Aktivitas pelajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs)  Waitihissa, Negeri Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat,  Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Lantai kelasnya tanpa tanah dengan kondisi seadanya (FOTO: FANDI AHMAD)
Aktivitas pelajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Waitihissa, Negeri Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Lantai kelasnya tanpa tanah dengan kondisi seadanya (FOTO: FANDI AHMAD)

BERITABETA.COM, Masohi – Satu lagi kondisi bangunan sekolah yang terlihat memprihatinkan di Provinsi Maluku, seakan menjadi kado special di perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-74.    

Keberadaan bangunan Madrasah Tsanawiyah (MTs)  Waitihissa, Negeri Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat,  Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), menjadi kontras dengan tema Kemerdekaan RI 2019 yang diusung Sekretaris Negara (Setneg) RI yang mengedepankan slogan ‘SDM Unggul Indonesia Maju’.

Kondisi bangunan sekolah ini,  belum pernah tersentuh bantuan dari pihak pemerintah sejak dibangun tahun 2014 silam. Bangunan MTs ini dibangun di atas tanah yang  dihibahkan  oleh masyarakat setempat seluas 0,5 heaktar.  Namun, kini kondisinya sangat tragis.

Padahal, tagline ‘SDM Unggul Indonesia Maju” itu menggambarkan visi pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun apa jadinya, seluruh ruang kelas belajar (RKB) MTs ini, hanya berlantai tanah liat, berdinding papan serta beratapkan daun sagu ini.

Ada Madona di MTs Waitihissa. Sekolah ini juga menampung satu siswa non muslim yang duduk di kelas delapan bernama Madona Serly (lingkaran merah)  

Apesnya,  bangunan itu sudah mengalami kerusakan yang parah. Atapnya sudah rusak, sehingga  pelajar bisa melihat tembus ke langit. Di musim hujan siswa/siswinya terpaksa harus terganggu aktivitas belajarnya.

Informasi yang dihimpun beritabeta.com menyebutkan, selain  tanah seluas 0,5 hektar  yang dihibah  masyarakat setempat, di MTS ini juga terdapat sembilan tenaga pengajar (guru) yang masih berstatus honorer.

MTs ini menampung sebanyak 30 siswa, mulai dari kelas 7 sampai 9. Berapa gaji para guru honorer itu?  Mereka mengaku hanya menerima gaji per bulan sebesar Rp. 100.000.

“Iya sebulan hanya dapat Rp. 100.000 karena memang hanya sebesar itu,” ungkap salah satu guru honorer yang enggan namanya dipublikasikan kepada media ini, Sabtu (17/8/2019).

Selain kondisi bangunan yang memprihatinkan dan tenaga guru bekerja sukarela, ada juga hal unik yang dimiliki MTs  Waitihissa ini.  Sekolah ini juga menampung satu siswa non muslim yang duduk di kelas delapan bernama Madona Serly.  Kakak Madona  juga merupakan lulusan MTs Waitihissa.

Atap bangunan sekolah yang sudah hancur

“Sebelumnya kaka Madona juga sekolah disini dam menjadi lulusan di MTs Waitihissa,” kata guru tersebut.

Atas kondisi yang menimpah ini, tenaga guru honorer ini,  berharap kepada pihak terkait, terutama pemerintah,  untuk bisa membantu dalam merenovasi bangunan MTs yang satu-satunya ada Kecamatan Serut Barat ini.

 “Kita hanya bisa berharap pihak terkait bisa membantu kita merenovasi sekolah ini. Dan kalau bisa Pemkab Malteng juga bisa turut campur tangan untuk masalah ini,  apalagi MTs ini juga merupakan yang pertama di Kecamata Serut Barat,” harapnya.

Sementara Kepala MTs Waitihissa, Yanti Elwarin saat dikonfirmasi, juga mengungkapkan hal yang sama. “Iya sekolah kami kondisinya seperti itu, bahkan di sala satu kelas, ada dua murid yang menempati satu meja belajar,” katanya.

Elwarin juga mengatakan, niatnya akan mengajukan proposal untuk dilayangkan kepada Kantor Wilayah Kementrian Agama Maluku, agar  bisa memberikan bantuan kepada MTs yang dipimpinnya.

Bangunan MTs Waitihissa, Negeri Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat,  Kabupaten Maluku Tengah (Malteng)

“Sementara ini kita lagi buat proposal untuk Kementrian. Saat ini bantuannya berbasis online, dan harus masuk melalui Simsarpras,” jelanya.

Ia menambahkan, bangunan MTs yang ada di Indonesia, bukan hanya MTs Waitihissa, ada juga beberapa madrasah yang lokasi bangunannya seperti ini, tapi untuk Maluku bisa dikatakan MTs Waitihissa, kondisinya sangat memprihatinkan.

“Sejak berdidri pada tahun 2014, MTs ini sudah tiga kali meluluskan siswanya. Ahamdulillah meksi kondisi bangunan sekolah kami seperti itu, tapi kami sudah menjadi bagian dari pencetak SDM di daerah ini,” tutupnya (BB-FANDI AHMAD)