese Lagere School yang terletak di dekat Jembatan Waitommu, Ambon. Hassan Tan sekolah bersama anak-anak Belanda, anak pegawai pribumi, anak raja dan beberapa anak dari keturunan Arab dan  China di Ambon.

Dengan pendidikan yang baik dan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama, tidak heran kalau Hassan Tan dalam usia sekitar 19 tahun sudah dipercayakan menjadi Imam saat bersembayang di Mesjid.

Setelah menempuh pendidikan di Ambon, pada tahun 1946, Hassan Tan muda berangkat ke Belanda untuk belajar kedokteran di Universitas Leiden. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dan menetap di Assen sebagai dokter umum. Dokter Hassan Tan merupakan mahasiswa program Malino.

Selama menjalani mahasiswa kedokteran di Universitas Leiden, Hassan Tan merupakan aktivis Islam. Selain itu, Hassan Tan dan kawan-kawan yang merupakan mahasiswa Malino sudah aktif dalam kegiatan politik. Kelompok mahasiswa ini membantu dr. J.P. Nikijuluw, Wakil  resmi RMS mendirikan Bureau Zuid-Molukken/Biro Maluku Selatan untuk mendukung RMS.

Pada tahun 1951, ketika ketika rombongan Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dan keluarga tiba di Belanda, mereka mengalami masalah. Kelompok mahasiswa Malino ini terpanggil dan merasa berkewajiban untuk menolong saudara-saudaranya. Dokter JJ. De Lima bekerja sebagai.dokter selama 12 tahun di Kamp Lunetten-Vught, Dokter Hasan Tan dan Dokter G.J. da Costa bekerja di Kamp Schattenberg.

Dokter Hassan Tan melayani sebagai dokter bagi orang Maluku di pengasingan, sejak tahun 1953, yakni di Kamp Schattenberg dan kemudian di lingkungan Maluku di Assen, Provinsi Drenthe 1967 sampai dengan tahun 1993.

Selain aktif dalam pelayanan kesehatan, Dokter Hassan Tan juga menjabat sebagai Menteri dalam kabinet RMS di pengasingan dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1973. Dokter Hassan Tan juga sangat aktif dan fokus melakukan pengkaderan dan mendorong pemuda potensial untuk masuk dalam kabinet RMS di pengasingan. Selama menjadi anggota Kabinet, Dokter Hassan Tan juga aktif melakukan lobi di Jenewa.

Namun, dalam menjalankan pemerintahan ada perbedaan pendapat antara Dokter Hassan Tan dan Presiden RMS di pengasingan, Ir. A.J. Manusama. Hal itu menyebabkan Hassan Tan mundur dari kabinet dan tetap fokus menjalankan praktek dokter paru-paru di Belanda. Dokter Hassan Tan digantikan Frans Tutuhatunewa dalam kabinet.

Walaupun Dokter Hassan Tan sudah bukan anggota kabinet, tetapi Dokter Tan merupakan figur yang dihargai di lingkungan Maluku Selatan. Hal itu tidak lepas dari pelayanannya di Vaassen dan Assen. Dokter. Hassan Tan juga aktif di organisasi Ambonese Studenfonds di Belanda.

Ketokohan Dokter Hassan Tan dalam komunitas Maluku di Assen dan Vaassen itu terlihat dalam peristiwa di Wijster (1975), De Punt (1977) dan Assen (1978), dimana Dokter Hassan Tan bertindak sebagai mediator (juru runding) bersama dengan Johan Manusama, Pendeta Samuel Metiarij dan Josina Soumokil-Taniwel, janda Chris Soumokil dan tokoh Maluku lainnya.

Hassan Tan (Ambon, 20 Mei 1921) adalah mantan dokter umum Belanda dalam komunitas Maluku di Assen dan Vaassen. Selama kampanye Maluku di Wijster (1975), De Punt (1977) dan Assen (1978), ia bertindak sebagai mediator, dengan Johan Manusama, Pendeta Samuël Metiarij dan Josina Soumokil-Taniwel, janda Chris Soumokil, dan lainnya.

Dalam peristiwa di De Punt pada tahun 1977, misalnya, The New York Times melaporkan, setelah beberapa hari melakukan negosiasi disepakati Nyonya Soumokil dan Dokter Hassan Tan sebagai juru runding (mediator). Keduanya sangat dihargai di antara 40.000 orang Maluku Selatan di Belanda. Nyonya Soumokil adalah janda dari Dr. Soumokil, seorang pemimpin nasionalis Maluku Selatan. Dr. Tan adalah seorang dokter yang sebelumnya berpraktik di Assen.

Begitu juga pada akhir tahun 1975, Nyonya Soumokil dipanggil pemerintah Belanda untuk membantu menyelesaikan situasi penyanderaan selama pembajakan kereta api di Beilen. Bersama menteri pendidikan di kabinet pengasingan Republik Maluku Selatan (RMS), mereka berhasil mengatasi masalah pembajakan kereta api.

Penulis sendiri mengenai figur Dokter Hassan Tan sejak remaja. Dokter Tan merupakan figur yang sederhana dan tidak kenal lelah memberikan pelayanan kesehatan  bagi orang Maluku di kamp. Dengan karakter yang rendah hati dan selalu mengulurkan tangan membantu orang Maluku.

Tapi, penulis mengenal secara pribadi dokter Tan pada tahun 1972, ketika Ibunda Dokter Tan, Nyonya Saadiah meninggal dunia. Dokter Tan tinggal di wilayah Assen, sedangkan keluarga penulis tinggal di Waalwijk (wilayah dimana mayoritas orang Maluku Muslim tinggal). Karena tidak ada pemakaman muslim di Assen, maka Dokter Tan mempercayakan Ibunda Penulis, Hj Masaat Santi untuk memandikan jenazah Nyonya Saadiah sebelum dimakamkan di pekuburan Islam di Waalwijk.

Pada periode tahun 1980-an, Dokter Hassan Tan dipercayai pemerintah Belanda untuk mengisi siaran radio rohani Islam di Belanda. Dokter Hassan Tan umroh pada tahun 1970 dan naik haji pada tahun 1990. Hasan Tan menikah dengan  perempuan Belanda, Flora Johanna Van der Nol. Dari perkawinan itu, memiliki dua orang putra, Iskandar Tan dan Fuad Tan. (***)

/Penulis, Umar Santi, Maluku Muslim tinggal di Belanda