Puluhan siswa/siswi SMA Persiapan Tamher Warat, Kecamatan Kesui Watubela, Kabupaten Seram Bagian Timur,  saat mengikuti proses belajar mengajar di ruang kelas yang berdinding gaba-gaba dan berlantai tanah. Gedung sekolah ini sudah roboh tersapu angina (FOTO: Istimewa)
Puluhan siswa/siswi SMA Persiapan Tamher Warat, Kecamatan Kesui Watubela, Kabupaten Seram Bagian Timur, saat mengikuti proses belajar mengajar di ruang kelas yang berdinding gaba-gaba dan berlantai tanah. Gedung sekolah ini sudah roboh tersapu angina (FOTO: Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon – Azwar Anas tak pernah menyangka kisah pengabdiannya menjadi seorang guru di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku akan serumit saat ini.  

Sejak diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di kabupaten berjuluk “Ita Wotu Nusa” ini, Azwar bukan saja menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 2 Januari 1986 ini, bahkan menjadi lokomotif kemajuan pendidikan di tempatnya bertugas.

Berkat kemampuannya meloby, beberapa sekolah yang menjadi tempatnya mengabdi akhirnya mendapat kucuran bantuan berupa pembangunan fasilitas dari Pemerintah Pusat.

Apesnya, saat ini Azwar Anas kebingungan. Tiga ruang bangunan sekolah tempatnya bertugas sudah ambruk.  Satu ruang laboratorium komputer, satu ruang perpustakaan dan 1 ruang belajar SMA Persiapan Tamher Warat, Kecamatan Wakate itu roboh tersapu angin.

“Konstruksi bangunan memang terbuat dari gaba-gaba (dahan pelepa sagu), sehingga tidak mampu menahan sapuan angin,” kata Azwar kepada beritabeta.com, Kamis (24/10/2019).

Azwar dipercaya menjabat kepala sekolah di SMA itu. Azwar yang semata wayang menjadi guru PNS di sekolah itu, harus memutar otak bersama 11 orang tenaga guru honorernya mencari jalan membangun kembali bangunan sekolah yang ambruk.

Tampak dari luar, bangunan SMA Persiapan Tamher Warat (FOTO: ISTIMEWA)

Apalagi SMA Persiapan Tamher Warat saat ini memiliki jumlah siswa/siswi sebanyak 151 orang. Lewat kepemimpinan Azwar Anas, SMA itu merupakan sekolah  prestasi di kecamatan Kesuy Watubela, Kabupaten SBT. Kini kondisi memaksa mereka terpaksa harus menumpang di bangunan SMP 2 Wakate.

Tak mau tinggal diam, Azwar bersama Ketua Komite Sekolah Fataha Idi, mulai bergerak dengan satu motto ‘Lawamena Haulala,’ dengan mencoba membangun kembali bangunan sekolah yang hancur secara swadaya, tapi kembali mandek karena minim anggaran.

Cerita keberadaan SMA Persiapan Tamher Warat ini pun sampai ke telinga salah satu anggota DPRD Maluku asal SBT, M. Fauzan Husni Alkatiri.  Azwar dan Fataha berkisah tentang perjalanan mereka berupaya membangun kembali sekolah yang roboh itu.

“Kami terpaksa harus datang bertemu dengan bapak, mungkin saja keluhan kami ini dapat direspons untuk dicarikan jalan keluarnya,” ungkap Azwar saat bertemu dengan anggota DPRD asal PKS itu.

Menanggapi keluahan yang disampaikan itu, M. Fauzan Husni Alkatiri mengaku prihatin dengan kondisi yang dilaporkan, sebab pendidikan merupakan hal yang paling mendasar yang harus mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

“Ini satu kasus saja, kami khawatir ada kasus yang sama di daerah lainnya,” tandasnya.

Alkatiri juga menyesalkan, kondisi sekolah yang sangat ironis itu, padahal sekolah yang mendapat penghargaan terbaik 2019, ini harus diperhatian oleh pemerintah daerah.

“Bagaimana mungkin ada sekolah berprestasi  tapi bangunan sekolahnya sudah tidak ada. Dimana kerja Dinas Pendidikan selama ini?. Dinas Pendidikan tidak memiliki data yang konprehensif terkait sekolah-sekolah kita di Maluku,” tandasnya kesal.

Olehnya itu, Alkatiri berjanji akan menyuarakan hal ini agar dapat diperhatikan oleh pemrintah daerah, apalagi keberadaan pendidikan di daerah-daerah terjauh itu harus cepat direspon untuk mewujudkan pemerataan di segala bidang.

Guru Abadi yang Visioner

Azwar Anas boleh dikata menjadi salah satu guru abadi di Kabupaten SBT. Sejak diangkat menjadi PNS pada tahun 2009, Azwar tetap bertahan menjadi  warga SBT, padahal sebagian rekannya yang berasal dari Pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya sudah memilih hengkang.

Bangunan SMA Persiapan Tamher Warat yang roboh disapu angin

Guru asal Lamongan ini pertama kali bertugas di SMA 1 Wakate. Dia menjadi guru bidang study bahasa Inggris di SMA 1 Wakate. Pengabdiannya di sekolah itu ikut membawa perubahan bagi pihak sekolah.

Lewat komunikasi yang dibangun dengan jejaringnya, pada 2013, Azwar  berhasil mendatangkan bantuan berupa pembangunan satu ruang laboratorium  kimia dari Pemerintah Pusat. Setahun kemudian tepatnya tahun 2014, kembali SMA 1 Wakate  mendapatkan satu gedung perpustakaan, juga dari Pemerintah Pusat. Pada 2015, bersama sejumlah rekan mereka ikut memperjuangkan proses akreditasi sekolah.

“Alhamdulillah SMA 1 Wakate itu sudah mendapatkan akreditasi. Kemudian pada 2016, sekolah di Kecamatan Kesuy itu mendapatkan lagi bantuan berupa dua ruang kelas belajar dari Pemerintah Pusat,” ungkapya.

Seiring berjalannya  waktu Azwar Anas kemudian pindah ke Tamher Warat, di SMA Persiapan Tamher Warat, kemudian dia dipercaya menjadi Kepala Sekolah.

“Saya datang kesana bertepatan dengan menghadapi ujian nasional saat itu,” urainya.

Hal yang sama juga dilakukan Azwar, pada 2017 ia pun berusaha lewat komunikasi dengan  Pemerintah Pusat,  sekolah yang dipimpinnya mendapatkan bantuan bangunan perpustakaan. Kemudian di tahun 2018 juga mendapatkan satu gedung laboratorium komputer dari Pemerintah Pusat.

Dari tahun ke tahun, usaha-usaha Azwar Anas membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Dan puncaknya pada 2019 ini,  SMA Persiapan Tamher Warat kembali mendapatkan bantuan peralatan Teknologi Informatika (TIK) dari pemerintah pusat.

Bagunan SMA Persiapan Tamher Warat ini didirikan sejak tahun 2011, kala itu aktivitas proses belajar masih menumpang pada bangunan SMP 5 Wakate. Setelah memasuki lima tahun, barulah bangunan SMA Persiapan Tamher Warat mulai dibangun. Tepat pada 2017, melalui swadaya masyarakat dibangunlah tiga ruang belajar di sana.

Kendati bangunan yang dibangun dengan berdinding gaba-gaba, lantai tanah dan beratap daun sagu, namun tidak membuat guru dan para siswa ketinggalan dalam prestasi. Itu dibuktikan dengan didapatkannya akreditasi C pada tahun 2018.

Meskipun dengan kondisi sekolah yang amat memprihatinkan itu. Setiap hari-hari besar apapun selalu dirayakan walau pihak kecamatan dan sekolah lainnya tidak memeriahkan.

Segala aktivitas pengembangan siswa dilakukan, salah satunya Pramuka. Kegiatan ekstra lainnya juga tak ketinggalan, para siswa juga mengikuti kegiatan-kegiatan mewakili kecamatan menyabet juara.

Satu keunggulan lain yang mungkin tak dimiliki sekolah-sekolah di kabupaten SBT, SMA Persiapan Tamher Warat dibawah kepemimpian Azwar Anas pernah melakukan studi banding ke pulau Jawa.

“Ya kami lakukan itu sebagai upaya pengembang kualitas  SMA Persiapan Tamher Warat kedepan,” ungkap Azwar.

Ironisnya,  kondisi bangunan yang tidak memungkinkan, ditambah dengan sulitnya jaringan internet membuat  SMA Persiapan ini masih jauh dari harapan yang diinginkan. Mislanya, saat  Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2019, terpaksa para siswa harus menumpang di SMP 2 Wakate.

“Para guru dan siswa berjalan kaki kurang lebih 4 jam untuk tiba di SMP 2 Wakate untuk melakukan UNBK degan membawa komputer dan peralatan pendukung lainnya,” kata Azwar.

Ia mengakui, hanya dengan kondisi itu, SMA Persiapan Tamher Warat mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain di Maluku. Hingga pada 2 Mei 2019 kemarin, pihak sekolah menerima piagam UNBK Terbaik di pelataran kampus Universitas Pattimura Ambon.

Bangunan Sekolah

Azwar mengakui, pascarobohnya bangunan sekolah yang dipimpinnya itu, hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah, baik kabupaten, provinsi maupun pusat untuk dibangun kembali.

Untuk itu, dirinya terpaksa menjejaki swadaya kembali. Sekolah itu mulai dibangun. Apa boleh buat, terkendala pada biaya akhirnya pembangunan kembali mandek.

Bukan saja soal bangunan, guru-guru honor ini kebanyakan mereka juga bertugas di SMP 2 Wakate, sehingga pada waktu pagi mereka mengajar, siangnya lanjut mengajar pada SMA Persiapan Tamher Warat.

“Mereka dibayar Rp. 500.000 per bulan oleh pihak sekolah. Itupun disesuaikan dengan ketersediaan biaya, terkadang mereka terlambat menerima upah,” paparnya. (BB-Aziz Aljubaidy)